::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Makam Wali, Ulama dan Para Sholeh serta Petilasan di Klaten (Bagian 1)



NU Klaten - Menziarahi Makam-makam Ulama dan Orang Sholeh adalah sebuah kebajikan. Dengan berziarah maka seseorang diharapkana mampu meneladani Para Ulama dan Orang Sholeh yang telah mensyiar dan Dakwah Islam. Selain itu, juga mampu dijadikan sarana untuk mengingat mati. Mendekat kepada Ulama dan Orang Sholeh menjadi sarana Tombo Ati (tombo ati ketiga: Wong Kang Sholeh kumpulono) karena akan mendapatkan cipratan keberkahan, tabarukkan, mampu memandang keteduhan wajahnya dan keteguhan hatinya, walaupun telah meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda: Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana. (H.R. Muslim)

Berikut ini kami informasikan Makam-makam Para Wali, Para Ulama dan Para Sholeh yang berada di Klaten:

1. Sunan Pandanaran Bayat
Banyak versi tentang sosok Sunan Pandanaran ini, tetapi yang paling umum dikisahkan secara turun-temurun bahwa Sunan Pandanaran adalah mantan Adipati Semarang. Beliau dimakamkan di Desa Paseban, Kecamatan Bayat. 

Masjid Golo,
di belakang masjid itu merupakan pertama Sunan Pandanaran


Pada zamannya, beliau mengajarkan falsafah Patembayatan atau Tembayatan atau istilah sekarangnya Musyawarah. Beliau juga mengajarkan cara membatik, cara membuat keramik dengan teknik putaran miring yang merupakan satu-satunya cara yang hanya ada di Indonesia bahkan dunia, beliau juga menemukan varietas beras rojolele. Makam Sunan Pandanaran ramai dikunjungi penziarah setiap malam Jum'at Legi. Di kompleks pemakaman beliau juga dimakamkan para keluarga, seperti Nyi Ageng Kaliwungu (istri), Nyi Ageng Rakitan (istri), Panembahan Jiwo (putra), Panembahan Minang Kabul (cucu), Trah Ki Ageng Giring, dan lain-lain dan sahabat, seperti: Dampu Awang, Ki Pawilangan, Ki Sabuk Janur, Ki Ageng Sumilir, dan lain-lain serta anak keturunannya. 

Gerbang Makam Saat Ini


Sebenarnya awal mulanya beliau dimakamkan di Bukit Dadap Tulis yang berada di belakang Masjid Golo, tetapi atas prakarsa Sultan Agung, makam beliau dipindahkan ke Bukit Cokro Kembang yang sekarang sering diziarahi. Sedangkan di sebelah barat makam beliau saat ini, itulah yang dinamakan Bukit Jabalkat

2. Panembahan Minang Lase
Eyang Panembahan Minang Lase merupakan cucu dari Sunan Pandanaran. Beliau dimakamkan di Bukit Konang, Dukuh Konang, Desa Kebon, Kecamatan Bayat. 

Gerbang Makam Panembahan Minang Lase


3. Syekh Domba
Syekh Domba merupakan sahabat dari Sunan Pandanaran. Dimakamkan di Bukit Cakaran, Dukuh Cakaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat. 


Gerbang Makam Syekh Domba

Dikisahkan saat Sunan Pandanaran, Nyai Ageng Kaliwungu (istri) dan Panembahan Jiwo (putra) melakukan perjalanan dari Semarang ke Jabalkat (Bayat) memenuhi dhawuh Sunan Kalijaga, beliau dirampok oleh tiga perampok. Sebelumnya Sunan Panadaran sudah ditemui oleh perampok, tetapi Sunan Pandanaran tidak membawa apa-apa dan mengatakan bahwa istrinya membawa banyak harta. Setelah merampok istri Sunan Pandanaran (Nyai Ageng Kaliwungu) dan lokasi itu saat ini menjadi Salatiga atau dari kata Salah Tiga karena ada tiga orang yang berbuat salah. 

Makam Syekh Domba


Dua perampok tidak puas dan masih penasaran untuk merampok Sunan Pandanaran, kemudian Sunan mengatakan "Wong wis dikei kok nyusur wae koyo wedhus" (orang sudah dikasih untuk maksa terus kayak kambing/domba), saat itu pula kepala salah satu perampok itu berubah menjadi domba, dan beliau bernama Syekh Domba. Syekh Domba menyesal dan meminta ampun serta mohon kepalanya dikembalikan seperti sedia kala, tetapi Sunan Pandanaran meminta agar Syekh domba dan temannya mengisi padasan (tempat) Genthong Sinogo yang berada di atas bukit dari bawah bukit menggunakan Kranjang Moto Ero

Kranjang Moto Ero


Walaupun mustahil, tetapi karena niat untuk tobat yang kuat, setelah Sunan Kalijaga datang, tiba-tiba Genthong Sinogo airnya penuh dan kepada Syekh Domba kembali ke sedia kala

4. Syekh Kewel
Syekh Kewel merupakan sahabat dari Sunan Pandanaran. Dimakamkan di Desa Nengahan, Kecamatan Bayat. 

Makam Syekh Kewel


Beliau itu salah satu dari dua perampok yang masih bersikeras merampok Sunan Pandanaran. Jika Syekh Domba kepalanya berubah menjadi domba, maka Syekh Kewel wajahnya berubah menjadi ular, jatuh ke tanah dan ngewel (gemeteran). 

