::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Refleksi Kemerdekaan, Antara Bonus Demografi dan Merosotnya Nasionalisme Pemuda


oleh: Minardi,
Ketua LTN-PCNU Klaten

NU Klaten - Hari ini, segenap Tumpah Darah Indonesia merayakan dan menghaturkan syukur kepada Allah atas Berkat dan Rahmat Nya Kemerdekaan Indonesia. 17 Agustus serentak baik sekolah, madrasah, pesantren, instansi pemerintahan dan swasta melaksanakan Upacara Bendera dalam memperingati HUT Republik Indonesia ke 74 Tahun. Jalan-jalan, kantor-kantor, rumah-rumah warga dihiasi dengan Sang Saka Merah Putih, umbul-umbul dan atribut suka cita lainnya. Aneka perlombaan baik untuk anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak digelar di kampung-kampung untuk menyemarakkannya.

Indonesia memang secara de facto berdiri sebagai sebuah negara kemarin pada tanggal 17 Agustus 1945 atau tepat 74 tahun lalu. Tetapi, secara bangsa, bangsa Indonesia telah ada jauh sebelum itu. Indonesia termasuk negeri yang tua dengan berbagai sejarah dan peradabannya. Negeri kepulauan yang dicatat oleh pelancong luar negeri, baik dari Eropa, India, China bahkan era Rasulullah SAW dan sahabat. Sejak berdirinya kerajaan tertua yaitu Kutai di Kalimantan Timur, walaupun ada kisah bahwa kerajaan tertua itu Salokanagara di Jawa Barat, sampai kedatangan Eropa di Nusantara. Tidak terhitung kehebatan dan hasil karya yang dihasilkan Leluhur kita, mulai dari sistem penanggalan dan berbintangan, tulisan, bahasa, cara bercocok tanam, teknik bangunan, sampai dunia persenjataan dan perkapalan. Bahkan saat Eropa Timur, Asia Tengah, Kemaharajaan Kekaisaran China, Kekaisaran Jepang, Kerajaan Korea, Timur Tengah, India dan Indo-China diserang dan dihancurkan Mongolia, Leluhur kita di Nusantara berhasil menghancurkan Mongolia dengan cara dan strategi yang cerdik. 

Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2017 menyebutkan bahwa Pada 2030-2040 Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk kaitannya dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja. 


Ada dua jalan untuk menyambut bonus demograsi: Pertama, penguatan rasa nasionalisme dan tekad kebangsaan generasi muda. Di era digital seperti ini, problematika Bangsa dan Negara muncul dengan bervariasi. Mulai dari ideologi negara, radikalisme dan terorisme atas nama agama, separatisme, kenakalan remaja sampai kepada korupsi. Paham-paham radikalisme, terorisme dan separatisme sampai kepada sex bebas disebarkan bukan hanya manual melainkan telah secara digital. Dan negara tidak boleh memblokir layanan media sosial dan akun-akun media sosial, karena itu melanggar HAM, memberangus kebebasan warga negara. Maka, negara harus mulai memikirkan solusi dan strategi jitu untuk menghadapi hal tersebut. Hal ini menunjukkan masih lemahnya pemahaman warga Negara Indonesia tentang Pancasila.

Pancasila dan makna kemerdekaan hanya dihafal dan hanya dibaca saja di buku-buku. Sekedar proyek mengadakan pelatihan atau seminar, setelah itu sudah tidak ada tindak-lanjut. Sasaran pelatihan atau seminar itu hanya segelintir orang saja, padahal di luar situ ada jutaan rakyat Indonesia yang juga harus dipahamkan. Maka tidak boleh kaget jika ada siswa yang tidak mau hormat bendera karena dianggap tidak sesuai dengan agama tertentu, sebagian PNS dan Perguruan Tinggi terjangkit radikalisme, ataupun konten-konten radikalisme dan terorisme yang bertebaran di media sosial.  Karena memang negara tidak pernah hadir untuk melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Tidaklah perlu mendirikan badan atau lembaga yang baru untuk mengurusi ideologi, Pancasila atau sejenisnya. Hanya perlu mengoptimalkan institusi yang ada, dan melakukan edukasi dengan cara halus. 

Mengapa saat ini lagu-lagu wajib nasional Indonesia jarang diperdengarkan? Mengapa saat ini film-film tentang perjuangan dan kepahlawanan mulai jarang masuk televisi? Mengapa televisi hanya menyajikan sinetron, reality show percintaan maupun acara-acara kurang bermutu lainnya. Selain tidak berguna juga melemahkan hati dan tekad pemuda, karena akan cengeng jika mengalami sebuah ujian. Bahkan acara kuis-kuis juga kurang baik, karena penonton televisi tidak semua beruntung, istilah jawanya mingin-mingini, di televisi dapat uang tapi di luar sana masih ada yang kelaparan, kesulitan biaya sekolah, sedang dililit renternir dan lain sebagainya.



Kedua, setelah rasa nasionalisme dan tekad kebangsaan generasi muda terbentuk maka saatnya mengajari mereka dengan berbagi bidang, sesuai minatnya. Menuju era global atau masyarakat dunia atau globalisasi maka keterampilan menjadi penting untuk dipersiapkan, selain ilmu. Karena ke depan, akan banyak usaha, pekerjaan, kegiatan yang berbeda dari era kemarin dan saat ini. Salah satu contohnya, dahulu jual beli online lewat tokopedi*, bukalapa*, ol* belum ada, namun saat ini ada. Maka mengajari keterampilan dan ilmu kepada generasi penerus itu menjadi sangat penting. Keberlangsungan sebuah organisasi, sebuah negara juga tergantung kesiapan kader penerusnya dan strategi jangka panjangnya. Tetapi, tanpa harus meninggalkan jati diri sebagai Bangsa dan Budaya Indonesia.
Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Refleksi Kemerdekaan, Antara Bonus Demografi dan Merosotnya Nasionalisme Pemuda "

Back To Top