::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Klaten Saksi Bisu Perjalanan Sejarah, Sekaligus Peredaran Zaman



NU Klaten - Tidak akan ada habisnya jika membahas tentang Klaten. Wilayah yang diapit dua peradaban besar di Jawa ini, yaitu Surakarta (Kasunanan dan Mangkunegaran) dan Yogyakarta (Kasultanan dan Pakualaman) ini selalu menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, sekaligus peredaran zaman. Mungkin secara administratif Klaten lahir tahun 1804 dengan ditandai berdirinya Benteng Engelenburg (Fort Engelenburg). Namun, sejatinya Klaten telah ada jauh sebelum itu dan mengisi perubahan zaman itu sendiri. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya peristiwa, tempat dan tokoh-tokoh yang melegenda di Klaten.

Kawasan Klaten merupakan wilayah tua yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya peninggalan Candi Prambanan dan Candi Plaosan di era Mataram Kuno, demikian pula tempat-tempat lama seperti Bayat sebagai Makam Sunan Pandanaran, Jatinom sebagai Makam Ki Ageng Gribig dan sebagainya yang telah ada jauh sebelum Klaten lahir. Ibaratnya, Klaten terus menjadi tempat perang fisik dan perang urat syaraf. Sampai pasca Perang Diponegara, Klaten bergeser menjadi tempat tujuan ziarah karena banyak makam Para Ulama dan Bangsawan, Klaten juga menjadi lahan pertanian dan perkebunan karena Klaten termasuk daerah yang tanahnya subur dan mudah mendapatkan air. Tercatat banyak sekali pabrik-pabrik di Klaten ini, ada tidak kurang sembilan pabrik gula di Klaten: Gondang Winangoen di Jogonalan; Ceper; Tjokro Tulung; Ponggok di Polanharjo; Manishardjo di Pedan; Delanggu; Jungkare di Karanganom; Gedaren di Jatinom; Manisrenggo; dan Wonosari. Selain tebu sebagai pemasok bahan baku di pabrik gula, di Klaten juga banyak tanaman nila, tembakau, kopi dan lain-lain yang dikirim melalui stasiun-stasiun yang berada di Klaten.

Dalam peristiwa-peristiwa zaman, Klaten tidak ketinggalan selalu tampil dalam peredaran zaman. Mungkin yang paling bisa dilacak sejarahnya ketika Panembahan Rama yang dimakamkan di Kajoran, Klaten Selatan mendukung Trunojoyo dalam melawan Belanda yang bercokol di Mataram di masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I. Lalu terjadinya geger Pecinan, lalu Perang Mangkubumi dan Mangkunegara, namun geger Pecinan dan Perang Mangkubumi dan Mangkunegara ini kurang informasi keterkaitannya dengan Klaten. Setelah itu terjadi perang terbesar dan juga terakhir yaitu Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegara. Tercatat ada beberapa keterkaitan Klaten dalam peristiwa besar ini. Terjadi pertempuran hebat di Delanggu pada tanggal 28 Agustus 1826. Pada 28 Agustus 1827 digelar perundingan di Cirian, Klaten. Pangeran Diponegara juga berhasil menduduki Markas Belanda di Prambanan oleh Tumenggung Suronegoro. 

Jejak perjuangan Kyai Mojo tanggal 12 November 1828, Kyai Mojo dan para pengikutnya disergap di daerah Mlangi, Sleman, dekat Sungai Bedog, kemudian dibawa ke Salatiga. Namun ada versi lain bahwa pada tahun 12 November 1828 Kyai Mojo ditangkap di Desa Kembang Arum, utara Yogyakarta. Ada versi, bahwa Kyai Mojo ditangkap di Desa Jungkare, Karanganom, Klaten. Ada versi lagi, bahwa Kyai Mojo ditangkap di Kleco, saat itu Kyai Mojo berangkat ke Kleco mengambil jalan dari Jungkare, lalu Jebugan, lalu Karanganom, lalu Jurangjero menuju Janti, untuk ziarah orang tuanya. Syekh Syarifuddin yang makamnya di belakang RS. Islam Klaten itu adalah Guru Kyai Mojo. Masjid Golo di Bayat menjadi tempat latihan perang Laskar Putri, yang dipimpin Nyai Tunjung Sari atas restu Kyai Ghozali, selaku sesepuh Masjid. 

Pasca Perang Jawa, perlawanan jarang secara fisik melainkan dengan penyiapan kader, perang tulisan, jalur pendidikan dan cara-cara soft power lainnya. Sehingga nanti muncul Ulama-ulama Besar di Klaten seperti Kyai Imam Rozi Singo Manjat di Tempursari, Ngawen, Klaten; Kyai Mukhoyat Singo Waspodo di Kaligawe, Pedan, Klaten yang dikemudian hari salah satu keturunannya atas dhawuh Sang Kyai (Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy'ari) mendirikan Jam'iyyah NU di Klaten yaitu Kyai Abdul Mannan; kemudian juga R. Ng. Ronggowarsito yang dimakamkan di Palar, Trucuk, Klaten dan masih banyak tokoh lainnya. (LTN-PCNU Klaten)

0 Komentar untuk "Klaten Saksi Bisu Perjalanan Sejarah, Sekaligus Peredaran Zaman"

Back To Top