::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Napak Tilas Jejak Pesanggarahan Diponegara di Tembayat



Lokasi

NU Klaten - Jejak perjuangan Pangeran Diponegara dalam melawan penjajah dan penjajahan sampai di tempat yang dibernama Tembajat (dalam ejaan Belanda) atau Tembayat. Ki Roni Sodewo, Ketua Paguyuban Trah/Keluarga Pangeran Diponegara bersama LTN NU Klaten, MWC NU Bayat, Pemerintah Desa Melikan, Pencak Silat NU Pagar Nusa Klaten, PAC GP Ansor Bayat, bersama masyarakat melacak keberadaan Tanah Tembajat yang pernah menjadi petilasan Pangeran Diponegara. Pangeran Diponegara pernah mesanggrah di tahun 1926 Masehi.

Pencarian dilakukan sejak Sabtu tanggal 5 Okober sampai 6 Oktober 2019 di sekitaran Makam Sunan Pandanaran. PAC PSNU Pagar Nusa Bayat menjadi base camp dalam melacak keberadaannya. Pelacakan makam didasarkan kepada: tutur masyarakat sekitar, catatan kuno, dan peta lama buatan Belanda. 

Lokasi

Tutur masyarakat sekitar lebih ditekankan kepada dongeng, kisah, cerita turun temurun secara lisan yang dituturkan kepada anak keturunan kepada anak cucu jika di pernah ada kejadian yang berhubungan dengan Pangeran Diponegara. 

Tim bersama Pemdes Melikan

Catatan kuno ini ditekankan kepada tulisan lama yang memuat kisah perjalanan Pangeran Diponegara. Dalam kesempatan ini, Ki Roni Sodewo memakai Babad Diponegara sebagai acuannya, karena dalam babad inilah, Pangeran Diponegara menulis jika pernah membuat pesanggrahan (tempat tinggal sementara) di Tembajat. 

Perlu diketahui bahwa babad/catatan tentang Perang Diponegara itu sangat banyak. Pangeran Diponegara sendiri mulai menulis kisahnya (autobiografi) saat beliau ditahan di Manado. Autobiografi ini kemudian disebut Babad Diponegara. Lalu ada Babad Kedung Kebo dari Purworejo, Babad dari Kraton Surakarta dan lain-lain termasuk catatan-catatan administasi baik militer maupun sipil Belanda. Karena Perang Diponegara itu Perang Besar Jawa Terakhir, yang mengurasi tenaga, harta bahkan mengorbankan banyak nyawa maka wajib dicatat. Setelah itu sudah tidak ada lagi perang besar lagi di Jawa, baru ada perang besar lagi saat Perang 10 November Surabaya. Perang 10 November Surabaya itu disebabkan atas Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy'ari, Resolusi Jihad ini ini pula yang menggerakkan eks-laskar Diponegara untuk kembali berperang.

Lokasi

Belanda sangat detail dan lengkap memetakan Tanah Jawa dan Indonesia pada umumnya. Setiap beberapa tahun sekali Belanda memperbaharui peta-peta kuno itu, sehingga keakuratannya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Di dalam peta-peta Belanda sangat detail menuliskan letak lori, gudang, jembatan, masjid kuno, makam kuno, benteng, tambang/mineral, bekas perang, dan sebagainya. Kepentingan Belanda membuat peta-peta itu secara detail karena untuk mengetahui segala potensi dan kekurangan di suatu wilayah, untuk kepentingan politik dan ekonomi Belanda. Maka peta-peta itu harus dibuat selengkap, sedetail dan seobjektif mungkin.

Tim kemudian menuju sebuat bekas Makam Istri Tumenggung Prawirodigdoyo, di Dukuh Sumber, Desa Melikan, Kecamatan Wedi yang tepatnya selatan jalan kompleks Makam Sunan Pandanaran. Tumenggung Prawirodigdoyo adalah satu satu pengikut Pangeran Diponegara. Makamnya baru ditemukan lebih dari 1,5 abad pasca Perang Diponegara.

"Baru sekitar empat tahun lalu makam Tumenggung Prawirodigdoyo ditemukan."  kata Saryono selaku Trah Tumenggung Prawirodigdoyo dan Kasi Pemerintahan Desa Melikan, Wedi, Klaten.

Tim Napak Tilas

Dari bekas makam Istri Tumenggung Prawirodigdoyo dilanjutkan perjalanan ke arah timur, karena ada pemakaman umum. Berdasarkan ciri-cirinya, sebelah selatan Makam Dukuh Sumber inilah dipastikan pesanggrahan Pangeran Diponegara, di tanah pekarangan Keluarga Trah Tumenggung Prawirodigdoyo. 

Ki Roni Sodewo menyebutkan bahwa ciri-ciri pesanggrahannya itu:
  1. Selalu di dekat sumber air, karena Diponegara adalah seorang Muslim maka beliau membutuhkan air untuk bersuci dan kebutuhan hidup pasukannya. Di lokasi itu merupakan pinggir dari Sungai Dengkeng
  2. Selalu ada masjid atau musholla, karena Diponegara adalah seorang Muslim maka membutuhkan masjid/musholla untuk beribadah kepada Allah. Di lokasi itu ada bekas masjid/musholla.
  3. Setiap bekas yang berhubungan dengan Diponegara selalu ada pohon kemuning, yang bermakna ngemu-ening. Di sana banyak pohon kemuning.
  4. Dekat dengan puncak bukit untuk memantau pergerakan musuh dari atas. Di sana dekat dekat puncak gunung di sebelah utara.
  5. Ada makam, karena jika ada pasukan Diponegara gugur maka jenazahnya dibawa pulang ke pesanggrahan dan dimakamkan di dekat pesanggarahan.


Inilah sekilas Napak Tilas Diponegara di Tembajat, cirinya sama dengan kondisi tanah pekarangan kosong ini. 

Dalam catatan kuno dan peta-peta kuno banyak sekali bekas pesanggarahan, tempat pertempuran yang berhubungan dengan Diponegara. Termasuk benteng stesel buatan Belanda untuk mengalahkan Diponegara. 

Lokasi 

Mengapa di babad tertulis di Tembajat atau Tembayat atau Bayat tetapi kok masuk malah wilayah Desa Melikan yang merupakan Kecamatan Wedi? Karena, telah terjadi perubahan administrasi, sehingga wilayah Bayat saat ini berbeda dengan Bayat saat itu. Kadang yang dahulunya ibu kota kadipaten, saat ini hanya tinggal dukuh kecil. Dahulu dukuh kecil saat ini jadi kota kecamatan. Bahkan tidak jarang ada kota besar yang hilang, misalnya Dekso yang dulu sebuah kota saat ini di KTP tidak ada lagi alamat Dekso. Kadang memori masyarakat telah hilang, masyarakat tidak pernah tahu jika tanah itu pernah jadi pesanggarahan Diponegara, padahal baru sekitar 7 generasi diatas kita, sekitara 200 tahun yang lalu. (Budi/Min)




Tag : Sejarah, Tokoh
0 Komentar untuk "Napak Tilas Jejak Pesanggarahan Diponegara di Tembayat"

Back To Top