::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Menelusur Agama Sebelum Islam Masuk ke Nusantara


oleh: Minardi, 
Ketua LTN-PCNU Klaten

NU Klaten - Anggapan bahwa sebelum masuknya Islam adalah di Jawa telah ada agama Hindu dan Budha tidak selamanya benar. Menurut Agus Sunyoto, Pengajar UIN Malang dan juga penulis buku Atlas Walisongo - sebuah buku fenomenal tentang sejarah Walisongo - bahwa jauh sebelum agama-agama besar di Indonesia ini ada sudah ada agama-agama atau kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Tradisi atau ajaran ini telah berkembang di Jawa sejak Jawa pra Hindu, bahkan pra sejarah Jawa. Tradisi atau ajaran ini adalah Kapitayan, ada yang menyebutnya Kejawen, yang secara keliru disebut Belanda sebagai Dinamisme dan Animisme.

Agama Kapitayan dikenal semenjak ras Proto Melanesia keturunan Homo Erectus menghuni Asia Tengara dan pulau-pulau Nusantara sampai kedatangan ras Austronesia keturunan Homo Sapiens di Asia Tenggara. Agama ini telah di jalankan turun temurun oleh keturunan mereka, yaitu ras Australo Melanesia dan kemudian memengaruhi ras Proto (yang pertama) Melayu dan ras Deutro Melayu, jauh sebelum kebudayaaan Indus dan kebudayaan Cina datang pada awal abad Masehi. Kapitayan adalah agama purbakala yang dianut oleh penghuni lama pulau Jawa berkulit hitam (ras Proto Melanesia keturunan Homo Wajakensis). Jejak-jejak peninggalan Kapitayan di Nusantara adalah ditemukannya menhirdolmen dan jejak-jejak arkeologi zaman pra-sejarah. Sejarah Kapitayan ini dapat ditelusuri lewat cerita-cerita kuno yang di dalamnya berbau mitos yaitu mitos Jawa. 

Agama Hindu dan Budha hanya dipeluk oleh kalangan ningrat di Kraton-kraton, sedangkan masyarakat umum lebih mengikuti Ajaran Kapitayan. Dewa atau Yang Dipuja oleh Kapitayan adalah Sang Hyang Taya, berasal dari kata taya yang bermakna suwung atau kosong. Menurut Agus Sunyoto, masyarakat Jawa pada masa itu sudah memahami bahwa Tuhan tidak dapat diserupakan dengan apapun, tidak bertempat, tidak terlihat, dan asal mula segala kejadian. Kapitayan merupakan agama yang pertama kali di anut oleh masyarakat atau orang Jawa sebelum kedatangan agama-agama besar dunia di Indonesia (khususnya Jawa). 

Sang Hyang Taya merupakan sembahan utama dalam Kapitayan yang bermakna hampa atau kosong (Suwung, atau Awang-Uwung). Taya bermakna Yang Absolut, yang tidak dapat dipikirkan dan dibayangkan. Orang Jawa mendefinisikannya dalam satu kalimat “Tan Kena Kinaya Ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Kata awanguwung bermakna ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Supaya dapat disembah, Sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat Ilahi yang disebut Tu dan To, yang bermakna ‘daya ghaib’ bersifat adikodrati. Tan Kena Kinaya Ngapa itu merupakan bentuk Ketauhidan Bangsa Jawa dan Nusantara pada umumnya, yang merupakan bibit  awal mudahnya dimasukinya Ajaran Islam ke Nusantara. Nama tempat ibadah Kapitayan adalah Sanggar, kemudian diadopsi Islam menjadi Langgar. Lalu ada juga Orang Kapitayan ibadahnya menghadap ke lobang yang menunjukkan kosong, yang itu sama dengan lobang pengimaman tempat sholat di masjid atau langgar.

Referensi: 

Agus Sunyoto. 2012. Atlas Wali Songo (Buku Pertama Yang Mengungkap Wali Songo Sebagai
Fakta Sejarah). Bandung: Mizan Media Utama.



Tag : Opini
0 Komentar untuk "Menelusur Agama Sebelum Islam Masuk ke Nusantara"

Back To Top