::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Mbah Salman Popongan, Ulama Yang Murah Senyum

Mbah Salman Popongan dan Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf


Setelah Mbah Manshur wafat, estafet pengajaran tarekat dilanjutkan oleh cucunya, Kiai Salman Dahlawi yang sanad tarekatnya langsung dari kakeknya. Adapun Mbah Manshur mendapat ijazah (attunement) mursyid (guru spiritual dalam tarekat) dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, selanjutnya disebut Mbah Hadi Giri Kusumo. Mbah Hadi adalah khalifah (wakil) Syaikh Sulaiman Zuhdi, mursyid atau spiritual guide Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Makkah al-Mukarramah. Sebelum Mbah Manshur wafat. Pada 1953, ketika Gus Salman berusia 19 tahun, Mbah Manshur membaiatnya sebagai mursyid tarekat.

Kiai Salman lahir pada 1 Maret 1936. Kiai Salman adalah anak lelaki tertua dari K.H. Muhammad Muqri bin K.H. Kafrawi dengan Hj. Masjfufah Binti Muhammad Manshur. Mbah Manshur adalah putra Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo Mranggen Demak, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, mursyid atau guru pembimbing Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Makkah. 


Foto KH Muslimin (badan lebih tinggi) bersama KH Salman Popongan
memakai seragam Kepanduan Ansor.

Kiai Salman dikenal sebagai seorang kiai yang tawadlu’ dan dihormati oleh sejawatnya dari kalangan kiai, baik di Jawa tengah maupun di berbagai wilayah lainnya. Salman kecil memiliki sikap bersahaja. Di sungai tersebut Salman kecil dan Muslimin bukan hanya mandi dan bermain, tetap  juga mengambil kerikil dan mengangkatnya untuk dibawa ke komplek ndalem Mbah Manshur, yang sekarang menjadi madrasah tempat pengajian para santri. 

Mbah Kiai Muslimin, orang kepercayaan Mbah Manshur dan sekaligus kawan akrab Mbah Salman, menceritakan bahwa Salman kecil memiliki kebiasaan mandi di Sungai Jebol, Tegalduwur, sebelah selatan Dusun Popongan. Mbah Kiai Muslimin adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Qur’an Al-Waro’ dan ini Selasa kemarin, 16 Juli 2019 pukul 15.30 WIB dipanggil oleh Allah, dimakamkan di kampung halamannya di Karangpandan, Kenaiban, Juwiring.

Setelah tamat Sekolah Rakyat di Tegalgondo, Salman kecil tinggal di Kauman Surakarta. Mbah Manshur membeli tanah di Kauman Surakarta dan meminta Muslimin yang menjadi badal-nya untuk merenovasi rumah. Muslimin yang memiliki keahlian di bidang bangunan, menuruti perintah gurunya untuk membangun rumah. Ia sendiri yang menjadi tukang, dan Salman kecil meladeninya (menjadi laden tukang). Selama di Kauman, Salman kecil melanjutkan belajar ke Madrasah Sunniyah Surakarta yang juga menjadi bagian dari lembaga pendidikan Mambaoel ‘Oeloem. Sejak kecil hingga meninggal, Mbah Salman selalu ditemani Mbah Muslimin. Walaupun umur Mbah Muslimin sedikit lebih tua dari Mbah Salman, namun ketika Salman berumur belasan tahun, Mbah Manshur yang waktu itu sakit, berpesan kepada Muslimin untuk selanjutnya memanggil Salman dengan panggilan “Mas”. Hal ini mengisyaratkan akan diangkatnya Salman menjadi guru bagi Muslimin dan kawan-kawannya. Sebelumnya, kawan karib itu memanggil Salman dengan namanya. Ada perhatian khusus Mbah Manshur terhadap Salman kecil.

Ketika remaja, Mbah Manshur meminta Muslimin dan Salman untuk melakukan suluk. Ritual Naqsyabandiyah Khalidiyah ini dilakukan ketika keduanya berumur belasan tahun. Ketika sedang suluk, Mbah Manshur memerintahkan keduanya untuk melakukan renovasi Mbah Manshur, sambil melakukan ziarah ke makam para auliya’. Ketika terjadi bumi hangus Popongan oleh agresi Belanda, seluruh keluarga Mbah Manshur mengungsi ke Kauman Surakarta. Adapun, ayahanda Kiai Salman, Mbah Muqri bersembunyi di atas atap masjid. Salman kecil bersama Muslimin sering melakukan jalan kaki dari Kauman ke Popongan, termasuk mengirim makanan ke Mbah Muqri. Perjalanan dengan jalan kaki dari Kauman ke Popongan tersebut hanya berbekal kacang tanah. Muslimin-lah yang mengatur perjalanan tersebut, serta kapan Salman boleh makan kacang.

