::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Wiwitan, Bentuk Syukur dan Cara Berbagi Petani


"Ilir-ilir,
Tandure wus Sumilir,
...." 
(Kanjeng Sunan Kalijaga)

oleh: Minardi, LTN NU Klaten

NU Klaten - Klaten merupakan daerah agraris atau pertanian, hal ini berbeda dengan Pesisiran yang lebih kepada nuansa maritim. Sebagai daerah pertanian maka tidak mengherankan jika di Klaten sangat kental dengan tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pertanian, mulai dari bersih desa atau rasulan atau sedekah bumi yang biasa dilakukan setelah panen, lalu tedunan yang dilaksanakan setelah menanam padi, lalu wiwitan yang dilakukan menjelang panen dan sebagainya.

Wiwitan menurut awal mulanya sebagai bentuk persembahan kepada Dewi Sri atau Mbok Sri, yang oleh masyarakat di Asia Tenggara dan Asia Selatan, termasuk Indonesia disebut-sebut sebagai Dewi Padi atau Dewi Pangan. Kalau dalam lakon wayang Dewi Sri bersama adiknya, yaitu Dewa Sadono diperebutkan oleh Raja-raja agar Dewi Sri dan Dewa Sadono berkenan tinggal di negara/kerajaannya. Karena barangsiapa yang ditinggali Sri-Sadono akan murah sandang dan pangan. Dewi Sri menunjukkan Dewinya Pangan dan Dewa Sadono menunjuk Dewanya Sandang. Oleh Para Ulama Pensyiar Agama Islam, tradisi seperti itu terus dilestarikan, namun mulai digeser orientasi tujuannya dari persembahan kepada Dewi Sri menjadi bentuk Syukur kepada Allah, sebagai hubungan kepada Allah dan berbagi atau sedekah, sebagai hubungan sesama manusia.

Saksono dan Dwiyanto (2012: 15-16) mengatakan bahwa dalam rangka mencari keselamatan hidup, masyarakat Jawa melakukan ritual atau upacara. Hal ini telah dilakukan masyarakat sebelum mengenal adanya agama-agama, yang oleh Kyai Agus Sunyoto sebelum agama-agama masuk ke Nusantara telah berkembang sebuah kepercayaan yang dinamakan Kapitayan, yang oleh Belanda secara keliru disebut Dinamisme dan Animisme. Secara konsep, Kapitayan dengan Islam itu mirip, seperti "Bahwa Tuhan itu tidak layak untuk disimbolkan", "Gusti itu cedhak tanpo sanggolan, adoh tanpo wangenan", "Gusti iku tan keno kinoyo ngopo" dan seterusnya.

Nasi Wiwitan atau Sego Wiwit


Tradisi Wiwitan ada yang berbentuk acara besar namun juga bisa dalam bentuk acara yang kecil. Namun kedua bentuk itu memiliki hakekat dan tujuan yang sama. Disebut sebagai ‘wiwitan’ karena arti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, dikutip oleh Sutiyono dalam Poros Kebudayaan Jawa, Wiwit (Tedun), yaitu upacara tradisi leluhur keluarga petani, yang dilaksanakan menjelang memulai tanam dan panen padi.

Memasuki musim panen, petani di daerah pedesaan banyak yang melakukan ritual wiwitan. Proses wiwitan dilakukan di sawah dan dipimpin oleh mbah kaum atau orang yang tertua di kampung halamannya. Tetapi di areal Desa Wiro, Bayat, Klaten, Wiwitan dipimpin oleh seorang nenek yang dituakan di sekitar situ. Alurnya, nenek dan beberapa perempuan berjalan dari rumah menuju sawahnya, biasanya dengan berjalanan kaki dengan diikuti oleh anak-anak. Barang dan perlengkapan dengan biasa dibawa ke sawah antara lain: ingkung ayam (kadang juga telur ayam kampung), trancam, nasi, jajan pasar (makanan kecil dan buah), bubuk kacang atau kedelai, ikan asin, pisang, cermin, kinang-bako, kemenyan, bunga, ani-ani, dan sebagainya.

Sesampainya di sawah, nenek yang disepuhkan atau dituakan tadi mulai membuat tempat dengan cara mengikat beberapa batang padi, lalu meletakkan kinang-bako, cermin, ani-ani, bunga, kemenyan dan berdoa. Tempat berdoa tadi ada air yang diwadahi kendi, setelah berdoa, air kendi itu dituangkan ke sawah dan nenek tadi memotong beberapa helai padi. 

Alat yang bernama Ani-ani


Sementara beberapa perempuan yang mengikuti mulai menata beberapa bungkus makanan di pada daun pisang. Makanan itu akan dibagikan kepada anak-anak yang mengikuti dan tetangga di sekitar sawahnya (jika dekat dengan perkampungan) atau membagikannya kepada tetangganya di dekat rumah. Biasanya anak-anak yang ikut "guwangi" mendapatkan porsi lebih banyak. "Guwangi" itu karena membantu meletakkan "Guwangan" di pojok-pojok sawah yang biasanya terdiri dari ketupat (tanpa isi), daun dadap serep dan sebagainya yang direbus.

Tag : Budaya
0 Komentar untuk "Wiwitan, Bentuk Syukur dan Cara Berbagi Petani"

Back To Top