::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Dari Proklamasi Sampai Perang 10 November dan Laskar/Pasukan Diponegara



NU Klaten - NU bukan sekedar organisasi biasa, namun sebuah wadah untuk mewadahi, melestarikan dan menjaga Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah. Sehingga NU akan mati-matian menjaga Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah dari siapapun yang akan mengganggunya, walaupun tetap dengan cara cerdik dan santun. NU pula yang menjadi play maker atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang majemuk ini. 

Nasionalisme Para Santri telah terbukti di berbagai kondisi saat Bangsa ini diserang dan diganggu oleh 'tangan-tangan kotor'. Tercatat Para Ulama, Para Mursyid Tarekat, Para Guru Ngaji bersatu padu dengan Para Ksatria yang masih setia dengan Bangsanya untuk melawan musuh. Mulai saat Perang Pati Unus melawan Portugis di Malaka, Perang Fatahillah melawan Portugis di Sunda Kelapa, Perang Sultan Agung melawan Belanda di Batavia, Perang Trunojoyo melawan Belanda, Perang Diponegara, dan lain-lainnya sampai Perang Kemerdekaan.

Dari Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai Perang 10 November itu adalah sebuah serangkaian sejarah. Tidak boleh diputus, tidak boleh dipahami setengah-setengah, harus dibaca secara utuh. Penyambung dari kedua peristiwa itu adalah Resolusi Jihad dari Mbah Hasyim Asy'ari. Resolusi jihad yang dimotori Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 adalah pemantik semangat kepahlawanan para santri untuk mempertahankan NKRI dari sekutu yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan. 

Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy'ari adalah Penentu Kemerdekaan Republik Indonesia. Andai saja tidak ada Resolusi Jihad dari Mbah Hasyim Asy'ari mungkin Perang 10 November tidak seheroik itu. Perlu diketahui pula, pasca Perang Diponegara sudah tidak ada lagi perang besar yang memobilisir puluhan ribu orang, yang ada perang kecil-kecil dan kedaerahan. Pasca Pangeran Diponegara ditipu dan ditangkap Belanda, keturunan dan laskar-laskar Pangeran Diponegara masih terus menggelorakan jihad untuk selalu cinta tanah air. Mereka tidak lagi berperang dengan fisik (senjata, perang) melainkan dengan cara soft power, yaitu penyiapan kader. Tercatat pendiri NU, tokoh pergerakan nasional dan tokoh kemerdekaan hampir semua adalah keturunan dari laskar/pasukan Pangeran Diponegara. 

Simak: 

"Yang patah tumbuh, yang hilang berganti" itulah kata peribahasa. Walaupun Pangeran Diponegara telah ditangkap dan wafat, tetapi api semangat perjuangan masih menggelora dalam dada pasukannya. Api semangat perjuangan ini diwariskan turun-menurun sampai saat yang pas. Perang dengan hard power telah bergeser menjadi perang soft power, yaitu perang pemikiran dan penyiapan generasi.

Laksana "sangkakala" yang dibunyikan, Fatwa dan Resolusi Jihad Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy'ari menandai berkumpulnya kembali keturunan-keturunan Pasukan Diponegara dan Laskar-laskar Ummat Islam. Gelora 10 November sebagai puncak peperangan hebat setelah Pangeran Diponegara wafat. Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II kocar-kacir menghadapi Bangsa Indonesia, negara yang baru saja merdeka.

Semangat mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia kembali terkobar pasca Resolusi Jihad di berbagai daerah, bukan hanya di Jawa, khususnya Surabaya. Maka, jika NU mati-matian Cinta Tanah Air tidak mengherankan. Karena gen DNA yang dimiliki NU adalah asli Orang-orang Nusantara yang menjaga Ahlussunnah wal Jama'ah dan Bumi Nusantara.


[Minardi, Ketua LTN-PCNU Klaten]




Tag : Sejarah
0 Komentar untuk "Dari Proklamasi Sampai Perang 10 November dan Laskar/Pasukan Diponegara"

Back To Top