::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Dengan Money Politic, Kita Hanya Dihargai Kurang Dari Rp.100,- Oleh Caleg



NU Klaten - Tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis atas realitas yang berkembang di masyarakat dengan adanya money politic. Nampaknya itu telah menjamur dan menjadi wabah bagi demokrasi dan Ketahanan Politik Bangsa Indonesia.

Saat setelah pengumuman hasil pemilu legislatif KPU seperti ini, atau mungkin diketahui hasil resmi dari KPU Presiden/Wakil, Gubernur/Wakil, Bupati/Wakil dan Walikota/Wakil, maka rasanya senang dan bahagia. Khususnya jika Wong-wong NU jadi anggota dewan, dari berbagai parpol. 

Tapi, saat menjelang Pemilu mengapa tidak sadar dan berubaha 'membuat diri sendiri bangga?' dengan berusaha memenangkan orang yang kelak bisa menjaga Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Salah satunya karena harga dirinya dijual, dibayar dengan uang beberapa rupiah.

Dibawah ini, saya akan mencoba menghitung uang yang diberikan caleg atau calon-calon lainnya:

Misalnya: saat pemilu kita dapat uang maksimal Rp.150.000.
Pemilu itu 5 tahunan, jadi Rp.150.000 dibagi 5: Rp.30.000
Jadi setahun kita dibeli Rp.30.000

Rp.30.000 : 12 bulan = Rp.2.500
Jadi sebulannya hanya Rp.2.500

Rp.2.500 : 30 hari = Rp.83,33
Jadi dalam sehari hanya dihargai: Rp.83,33.

Jadi, kita diremehin caleg, sehari hanya dibeli Rp.83,33 atau Rp.100 saja kurang.

Setelah itu, si caleg tidak ngasih apapun untuk keberlangsungan NU, apalagi parpol-parpol yang beda aqidah dengan kita.

Anda beralasan pekewuh? Padahal mereka gak pernah pekewuh. Buktinya, mereka gak ngasih apa-apa selama 5 tahun. Dan gak ikut menjaga Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.

Kata Pekewuh menjadi alat mereka untuk menguasai dan membodohi kita.

[Minardi, Alumni S2 Ketahanan Nasional UGM]

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Dengan Money Politic, Kita Hanya Dihargai Kurang Dari Rp.100,- Oleh Caleg"

Back To Top