::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Menguak Sejarah, Filosofi Sampai Bentuk-Bentuk Ketupat


oleh: Minardi, 
Ketua LTN-PCNU Klaten

NU Klaten – Khususnya pada saat bulan Syawal atau Lebaran masyarakat merayakan sebuah event yaitu Lebaran Ketupat atau Kupatan. Perayaan itu dikemas dalam berbagai bentuk ada yang berupa kenduri di masjid/musholla, ada pula yang dilakukan kirab. 

Menurut H.J. de Graaf dalam bukunya Geschiedenis van Indonesiƫ, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Janur adalah daun kelapa yang masih muda berwarna kuning keemasan, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik. Dalam kebudayaan Jawa, janur memiliki makna khusus sebagai elemen penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Janur merupakan rangkaian daun kelapa yang masih muda (Entik Padmini, Dewabrata, 2009: 16)

Masyarakat Jawa mengartikan janur sebagai “Jatining Nur” yang artinya cahaya sejati, yang maknanya “cita-cita mulia dan tinggi untuk menggapai Cahaya Illahi dengan diiringi hati yang bening”. Etimologi Jawa itu menyatakan bahwa dalam mengarungi kehidupan ini manusia membutuhkan cahaya agar dapat melihat dengan jelas hal- hal yang baik dan yang buruk sehingga dapat mengambil langkah yang benar, cahaya dari siapa? Ya dari Allah.

Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa (2009:23), Penggunaan istilah ketupat dalam Lebaran ketupat tentu bukan tanpa filosofi yang mendasarinya, Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” (Mengakui Kesalahan) dan "laku papat" (empat tindakan). Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” yang bisa diartikan hati nurani. Secara filosofis beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian, bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Istilah laku papat (empat tindakan), masyarakat Jawa mengartikanya dengan empat istilah, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berarti akhir dan usai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan dan siap menyongsong hari kemenangan. Sedangkan Luberan bermakna meluber atau melimpah, layaknya air yang tumpah dan meluber dari bak air. Pesan moral yang dihendak disampaikan dari luberan adalah budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin, dengan begitu akan membahagiakan para fakir miskin dan diharapkan angka mengikis angka kemiskinan yang ada di negara kita. Adapun Leburan berarti habis dan melebur. Yaitu momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari Nol kembali. Yang terakhir adalah Laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini Laburan dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. Karena itu merupakan simbol kejernihan dan kesucian hati yang sebenarnya. (NU Online, (2008). Lebaran Ketupat, dari Mana Tradisi ini Berasal? Di peroleh Rabu, 28 Januari 2016, pukul 19:10).

Bentuk-Bentuk Ketupat





Bagi sebagian masyarakat Jawa, bentuk ketupat (persegi) diartikan dengan kiblat papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama: timur, barat, selatan, dan utara. Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi ia tak boleh melupakan pacer (arah) kiblat atau arah kiblat (shalat) (Slamet Mulyono, 2009: 3). Rumitnya anyaman janur untuk membuat ketupat merupakan simbol dari kompleksitas masyarakat Jawa saat itu. Segi anyaman, ketupat merupakan sebuah jalan hidup manusia yang penuh dengan permasalahan, penuh dengan liku-liku, teksturnya bergelombang seperti halnya pola anyaman ketupat yang berseliweran satu sama lain, lapisan daun berselang-seling, terkadang lapisan daun janur berada di atas kadang di bawah.



Tag : Budaya
0 Komentar untuk "Menguak Sejarah, Filosofi Sampai Bentuk-Bentuk Ketupat"

Back To Top