::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Menjadi NU yang "Kaffah", Lahir-Batin Jadi Wong NU



oleh: Aswaja Center Klaten

NU Klaten - Semakin berjalannya waktu, zaman terus berubah dan bergerak sehingga menghasilkan berbagai perkembangan. Terkadang perkembangan itu membuat pergeseran dari "rel utama", yang diantaranya bisa disebabkan karena kekurangan informasi dari arus utama maupun adanya pembajakan dari "luar", dan terkadang keduanya berkolaborasi.

Maka seseorang yang mengaku sebagai "Wong NU" harus senantiasa memperhatikan dan selalu hati-hati agar tidak tergelincir dari "rel utama" dalam berkhidmah dan ngalap berkah di NU. Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menyampaikan pangandikan dari Mbah Ali Maksum Krapyak (Rais Aam PBNU 1980 - 1984) tentang bagaimana seseorang dalam berkhidmah dan ngalap berkah di NU. Agar untuk me-refresh ulang, penulis akan menyajikannya kembali:

Pertama, bahwa Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU. Kedua, yaitu setelah mempelajari juga perlu untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama). Ketiga, jihad bi nahdlatil ulama (jihad ala NU). Keempat, ash-shabru bi nahdlatil ulama (sabar dalam berjuang bersama NU). Terakhir, yakni ats-tsiqotu bi nahdlatil ulama (memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU). 

Kelima hal ini harus senantiasa dipegang secara teguh dan diamalkan oleh segenap “Wong NU”. Karena saat ini, hoax dan fitnah bertebaran menyerang NU, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. 
Bentuk-bentuk serangan kepada NU yang sering muncul, khususnya di dunia maya adalah:
  1. Mengaku NU. Cara ini biasanya terucap dengan kata: "saya ini juga NU, tapi NU nya Mbah Hasyim Asy'ari bukan Said Aqil Siroj". Padahal kita bisa ber-NU ala Mbah Hasyim Asy'ari ya harus lewat jalurnya, yaitu PBNU. Muncul pula kelompok-organisasi dan group medsos liar yang mengaku NU tapi hendak menggiring secara halus jama'ah yang polos untuk dijerumuskan menjelekkan NU.
  2. Mengaku Santri. Dahulu banyak orang anti dengan kata Santri, dianggap kuno. Tapi, muncul sebuah gerakan halus dan senyap, khususnya di media sosial penggunaan kata "Santri" tapi malah menolak PBNU. Biasanya bergerak di grop-grop WA dan facebook, beberapa di instagram. Maka, pengguna media sosial jangan tertipu dan mudah kagum.
  3. Memusuhi Ulama dan Pimpinan NU. Kyai Haji Said Agil Siraj adalah Ketua Umum PBNU. Ketua Umum adalah amanah terpenting di NU. Marwah Ketua Umum PBNU sama juga Marwah NU.  Pola saat ini, ada arus untuk delegitimasi  kepada KH. Said Agil Siraj, dengan segala fitnah yang ditujukan kepada beliau. Bukan hanya Ketua Umum, tapi juga Rais Aam dan Khatib Syuriah juga pernah difitnah. Semata-mata untuk delegitimasi. Agar arah pikiran masyarakat umum: "ketuanya aja kayak gitu, pasti NU yang dipimpin juga kayak gitu".
  4. Memusuhi Banser. Banser adalah anak dari GP. Ansor, sebuah Banom di NU. Penyerangan kepada Banser juga termasuk ke dalam nomor 3, yaitu: delegitimasi. Kita tahu, komitmen Kebangsaan inilah yang senantiasa dijaga Banser, dan NU pada umumnya.
  5. Menyerang Tradisi dan Amaliyah NU. Ini sudah dari dahulu. Tetap NU tetap istiqomah dan semakin kuat dengan menjelaskan dalil-dalil yang kuat. Dan fenomena organisasi nyempal adalah ingin "asal beda" dari NU dan jelekin NU. Tapi setelah NU nunjukkin dalil-dalil kuatnya, maka larinya kalau gak pake taktik "menyerupakan diri dengan NU" ya "menyerang Banser atau Kyai Said“
  6. Arah adu-domba Para Aswaja telah dilakukan. Rasa kemanusiaan telah runtuh.


Bagi orang yang “ngaku NU” tetapi tidak mau tabayyun kepada Ulama, Pengurus NU maupun mencari-mencari informasi secara berimbang, maka bisa jadi akan tergelincir dari “rel utama” sehingga dengan mudah menyalahkan dan menjelek-jelekkan NU serta bisa meninggalkan Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah, dan itulah target utama dari adanya hoax dan fitnah kepada NU.

