::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Wayang Itu Bayang-Bayang Manusia di Alam Raya Ini


oleh: Minardi, 
Ketua LTN-PCNU Klaten

NU Klaten - Di Indonesia sendiri wayang memiliki banyak jenisnya, bahkan di setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing. Wayang berasal dari kata bayang-bayang (bayangan). Namun ada pula yang mengatakan bahwa wayang merupakan singkatan dari Wayahe Sembahyang atau waktunya beribadah. (Susilamadya, 2014: 3). Makna dari waktunya beribadah ini dimungkinkan karena wayang zaman Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga sebagai media untuk berdakwah. Karena memang Walisongo kala itu menyebarkan agama Islam tidak dengan menggunakan kekerasan melainkan dengan cara-cara damai dan mudah diterima serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat itu.

Wayang merupakan karya agung bangsa Indonesia. Banyak keistimewaan-keistimewaan di yang terkandung di dalamnya. Pagelaran wayang kulit purwa misalnya, memuat semua semua seni yang ada, mulai seni kriya, seni karawitan, seni pagelaran, seni sastra, dan seni-seni yang lain termasuk ajaran-ajaran kehidupan manusia. Ssemua digelar dalam satu waktu, dengan komando dari seorang dalang. Tidak heran jika pada tanggal 7 November 2003, PBB melalui UNESCO memberikan penghargaan kepada wayang Indonesia. Penghargaan tersebut menyebutkan bahwa wayang sebagai Karya Agung Warisan Budaya Dunia.

Sejatinya wayang merupakan gambaran kehidupan manusia itu sendiri. Wayang merupakan bayangan kehidupan manusia itu sendiri. Wayang merupakan cerminan dari tingkah-polah manusia manusia di dunia ini. Dunia pewayangan ikut serta mendewasakan masyarakat dengan jalan membekalinya dengan konsep-konsep yang mudah dihayati dan diresapi dalam menghadapi persoalan hidup ini. Filsafat pewayangan membuat para pendukungnya merenungkan hakikat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula Gusti (hubungan gaib hamba dengan Tuhannya), kedudukan manusia dalam alam semesta, dan sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup) yang di awali dari talu dan diakhiri dengan tancep kayon. (Haryanto, 1991: 1-2). Baik Ramayana dan Mahabharata ada tiga lakon utama di dalamnya, yaitu tentang harta, tahta dan cinta. Nampaknya tiga lakon ini juga yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Semua yang tersaji di koran, radio, televisi, internet semuanya hanya masalah bagaimana mencari, merebut dan mempertahankan harta, tahta dan cinta.

Dari sisi yang terlihat, apa yang terlihat di wayang merupakan setiap aktivitas manusia dan alam itu sendiri. Manusia ini adalah wayang itu sendiri, blencong ibarat cahaya yang menerangi kehidupan manusia, kelir yang berwarna putih itu merupakan alam raya yang seimbang, sepi dan kosong, menunggu aktivitas manusia untuk mengisinya. Batang pisang itu ibarat tanah manusia berpijak. Adanya gendhing yang berasal dari gamelan yang ditabuh niyaga dan sinden (waranggana) merupakan alunan kehidupan manusia itu sendiri. Ada kala ada gendhing semangat, gendhing percintaan dan gendhing kesedihan. Ada wayang yang berjajar di sebelah kanan bagi yang bersifat baik dan wayang yang berjajar di sebelah kiri bagi yang bersifat buruk. Wajah dan bentuk wayang berbeda-beda menandakan begitulah perbedaan dan sifat manusia.

Wayang mengajari kita bagaimana kita harus berkata, bersikap, berpikir dan berhati. Wayang bukan hanya sebuah tontonan belaka melainkan sebuah tuntunan tentang kehidupan ini. Para Walisongo telah menggunakannya sebagai sarana dakwah dengan disesuikan ajaran-ajaran Islam.
Tag : Budaya
0 Komentar untuk "Wayang Itu Bayang-Bayang Manusia di Alam Raya Ini"

Back To Top