::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Rubu’ Mujayyab, Warisan Pengetahuan Islam Yang Mulai Dilupakan


oleh: Minardi, Ketua LTN-PCNU Klaten

NU Klaten - Ilmu Pengetahuan Islam pernah berjaya pada masanya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya Alat dan Kitab (bukan hanya Kitab Keagamaan tetapi Kitab Sains) yang dihasilkan oleh Para Ulama dan Ilmuwan Islam. Metodologi Keilmuwan Islam ini yang masih dilestarikan oleh Pondok-pondok Pesantren, yang awalnya dibawa dan dikembangkan oleh Walisongo dan Ulama sezamannya ke Nusantara. Metodologi Keilmuwan Islam ini pada akhirnya 'kawin' dengan Metodologi Keilmuwan asli Nusantara, karena kita tahu bahwa Leluhur kita telah melahirkan Peradaban dan Kerajaan Besar, diantaranya seperti Sriwijaya dan Majapahit. Sampai pada akhirnya Displin Keilmuwan Islam yang telah 'kawin' dengan Disiplin Keilmuwan Nusantara ini harus tergeser oleh Model-model yang dibawa oleh Belanda lewat Politik Etisnya.



Salah satu alat hasil dari Ilmu Pengetahuan Islam adalah Rubu' Mujayyab. Rubu' Mujayyab sangat berkaitan erat dengan jagad astronomi, perbintangan, tata surya, atau sering disebut Ilmu Falak. Mungkin generasi muda Indonesia saat ini asing sekali dengan nama itu, tetapi keakuratan alat itu tidak kalah dengan alat-alat modern saat ini.  Rubu’ Mujayyab merupakan  salah  satu  alat  yang  digunakan  oleh  para  ilmuan terkemuka untuk menentukan hal yang terkait dengan ibadah yang didukung dengan data astronomi yang realible.



Rubu’ Mujayyab secara bahasa berarti seperempat. Rubu’ Mujayyab merupakan suatu alat  hitung  yang  berbentuk  seperempat  lingkaran,  ada  juga  yang  mengatakan  bahwa Rubu’ Mujayyab adalah  revolusi   dari   kuandran,   yaitu   alat   hitung   yang   pernah dimunculkan oleh al-Khawarizmi dan Ibn Shatir. Rubu’ Mujayyab dalam istilah astronomi di  sebut quadrant yang  merupakan  salah  satu  awal  yang  sederhana  dan  alat  untuk mengukur  astronomi, navigasi,  dan  survei. Rubu’ Mujayyab adalah  suatu  alat  berbentuk seperempat  lingkaran  yang  dipakai  untuk  menghitung  fungsi goniometri  seperti  derajat tinggi  benda (Khaeruddin, 1998: 38), sedangkan Hendro  Setyanto (2002: 1), mengartikan rubu’ mujayyab atau  kuadran  sinus  adalah alat hitung astronomis untuk memecahkan permasalahan segitiga bola dalam astronomi.

Rubu’ Mujayyab sebagai alat astronomi  hasil  eksperimen  para  astronom,  dalam perkembangannya  dikenal  setelah astrolabe. Mohammad al-Fazari merupakan orang Islam yang pertama mencipta astrolabe (jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang). Karyanya telah disalin ke bahasa latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis. Karya terjemahan tersebut dijadikan rujukan primer diberbagai universitas terkemuka di Eropa. Dari sinilah orang barat pertama kali mengetahui benda-benda langit. Rubu’ Mujayyab bentuknya  lebih  sederhana dari astrolabe. Kuadran, yang tidak terlalu rumit dan berbentuk seperti kepingan sembilan puluh derajat, dapat digunakan untuk memecahkan seluruh dasar pada astronomi ruang yaitu masalah  yang  berhubungan dengan  pemetaan  ruang  langit  untuk  ketinggian tertentu.

Bagian-bagian Rubu' Mujayyab:

  1. Markaz: Suatu titik yang terletak pada siku-siku 90o rubu’ mujayyab, yang memiliki lubang kecil dan terdapat padanya khoit (benang penghitung)
  2. Khoit: Benang yang terdapat pada lubang markaz dan keluar sepanjang melebihi badan rubu’ mujayyab yang diakhiri dengan bandul (syakul) yang berfungsi sebagai alat penghitung, dan diantara keduanya terdapat muri’.
  3. Syakul: Bandul yang terdapat pada ujung khoit berfungsi sebagai pemberat dan penyeimbang agar benang menjadi tegak dan tidak berubah-ubah ketika proses perhitungan.
  4. Muri’: Benang kecil yang menempel pada khoit, yang berfungsi sebagai penanda dan otak dalam perhitungan rubu’ mujayyab. Benang ini biasanya berwarna berbeda dengan khoitnya dan menempel longgar (agar dapat digeser naik turun).
  5. Qous al-irtifa’: Busur utama yang bernilai 0o sampai 90o dalam dua arah (bolak-balik / maju mundur) yang mengelilingi rubu’ mujayyab diantara jaib altamam dan al-Sittiny, dengan dibagian ujung busurnya terdapat nama-nama buruj pada setiap sekala 30o, dan 1o bernilai 60 menit. Adapun permulaan perhitungannya (Awal Qous) dimulai dari arah kanan orang yang melihat.
  6. Jaib al-Tamam: Garis di sisi kanan rubu’ mujayyab yang menghubungkan markaz dengan awal qous. Dan di dalamnya terdapat nilai dengan sekala 0-60 yang dimulai dari markaz sebagai awal jaib. Dimana setiap nilai dihubungkan oleh Juyub al-Mankusah ke Qous al-Irtifa’.



Rubu’ Mujayyab secara  konsep  trigonometri memiliki  garis yang terdapat  benang serta  bandul.  Alat  ini  merupakan  alat  bantu  hitung dalam  ilmu  falak yang  berfungsi untuk pengukuran benda-benda langit. Rubu’ Mujayyab adalah sebuah alat perangkat hitung astronomis untuk memecahkan permasalahan   astronomi   bolayang   terkait   dengan rukyat al-hilal dan menentukan posisi arah  kiblat. Dalam pengertian lain Rubu’ Mujayyab adalah alat sederhana yang digunakan untuk mengukur sudut vertikal dari pemisahan (ketinggian di atas ufuk). Rubu’ Mujayyab merupakan  hasil  karya  dari  ilmuan  muslim  pada  masa keemasan. Rubu’ Mujayyab adalah alat  yang  digunakan  untuk  menentukan  sesuatu  yang berhubungan  dengan  astronomi  yang terbaik  dijamannya,seperti  ketinggian  benda langit,  besarnya  deklinasi/mailul  awal bintang,  dan  juga  digunakan  untuk  menentukan arahdan  ketinggian. Dinamakan Rubu’ Mujayyab karena  alat  ini  merupakan  seperempat dari   lingkaran   penuh.   Satu   lingkaran   penuh   jumlah   sudutnya adalah  360   darajat, sehingga seperempat lingkaran jumlah sudutnya adalah 90 derajat.

Khaeruddin,
Dasar
-
Dasar Ilmu Falak
, (Karawang: t.p., 1998), h. 38
Referensi:

Khaeruddin. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Falak. Karawang: t.p.

Setyanto, Hendro. 2002. Rubu’ Al-Mujayyab. Bandung: Pudak Scientific.





0 Komentar untuk "Rubu’ Mujayyab, Warisan Pengetahuan Islam Yang Mulai Dilupakan"

Back To Top