::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Makam Panglima Tertinggi Perang Diponegara di Klaten


NU Klaten – Pangeran Diponegara mengadopsi ala Militer Turki dalam Perang Jawa. Ada beberapa kepangkatan militer ala Turki yang dipakai oleh Diponegara di dalam Perang Jawa. Tertinggi Ali Basah, lalu dibawahnya ada Basah, dibawahnya ada Dullah, dibawahnya ada Agadullah dan terakhir ada Seh. Namun Seh di sini lebih merupakan pangkat kemiliteran, bukan gelar keagamaan.

Tercatat hanya ada beberapa orang yang menyandang kepangkatan Ali Basah. Pertama adalah Ali Basah Abdul Kamil yang gugur, lalu digantikan saudaranya yaitu Ali Basah Abdullah Mustofa Sentot Prawirodirjo. 

Selain itu, juga ada Ali Basah lagi, yaitu Ali Basah Abdul Latif Kerto Pengalasan. Ali Basah Haji Ngabdullatip (Abdul Latif) Kerto Pengalasan, salah seorang panglima Diponegoro yang terpercaya selama berlangsung Perang Jawa di Bagelen.

Raden Panji Joyosuprojo, seorang pensiunan Wedana dari Magetan, di lereng timur Gunung Lawu, disebut sebagai penulis. Joyosuprojo, anak mantan Bupati Ponorogo (Louw dan De Klerck 1894-190 9,VI: 375), tampaknya pernah dipenjarakan di Semarang akibat suatu pelanggaran terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang tidak diketahui. Di sanalah ia bertemu dengan Ali Basah Ngabdullatip Kerto Pengalasan yang menceritakan sejarah ini kepada dia. Pasca-Perang Jawa, diketahui Pengalasan telah pergi ke Semarang dan menetap di sana.

Tampaknya Pengalasan masih tetap tinggal di Semarang pada bulan Maret 1856, sewaktu sejarawan Belanda, Jan Hageman, menyusun buku tentang Perang Jawa (Hageman 1856: 412-413), dan pada dasawarsa 1860-an ia sering disebut sebagai salah seorang murid syeh tarekat Naqsabandiyah di Pulau Pinang (Tanah Melayu), dan sewaktu-waktu datang ke sana dengan kapal layar dari Semarang. Rupanya sang panglima Diponegoro ini, yang gemar ajaran Sufi Islam dan bermukim hampir 40 tahun di kota pelabuhan itu, mewariskan nama kepada sebuah kampung dekat Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda), Kampung Basahan, yang sekarang telah musnah (Eko Priliawito dan Dwi Royanto, 2015)

Dalam suatu laporan Belanda yang dibuat selama berlangsung Perang Jawa, Pengalasan atau nama lengkapnya Ali Basah Haji Ngabdullatip (Abdul Latif) Kerto Pengalasan dikatakan sebagai orang yang sebelum perang menjabat Demang di Desa Tanjung Selatan, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo dengan nama Kromowijoyo. Laporan Belanda yang lain menyatakan, ia bertugas di Wates pasca 1952 ibukota Kulon Progo saat ini. 

Namun ada menurut Roni Sodewo, seorang Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegara menyebutkan bahwa sebelum bernama Kerto Pengalasan bernama Demang Pajang. Kata Pajang menunjuk kepada bekas Kraton Pajang milik Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir di dekat Kartasura dan Surakarta. Kerto Pengalasan merupakan orang-orang pertama yang telah ikut mempertahankan Tegalrejo dari serangan Belanda dan Patih Danurejo IV. Karena pernah diceritakan sebelum kejadian di Tegalrejo, Pangeran Diponegara mendeklarasikan perang di Majastho, tanah kelahiran ibunya yang relatif dekat dengan Pajang lalu menyusun strategi perang di Tembayat atau Bayat.

