::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Semut Ireng Anak-anak Sapi dan Kondisi Saat Ini



Semut ireng Anak anak sapi,
Kebo bongkang anyabarang kali bengawan,
Keong kondhang jarak sungute Timun wuku ron wolu,
Suroboyo geger kepati pati,
Gegere wong ngoyak macan,
Cinandak wadahi bumbung,
Alun-alun kartosuro Gajah meto cinancang wit sidoguri,
Mati cineker pitik trondol.

NU Klaten - Tembang atau mungkin bisa disebut gendhing "Semut Ireng, Anak-anak Sapi" pernah sangat familiar di telinga masyarakat Jawa. Sering kali dianggap tembang dolanan, dan dilantunkan dengan suka cita, namun dibalik itu memuat berjuta ajaran kehidupan warisan Para Leluhur.

Semut ireng Anak-anak sapi
Kebo bongkang anyabarang kali bengawan
Ini adalah bentuk keluarbiasaan, walaupun hanya seekor semut hitam yang mungkin tidak terlihat dalam gelap, memiliki anak-anak yang besar dan bermanfaat, bahkan suci dalam suatu kepercayaan. Ini mengisahkan orang biasa yang mungkin juga tinggal di desa, pelosok dan miskin harta dan kurang pendidikan tetapi bisa menelorkan orang-orang hebat dan terhormat. Ini jika dalam kepercayaan Budaya Jawa, orang tua tidak henti-hentinya berdoa dan tirakat agar anak-anaknya sukses.
Menjadi ciri pembeda dari seorang pemimpin besar adalah semangat kebo bongkang atau kerbau kuat dan pekerja keras yang mempunyai keberanian melewati halang-rintang yang selalu membelenggu yang digambarkan menyeberangi sungai bengawan (sungai besar).

Keong kondhang jarak sungute Timun wuku ron wolu
Suroboyo geger kepati pati
Ini sebuah kiasan nasehat dari si pengarang tembang kepada generasi mendatang agar lebih bisa melihat jauh kedepan jangan hanya seperti keong atau siput biasa yang lambat dan rabun tetapi keong yang berani menjulurkan mata dan melihat sejelas-jelasnya, melihat persoalan dari banyak sudut pandang, mendengar masukan dan nasihat dari orang lain, hingga membuat keputusan yang arif dan bijak. Suroboyo geger kepati pati adalah lambang kehidupan keduniawian yang yang seolah tiada akhir, saling rebut saling sikut, saling serakah saling menyakiti seperti pertempuran antara suro dan boyo yang harus terjadi secara abadi untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. 

Gegere wong ngoyak macan
Cinandak wadahi bumbung
Suksesi pemimpin selalu menimbulkan “horeg", rebut ribut saling adu kuat demi mendapatkan “macan” atau pengajuan raja, namun setelah tercapai keinginannya semua menjadi kehilangan makna. Makna Raja yang seharusnya mengayomi dan memakmurkan rakyatnya selalu disembunyikan, dan terpenjarakan. Pemimpin selalu saja menindas dan lupa jati dirinya, lupa asal usulnya, lupa pada semut ireng asal usulnya.

Alun-alun kartosuro Gajah meto cinancang wit sidoguri
Mati cineker pitik trondol
Yang dilihat dan didengar pemimpin atau penguasa yang lupa asal usulnya adalah hanya “alun-alun” hanya melulu yang ada disekitarnya saja, tidak mendengarkan langsung rakyatnya, kalau rakyatnya teriak susah didengar suka mengeluh, kalau rakyatnya mengusulkan perubahan didengar mengancam kekuasaan dan mengajak perang. 

Gajah meto cinancang wit sidoguri melambangkan tokoh agama, orang pandai, dan pengingat sejarah yang seharusnya selalu ada disisi seorang raja yang sesungguhnya ikut keblinger berebut pengaruh kekuasaan. Mereka yang seharusnya sebagai tempat bertanya, sebagai tempat meminta pertimbangan dari rakyat jelata melupakan tempatnya. Orang pandai ilmu dan pandai agama lebih sibuk mengurusi hal remeh temeh. Hingga rasa percaya rakyat dan pemimpin semakin hilang pada mereka. Hingga rakyat dan pemimpin lebih mendengarkan hasutan dari “ayam trondol” atau perlambangan orang yang suka menghasut, mengadu domba dan bikin ulah namun tidak mau mengakui perbuatan jahatnya.


(disarikan dari berbagai sumber)
Tag : Budaya
0 Komentar untuk "Semut Ireng Anak-anak Sapi dan Kondisi Saat Ini"

Back To Top