::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Mbah Manshur Popongan Ulama dan Guru Menyambung Sanad Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Nusantara


NU Klaten - K.H. Muhammad Manshur adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan. Terletak Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak. Sumber-sumber Belanda menyebut Syaikh Muhamamd Abdul Hadi sebagai sosok religious leader yang sangat berpengaruh di Semarang. Syaikh Muhammad Abdul Hadi adalah putera Thohir bin Shodiq Jago bin Ghozali (Klaten) bin Abu Wasijan (Medono Pekalongan) bin Abdul Karim (Paesan Batang) bin Abdurrasyid Batang bin Saifudin Tsani (Ki Ageng Pandanaran II Semarang) bin Saifudin Awwal (Ki Ageng Pandanaran I, Sunan Tembayat Klaten).

Syaikh Muhammad Abdul Hadi, yang dikenal dengan panggilan Mbah Hadi Girikusumo, memiliki peran besar dalam dakwah Islam, khususnya dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah. Jaringan Tarekat Naqsyabandiyah yang dipelopori Mbah Hadi Girikusumo mengembang ke seantero Jawa Tengah melalui para murid spiritualnya, yang jumlahnya lebih dari seratus ribu orang.

Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, berjarak 20 kilometer dari Jamsaren Surakarta. Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebelum mendirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian, santri yang datang mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga Haji Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid. Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda diambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (ada sumber lain menyebutkan bernama Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan. Dari puterinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah oleh Haji Muqri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet kepemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Karena Mbah Manshur merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan. 

Mbah Kiai Manshur meninggal pada tahun 1955. Sejak itu, tarekat Naqsyabandiyah dipimpin oleh Gus Salman, cucunya dari seorang putri. Gus Salman bukan hanya menggantikan Mbah Manshur dalam posisi sebagai mursyid tarekat, tetapi juga menggantikan kakeknya sebagai pengasuh pondok pesantren. Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Dalam mengembangkan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah.

Menurut informasi dari banyak sumber, Mbah Manshur menyusun lafaz do’a bagi para santri sebelum membaca Al Qur’an. Lafaz do’a itu dipasang di Madrasah (sebutan salah satu gedung pengajian di Pondok Pesantren Al-Manshur, tepat di depan ndalem yang ditinggali Mbah Manshur). Lafaz doa tersebut menjadi karakter khas bacaan bagi santrisantri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sampai dewasa ini.

Lafaz tersebut berbunyi:
Allâhumma bil haqqi anzaltahu wa bil haqqi nazal
Allâhumma Adzdzim rughbatî fîh
Waj’alhu nûran li basharî
Wasyifâ-an li shadrî
Wadzahaban lihammî wa huznî
Allâhumma zayyin bihî lisânî
Wajammil bihî wajhî
Waqawwi bihî jasadî Watsaqqil bihî mîzâni
Waqawwinî ‘alâ thâ’atika wa athrâfan nahâr

Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat. Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Keberadaan Kiai Manshur telah menciptakan magnet kuat bagi Popongan, kampung kecil yang kemudian menjadi pusat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa Tengah. Dari Popongan inilah beberapa kiai besar belajar Tarekat dari Mbah Manshur. Di antaranya adalah Kiai Arwani Kudus, yang memperoleh ijazah untuk mengajar tarekat tradisi Naqsyabandiyah di Kudus. Putra Kiai Nahrowi, murid Kiai Muhammad Hadi Girikusumo, juga mendapat ba’iat dari Mbah Manshur. Dalam menjalankan upaya bimbingan spiritual, Mbah Manshur dibantu para badal (pengganti, wakil). Selain Kiai Arwani dan putra Kiai Nahrowi, dalam menyebarkan tarekat dan dakwah, Mbah Manshur juga dibantu oleh Kiai Abdullah Hafidz Rembang dan Kiai Hamam Nashir Grabag Magelang. Mbah Kiai Manshur juga mengangkat badal dari kaum hawa, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Ia mendapat mandat dari Mbah Manshur untuk menghidupkan suluk (laku spiritual) Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Kauman Surakarta. (LTN-PCNU Klaten)

Referensi:
Saifuddin, Ahmad., Astiti P Shofi. 2017. Enam Kiai di Solo Raya. Klaten: Darul Afkar Institute
NU Online

0 Komentar untuk "Mbah Manshur Popongan Ulama dan Guru Menyambung Sanad Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Nusantara"

Back To Top