Dalam babadnya, Diponegoro sendiri menyebutkan Pengalasan sebagai seorang ‘Raden’, yang memberikan petunjuk bahwa ia bukanlah seorang bangsawan yang tingkatnya tidak terlalu tinggi. Namun pernyataan Diponegoro ini dibantah oleh sejarawan Belanda, Jan Hageman (1817-1871), yang menyebutkan Basah sebagai seorang “cucu” Sultan Hamengkubuwono II (bertakhta 1798-1810/ 1811-1812/ 1826-1828) (Hageman 1856: 82). Jika memang demikian, ia berhak bergelar ‘Raden Mas’ jika bukan ‘Bendoro Raden Mas’.

Babad Keraton Yogyakarta mengatakan, Pengalasan telah menggabungkan dirinya, bersama dengan para pejabat lainnya dan orang-orang berdarah biru dari Keraton Yogya, dengan Diponegoro ketika Pangeran masih ada di Tegalrejo sebelum perang. Pada saat itu dimulai dengan pertemuan rahasia di kediaman Pangeran pada 29 Oktober 1824 (Carey 20 12:695), mereka mulai merencanakan pemberontakan dan pengangkatan Diponegoro sebagai seorang Ratu Adil dengan gelar Sultan Erucokro pada 1 Sura tahun Jawa 1753 (15 Agustus 1825). Dan pastilah Pengalasan telah berada di Selarong pada akhir Juli 1825. Dalam tiga laporan Babad ia dikatakan menerima perintah di sana sewaktu ditunjuk oleh Diponegoro sebagai seorang ‘bupati muda’ (bupati nenem punika).

Pada awal dasawarsa 1860-an, nama Pengalasan yang disebut dengan gelar “Rahadin Bashah Kerto Pengalasan” dan belakangan (28 Mei 1865), setelah menunaikan ibadah haji, sebagai “Haji Abdul Latif” tersua di buku harian seorang Syeh tarekat Naqsabandiyah di Pulau Pinang. Pada 11 Desember 1863, Pengalasan disebut sebagai pengirim surat kepada sang Syeh guna menitipkan keris-keris pusaka untuk dijual (mungkin Pengalasan perlu uang untuk naik haji), dan sembilan bulan kemudian (23 September 1864) ia dikatakan sebagai orang yang telah melunasi utang sebesar delapan belas ringgit dengan bunga dua ringgit pada mursyid tarekat itu setelah ia berlabuh di Pulau Pinang dengan kapal yang dinakhodai seorang keturunan Arab Hadrami, Ṣaleḥ Bā Darab (18 September 1864). 

Catatan terakhir di buku harian guru tarekat itu adalah setelah Pengalasan menunaikan ibadah haji. Waktu itu ia dicatat pulang dengan gelar “Haji Abdul Latif” dan dilaporkan sedang berlayar ke Singapura dari Pulau Pinang dengan “perahu sekunar Cina” hendak menyeberang ke Jawa setelah membayar dua setengah ringgit untuk “makan nasi atas juragan [kapal]” (28 Mei 1865).

Kisah Ali Basah Abdul Latif Kerto Pengalasan dibahas khusus oleh Peter Carey di dalam bukunya yang berjudul Sisi Lain Diponegara. Di mana buku itu melakukan pembanding sejarah Diponegara berdasarkan catatan Belanda, Babad dari Mangkunegaran Surakarta, Babad dari Kasunanan Surakarta, Babad dari Kasultanan Yogyakarta dan Babad Kedung Kebo. Babad Kedung Kebo ini disebut-sebut dibuat oleh Bupati Tjokronegara I dari Purworejo, yang entah secara langsung atau tidak langsung, juga melakukan wawancara kepada Ali Basah Abdul Latif Kerto Pengalasan. 

Dari cerita keluarga, Ali Basah Abdul Latif Kerto Pengalasan dimakamkan di Makam Dukuh Demangan, Kajoran, Klaten Selatan. Beliau di masyarakat lebih banyak dikenal Demang Kerto Pengalasan. (Min)



Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Makam Panglima Tertinggi Perang Diponegara di Klaten "

Back To Top