5. Mbah Nyai Tasik
Saat pertama kali Sunan Pandanaran sampai di daerah Bayat, beliau ikut orang jualan srabi yang bernama Nyai Tasik. Sunan Pandanaran menyembunyikan diri sebagai mantan Adipati maupun Ulama Agung, tetapi lebih tawadlu' menggunakan nama Slamet. Pada saat itu, daerah situ banyak perampok, lalu ada nenek yang menggendong sebakul beras, tiba-tiba ditanya oleh seseorang di tengah jalan "Anda membawa apa ini?" saking takut dirampok nenek tadi bilang kalau "saya membahwa wedi (pasir)" sesampainya di pasar, beras tadi berubah menjadi pasir (wedi: Bahasa Jawa), maka sampai saat ini, pasar dan daerah itu bernama Wedi, salah satu kecamatan di Klaten. Seseorang yang bertanya tadi adalah Sunan Pandanaran sendiri. 

Makam Nyai Tasik


Kejadian lain, sambil membantu Nyai Tasik berjualan srabi, Slamet (Sunan Pandanaran) juga berjualan kayu bakar. Namun Nyai Tasik ada iri dalam hatinya, karena kayu bakarnya laris maka Nyai Tasik dengan nada marah meminta menjadikan tangannya Slamet sebagai kayu untuk memasuk. Tanpa ragu, Slamet memasukkan tangannya ke tungku dan seisi pasar mendadak ramai, karena ada orang tangannya menyala terbakar tetapi tidak kesakitan atau melepuh. Setelah tahu, jika Slamet itu sebenarnya adalah Sunan Pandanaran, maka Nyai Tasik meminta maaf dan menjadi pengikut setia Sunan Pandanaran. Makam Nyai Tasik di Kalitengah, Wedi, barat Pasar Wedi, dari  Pasar Wedi ke arah Srowot kanan jalan.

6. Panembahan Kajoran
Beliau di makamkan di Desa Kajoran, Klaten Selatan. Beliau masih Trah Sunan Pandanaran. Beliau adalah pendukung utama Trunojoyo dalam melawan Mataram Plered yang didukung Belanda. 

Makam Panembahan Romo ing Kajoran

Bahkan Trunojoyo sendiri merupakan menantu Panembahan Kajoran, yang oleh Adipati Anom (kelak Amangkurat II) sering disebut Panembahan Romo. Sejarawan Belanda terkenal yaitu de Graaf menulis satu buku khusus tentang Kajoran yaitu "Het Kadjoran vraagstuk" atau Masalah Kajoran, saking pentingnya peranan Kajoran pada massa itu.

7. Mbah Mindi
Letak di Dukuh Mindi, Desa Kaligayam, Kecamatan Wedi. Makam Eyang Gusti Semaring Gedhong Mindi, yang memang tidak menghendaki nama tokoh yang dimakamkan di sini diketahui oleh masyarakat umum. 

Makam Mbah Mindi


Di komplek makam juga terdapat masjid yang bernama Masjid Mindi. Seperti juga dengan makamnya tidak diketahui kapan dan oleh siapa masjid ini didirikan.

8. Ketip Banyumeneng
Dikisahkan zaman dahulu zaman Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di daerah Cawas Klaten diresahkan dengan adanya kawanan perampok. Oleh Sri Susuhunan Pakubuwana mengutus seorang Khatib Masjid Agung Kraton Surakarta yang bernama KH Insyayang. Perjalan Sang Kyai diketahui oleh perampok. Saat itu hujan badai karena musim penghujan. 

Makam Mbah Ketip Banyumeneng


Para perampok membedah tanggul sungai dengan harapan perjalanan Sang Kyai terhenti. Air membanjiri perkampungan. Air bergerak besar menakutkan. Namun atas karomah yang Allah berikan. Sang Kyai terlihat dari kejauhan. Air menjadi meneng atau tenang. Dia terlihat dari kejauhan ketip-ketip berjalan di atas air. Oleh karena itu disebut Kyai Ketip Banyumeneng. Selama hidupnya beliau sering dimintai tolong kalau ada warga yang sakit. Makamnya terletak di belakang Masjid Besar Kauman Sridjaja selatan Pasar Cawas.

9. Ki Ageng Mad Syahar
Beliau termasuk Trah Brawijaya dari Majapahit dan saudara jauh dari Sultan Hadiwijaya. Beliau dimakamkan di Desa Bawak, Kecamatan Cawas.

Makam Ki Ageng Mad Syahar


10. Ki Ageng Glego
Beliau dimakamkan di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk. Beliau bersama Ki Ageng Jayengresmi dan Ki Ageng Siwogoro (atau ada yang menyebutnya Ki Ageng Selogoro) ikut mensyiarkan Islam di masa trasisi Majapahit ke Demak. 

Makam Ki Ageng Glego

Di setiap awal Syawal, Ki Ageng Glego selalu menggelar jathilan sebagai sarana Dakwah dan masih dilestarikan sampai saat ini. Beliau juga berdakwah dengan menggunakan media pencak silat.



Semoga ini menjadi informasi bagi kita untuk berziarah, tabarukkan dan meneguhkan hati dan diri untuk senantiasa meneruskan Dakwah Perjuangan beliau-beliau. (Minardi)

Tag : Tokoh, Ziarah
0 Komentar untuk "Makam Wali, Ulama dan Para Sholeh serta Petilasan di Klaten (Bagian 1)"

Back To Top