::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Kyai Abdul Manan, Didhawuhi Mbah Hasyim Asy'ari Mendirikan NU di Klaten

Makam KH. Abdul Manan beserta keluarga

NU Klaten - Seribu langkah akan selalu diawali oleh langkah pertama. Demikian pula perumpamaan atas tonggak sejarah berdiri sebuah organisasi di suatu wilayah, pasti akan Para Perintis yang Istiqomah membangun pondasi organisasi. Demikian pula dengan sosok tokoh dibalik berdirinya NU di Klaten. Beliau adalah KH. Abdul Manan, Ketua Tanfidziyah PCNU Klaten. Sebagaimana yang dituturkan oleh Kyai Bambang Riyadi, cucu beliau saat ditemui oleh crew LTN-PCNU Klaten

KH. Abdul Manan memiliki jalur keturunan sampai ke Ponorogo dan masih merupakan Keturunan Laskar Pangeran Diponegara:

Kyai Potrodipo -> Kyai Tahudin -> Kyai Mukdimukowi -> Kyai Mukhoyat atau sering disebut Singo Waspodo, seorang Laskar Pangeran Diponegara -> Kyai Maulani -> Kyai Abdul Ghoni memiliki empat putra dan putri yaitu:

  1. Nyai Sayuti; 
  2. Kyai Umar; 
  3. Kyai Ngamar atau KH. Abu Amar (Kyai Jamsari/Kyai Ngabei Projowijoto) dari Ponpes Jamsaren Surakarta atau Solo; 
  4. Kyai Ngamir atau Kyai Abdul Manan


Istri Mbah Abdul Manan dari Tanjungsari Boyolali, masih Trah Laskar Diponegara juga dan Trah Kyai Kasan Besari dari Ponorogo.

KH. Abdul Manan pertama kali nyantri di Kadirejo (sekarang wilayah Karanganom, Klaten) dan terakhir nyantri di Tebu Ireng kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Dan, atas dhawuh Mbah Hasyim Asy'ari inilah KH. Abdul Manan mendirikan NU pertama kali di Klaten.

Khidmahnya kepada NU tidak perlu diragukan kembali, beliau sering mendirikan majelis-majelis baik di rumahnya maupun di desa-desa tetangga. Bahkan beliau pernah menghadiri Muktamar NU ke-12 pada tahun 1937 di Malang dengan menggunakan sepeda onthel. Pada masa perang kemerdekaan, rumah beliau menjadi pusat perjuangan mengusir penjajah.

Beliau memiliki musholla atau langgar yang digunakan untuk mengajar ngaji para santrinya. Di Langgar itu pula beliau menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai seorang Mursyid Tarekat Syadziliyah, beliau tidak pernah absen untuk wiridan sampai pagi. Habis Isya wiridan di Musholla lalu dilanjutkan sampai pagi di rumah. Dikisahkan beliau bai’at tarekat Syadziliyah di Turusan, Jemawan, Jatinom, Klaten.

Makam Kyai Madani beserta keluarga

Di sebelah makam beliau ada makam Kyai Madani, seorang Penghulu Kraton Surakarta. Kala itu Mbah Abdul Ghoni termasuk Guru pengajar di Pondok Pesantren yang didirikan Kyai Madani. Ponpes itu juga termasuk sebagai tempat latihan laskar Diponegara.

Konon, Kyai Madani dari Surakarta lalu ke selatan mendirikan Lumbung dan desa itu saat ini dinamakan LumbungKerep (saat ini masuk Kecamatan Wonosari, Klaten), lalu ke pindah lagi ke Batikan (saat ini masuk wilayah Kecamatan Juwiring, Klaten) lalu menetap di Kauman sampai akhir hayatnya. Awal mulanya desa itu bernama Kauman dukuh ini, kemudian lambat-laun ikut menjadi Pengkol.

KH. Abdul Manan wafat pada tahun 1972 di usia 83 tahun. Saat ini langgar atau musholla beliau dinamakan Mushola Al Manan. Selama Ramadhan, Jumat habis Ashar diadakan tahlil, manaqib dan buka bersama. Malam Selasa diadakan manaqiban, lalu malam Sabtu diadakan mujahadah. Setiap tanggal 8 Maulid diadakan haulnya KH. Abdul Manan. (Minardi)



Tag : Tokoh
0 Komentar untuk "Kyai Abdul Manan, Didhawuhi Mbah Hasyim Asy'ari Mendirikan NU di Klaten"

Back To Top