::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Kecermatan Dalam Memilih Pemimpin



Negara kita yaitu Negara Indonesia menerapkan sistem demokrasi. Maka di dalam kehidupan berdemokrasi ini, di dalam politik, pemerintahan dan hukum, setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama. Termasuk di dalam pemilihan ketua, manajer, kepala dan pemimpin instansi negara, khususnya dalam pemilihan Presiden-Wakil Presiden, DPR-RI, DPRD, Gubernur-Wakil, Bupati-Wakil, Walikota-Wakil, DPD-RI, Kepala Desa, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. 

Walaupun istilah pemimpin, kepala, ketua, manajer itu sedikit berbeda maknanya, namun memiliki posisi sentral dalam sebuah organisasi. Organisasi di sini bukan sekedar lingkup kecil, tetapi negara itu sendiri merupakan sebuah organisasi dalam lingkup besar. Oleh karena itu, bagi NU, kedudukan pemimpin atau ketua atau kepala atau manajer sangat penting dan strategis. 

Dalam perspektif administrasi, pimpinan atau manajer merupakan orang yang bertanggung jawab atas organisasi atau unit yang dipimpinnya. Tugas manajer dapat digambarkan dalam kaitannya terorganisir yang diidentifikasi dengan suatu posisi (Mitzberg dalam Herminingsih, 2009). Mitzberg menjelaskan bahwa manajer dapat memainkan tiga peran melalui kewenangan dan statusnya di dalam melaksanakan tuga-tugas yang dipercayakan antara lain: 
  1. Peran interpersonal. Dalam hal ini seorang manajer harus dapat memainkan peran sebagai forehead, leader, dan liaison (penghubung). 
  2. Peran informasional. Dalam hal ini seorang manajer harus dapat memainkan perannya sebagai monitor, pemberi informasi dan sebagai spokesperson
  3. Peran pengambil keputusan. Peran ini, manajer digambarkan sebagai entrepreneur (entrepeneur), disturbance handle (penangkal masalah), resources allocator (pengalokasi sumber daya) dan negotiator (negosiator).
Warga NU wajib memahami dalam masalah kepemimpinan ini, karena untuk menjaga eksistensi keberlangsungan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU) di muka bumi ini. Mengapa NU harus eksis, karena NU yang mewadahi dan menjaga Kemurnian Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, yang disanadkan orang ke orang langsung kepada Rasulullah SAW, tanpa terputus oleh radio, internet, "katanya" dan angan-angan.

Perlu diingat, jika dipinjamkan dari teorinya Mitzberg, bahwa seorang pemimpin itu memiliki peran dalam pengambilan keputusan. Kemudian pertanyaan lebih lanjut, keputusan dalam hal apa? Dua keputusan yang melekat kepada seorang pemimpin, yakni: memutuskan kebijakan dan memutuskan anggaran. Walaupun memiliki beberapa keputusan yang melekat, setidaknya dua (2) hal itu yang paling mengena bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Sudah menjadi naluri manusia bahwa manusia akan "memanggil orang" yang di dekatnya. Manusia jarang ditemukan 100% objektif kepada setiap orang, kebanyakan manusia itu subjektif. Ada kecenderungan manusia akan condong untuk memutuskan kebijakan dan anggaran yang menguntungkan kelompoknya terlebih dahulu.

oleh: Minardi, S.IP, Mahasiswa S2 Ketahanan Nasional UGM

Literatur:
Mitzberg, H. 1973. The Nature of Manajement Work. New York: Harper Row





Tag : Opini
0 Komentar untuk "Kecermatan Dalam Memilih Pemimpin"

Back To Top