::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Dzikir "Yo Kayuku Yo Kayumu" dan Keistiqomahan Sunan Geseng


NU Klaten - Sunan Geseng, atau sering pula disebut Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo, adalah murid Sunan Kalijaga. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya sehingga merelakan badannya menjadi hangus (geseng).

Berdasarkan silsilah Jawa Raden Mas Cokrojoyo adalah keturunan Prabu Brawijaya dengan Dewi Rengganis, yang melahirkan Raden Rara Rengganis II. Kemudian Ki Ageng Pakotesan menikah dengan Raden Rara Rengganis II melahirkan Pangeran Semono atau sering disebut Pangeran Muryo. Dari hasil pernikahan Pangeran Semono inilah lahir Raden Mas Cokrojoyo. 

Berdasarkan Babad Tanah Jawi, pertemuan Cokrojoyo dengan Sunan Kalijaga diyakini saat Kanjeng Sunan melakukan perjalanan syiar ke daerah Bagelan (kini masuk Purworejo) untuk menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. 

Setiba di daerah Bagelan, Sunan Kalijaga singgah di rumah Cokrojoyo seorang penyadap aren untuk dijadikan gula memiliki kebiasaan bernyanyi (nembang) saat membuat gula aren. 

Mendengar suara nyanyian Cokrojoyo, Sunan Kalijaga sangat takjub, kemudian dia memanggilnya untuk mendekat. 

Ditanya oleh Kalijaga mengenai hasil penjualan dari gula aren tersebut. Dengan segera Cokrojoyo pun menjawab bahwa hasil gulanya bisa digunakan untuk fakir miskin. 

Mendengar jawaban tersebut Sunan Kalijaga kemudian memerintahkan Cokrojoyo untuk mengubah syair tembangnya dengan bacaan- bacaan dzikir dan pujian kepada Allah serta memintanya untuk memperlihatkan hasil gulanya kepada dia nanti. 

Setelah memerintahkan hal tersebut kepada Cokrojoyo, Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Singkat cerita Cokrojoyo kembali melakukan kegiatan membuat gula aren dengan bernyanyi menggunakan syair barunya yang didapat dari Kanjeng Sunan. 

Cokrojoyo sangat terkejut melihat gula hasil olahannya ternyata menjadi emas batangan. Sesaat setelah menyadari mukjizat tersebut Cokrojoyo memutuskan untuk mencari Sunan Kalijaga untuk mengucapkan terimakasih sekaligus memohon untuk dapat diterima sebagai murid Sunan Kalijaga.

Setelah menemukan keberadaan Kanjeng Sunan, Cokrojoyo mengutarakan maksud dan tujuannya. Mendengar apa yang disampaikan oleh Cokrojoyo kepada dia, Sunan Kalijaga memberikan syarat pada Cokrojoyo untuk tinggal di hutan hingga Kalijaga kembali ke tempat tersebut. 

Dengan menancapkan tongkatnya, Sunan Kalijaga berpesan kepada Cokrojoyo agar menunggui tongkat tersebut sambil berdzikir kepada Allah SWT hingga mereka bertemu kembali.Dalam satu versi lainnya disebutkan Cokrojoyo diperintahkan sujud oleh Sunan Kalijaga di sebuah batu.

Bulan demi bulan telah lewat, sehingga tempat dimana Cokrojoyob berdzikir sambil menunggu tongkat Sunan Kalijaga telah ditumbuhi ilalang. 

Seiring dengan waktu kemudian Sunan Kalijaga yang telah lama berkelana, teringat kepada calon muridnya yang telah lama dia tinggalkan. 

Maka dia pun kembali ke hutan tempat dia dulu memerintahkan Cokrojoyo menunggui tongkatnya. Tapi Sunan tak menemukannya karena keadaan telah banyak berubah. Dia mencari kesana-kemari, dibantu beberapa muridnya yang lain. 

Karena tak kunjung menemukan yang dicari, Sunan pun memerintahkan membakar ilalang yang lebat di hutan itu untuk memudahkan pencarian. Maka dibakarlah ilalang yang lebat itu oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Api membubung tinggi, dan ilalang pun musnah.

Setelah api reda, dan lembah yang semula penuh dengan ilalang itu terang benderang dan tampaklah Cokrojoyo. Sekalipun api membakar ilalang di sekelilingnya. 

Tapi, ajaib tubuh Cokrojoyo dan tongkat sang Sunan tak terbakar sedikitpun, hanya beberapa bagian bajunya yang terbakar.

Betapa terharunya Sunan Kalijaga menyaksikan kesetiaan dan kekuatan hati Cokrojoyo. Konon sejak saat itu Cokrojoyo diberi gelar Sunan Geseng oleh Sunan Kalijaga.

Konon saat Sunan Geseng atau Mbah Cokrojoyo berkholwat (bertapa) senantiasa melafadzkan dzikir yang sebagaimana diajari Gurunya, yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengajari dzikir “Ya Hayyu Ya Qayyum” tetapi karena lidah logat Jawa,  maka keluarnya “Yo Kayuku Yo Kayumu”.

Setelah itu Sunan Geseng ditugasi berdakwah dan menjadi imam di daerah Lowanu, Purworejo, Jawa Tengah. 

Beberapa waktu tinggal di Lowanu, kemudian dia menetap di Jolosutro, Bantul, Yogyakarta sampai akhir hayatnya. Sampai kini makam Sunan Geseng masih sering diziarahi banyak orang.
Tag : Hikmah, Tokoh
0 Komentar untuk "Dzikir "Yo Kayuku Yo Kayumu" dan Keistiqomahan Sunan Geseng"

Back To Top