Dalam Konsolidasi NU Se-Jatim beberapa waktu lalu, KH. Marzuki Mustamar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur menyampaikan agar Wong NU memperkokoh i’tiqad (keyakinan) dan amaliyah (praktik ibadah) Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah-nya, serta fikrah (pemikiran) dan harakah (gerakan) ke-NU-annya. Maka, sebagai Wong NU tidak hanya beramaliyah semata (yasinan, tahlilan, sholawatan dan lain-lain saja), sebagaimana yang disampaikan Habib Lutfhi bin Yahya yaitu bagaimana menjaga, melindungi dan melestarikan amaliyah dan Ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah itu. Habib Lutfhi bin Yahya memberikan contoh di Mekah, kala itu Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah mayoritas tetapi karena belum diwadahi maka bisa dihancurkan dan terusir dari Tanah Haram.

Maka selayaknya Wong NU dan yang “ngaku NU” tidak main-main dan menyepelekan saat berkhidmah dan ngalap berkah di NU. Apalagi di NU untuk mencari keuntungan pribadi, bahkan rela “menerima uang” untuk mendukung calon politik yang jelas-jelas tidak akan menjaga, melindungi dan melestarikan amaliyah dan Ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Karena jabatan politik akan mempengaruhi urusan kebijakan dan alokasi anggaran serta sumber daya. Ataupun menyekolahkan anak-keturunannya di sekolah/madrasah yang itu juga jelas-jelas tidak akan menjaga, melindungi dan melestarikan amaliyah dan Ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah dan lini bidang lainnya.

Maka dari pangandikan Mbah Ali Maksum Krapyak, KH. Marzuki Mustamar dan Al Habib Lutfhi bin Yahya, penulis mengambil benang merah bahwa yang dimaksud Wong NU Kaffah itu setidaknya mencakup:
  1. Dalam segi Amaliyah dia memiliki amaliyah yang dilakukan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu Sholawatan, Maulidan, Manaqiban, Tahlilan, Yasinan dan sebagainya. Karena di dalam NU ada kaidah: “melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerima nilai-nilai baru yang lebih baik”
  2. Lalu apakah dengan beramaliyah saja sudah dianggap kaffah dalam ber-NU? Tentu saja belum, aqidah Wong NU juga harus sesuai pedoman NU: Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas; Aqidah Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi
  3. Dalam urusan fikrah (pemikiran), KH Makruf Amin menuturkan terdapat empat hal yang menjadi dasar dalam cara berfikir warga NU yang menjadi ruh ketika NU berdiri dan menentukan sampai ke depan bagaimana NU yang akan datang. Empat hal tersebut adalah yaitu pertama fikrah nahdiyyah (cara berfikir NU); kedua NU bermazhab; ketiga NU menganut prinsip tatowwuriyah (dinamis); keempat NU berprinsip islahiyyah (melakukan perbaikan terus-menerus). Dalam cara pandang atau berfikir, Nahdlatul Ulama senantiasa mengusung nilai-nilai yang diajarkan oleh Imam Ghozali yang berhaluan pada konsep tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Artinya, NU tidak condong pada pemikiran-pemikiran liberal ataupun pemikiran-pemikiran radikal. 
  4. Terakhir adalah harakah (gerakan) dalam NU. Suatu organisasi jika tanpa bergerak, maka ibarat batu tugu yang tidak memberikan manfaat kepada sesamanya. Secara harakah (gerakan) warga dan pengurus NU  harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Maka mengherankan, jika mengaku NU tetapi membenci Para Ulama dan Pimpinan NU dan tidak mendukung agar Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ini tetap terjaga, terlindungi dan lestari. Bahwa harakah dalam NU itu harus: 1). Tahfidzhon (menjaga); 2). Taqwiyyan (menguatkan); 3). Sam'an (mendengar); 4). Tho'atan (ta'at) atau dalam Bahasa Jawa sendiko dawuh, atau bahasa Banser "siap"; 5). Tawaddudiyyan (ramah); 6). Tarohhumiyyan (mempunyai sifat kasih sayang).


Negeri-negeri Penjaga Ahlussunnah wal Jama'ah lainnya telah porak-poranda karena perang saudara maupun serangan negara lain. Perang yang lebih disebabkan karena adu-domba yang disebarkan oleh kabar hoax dan fitnah. Kita bisa Sholawatan, bisa Tahlilan, bisa Ziarah Kubur, dan beramaliyah dengan damai, tenang, santai karena keadaan Negeri, Negara dan Bangsa kita aman. Maka sudah barang tentu tanggungjawab Wong NU dan yang "ngaku NU" untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam Berkhidmah dan Ngalap Berkah di NU dan menjaga Ketahanan dan Pertahanan Nasional Indonesia.
0 Komentar untuk "Menjadi NU yang "Kaffah", Lahir-Batin Jadi Wong NU"

Back To Top