Muhammad Salman Dahlawi menamatkan pendidikan Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat TegalgondoWonosari Klaten.17 Setelah tamat Sekolah Rakyat, Salman kecil melanjutkan belajar agama di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang diasuh oleh K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan (Mbah Umar), dan selanjutnya nyantri di Pondok Pesantren pimpinan K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur selama kurang lebih empat tahun (1956-1960). Ia juga pernah belajar di Madrasah Mamba’oel ‘Oeloem dan Madrasah Soennijah Keprabon Surakarta, dan beberapa kali nyantri pasan (nyantri khusus bulan Ramadhan) kepada K.H. Ahmad Dalhar Watucongol Magelang Jawa Tengah. Salman muda dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu, sehingga ia sering ikut program santri kilat di berbagai pesantren lain, selain yang disebutkan di atas. 

Selain berguru kepada banyak ulama di Jawa, Kiai Salman ketika menunaikan ibadah haji ke Makkah, sering menyempatkan diri untuk bertemu dan berguru kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, ulama kharismatik di Saudi Arabia. Keilmuannya di bidang tasawuf begitu luas dan dalam, sehingga para murid tarekatnya menyebutnya dengan panggilan Hadhratusy Syaikh Kiai Salman Dahlawi, sebuah sebutan bagi ahli ilmu kasepuhan dalam dunia tarekat dan Islam tradisional Indonesia.

Kiai Salman Dahlawi memimpin pondok pesantren dengan manajemen tradisional. Santri yang mengaji di Pondok Pesantren Al-Manshur pada awalnya hanya khusus ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan (sistem pengajian tradisional di pesantren). Untuk dapat mengikuti perkembangan zaman, maka sejak tahun 1963 didirikan beberapa lembaga pendidikan formal, yakni Madrasah Diniyyah Al-Manshur (1964), Madrasah Tsanawiyah Al-Manshur (1963), Madrasah Aliyah Al-Manshur (1966), dan pada tahun 1980, didirikan Taman Kanak-Kanak Al-Manshur. 

Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Tarikat Naqsabandiyyah-Khalidiyyah yang cukup dikenal kaum Nahdliyyin dan kaum tarekat pada umumnya. Ia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlut Tarikat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah dan Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU) Klaten. 

Diceritakan tentang kesabaran KH Salman Dahlawi yang begitu luar biasa, bahwa tidak pernah ada yang melihat langsung Mbah Salman (Panggilan KH Salman Dahlawi) marah maupun berkata kotor. Diceritakan pula bahwa Mbah Salman selalu mengucapkan Alhamdulillah di setiap kondisi. Sebagaimana yang disampaikan oleh Al Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf bahwa Mbah Salman itu murah senyum, seperti Al Habib Anis bin Alwi Al Habsyi.

Kiai Salman wafat pada 27 Agustus 2013, pukul 17.45 WIB dalam usia 78 tahun. Belum ada keterangan tentang risalah atau kitab yang ditulis oleh Kiai Salman Dahlawi, namun wasiatnya yang sempat diingat oleh putra-putri dan santri-santrinya antara lain adalah: 
1) Podo manuto ing pitutur; 
2) Iman, taqwa lan syukur marang Allah SWT; 
3) Ngemen-ngemenke ngluru ilmu nafi’;
4) Sregep jama’ah;
5) Entheng ngamal ibadah;
6) Nrimo ing peparinge Kang Kuwoso;
7) Ojo ngentengake utang;
8) Ngalah ing bab donyo;
9) Sabar, usaha, pasrah, tawakal marang Allah SWT;
10) Birrul walidain lan njogo rukune paseduluran; dan
11) Kabeh perkoro tumuju marang Ridhone Allah SWT. 

Wasiat tersebut diungkapkannya di Popongan, pada 12 Januari 2013. Wasiat lain yang sering disampaikan kepada para santri dan jama’ah adalah untuk konsisten (istiqomah) mengikuti jama’ah shalat lima waktu. (Nanang/Wahyu)

Referensi:
Saifuddin, Ahmad., Astiti P Shofi. 2017. Enam Kiai di Solo Raya. Klaten: Darul Afkar Institute
NU Online



Tag : Jatman, Tokoh, Ulama
0 Komentar untuk "Mbah Salman Popongan, Ulama Yang Murah Senyum"

Back To Top