::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Teladan: Raden Ng. Ronggowarsito Mengingatkan Akan Zaman Edan dan Hoax



oleh: Minardi, Ketua LTN NU Klaten

NU Klaten - Raden Ngabehi Rangga Warsita atau lisan Jawa menyebutnya Ronggowarsito. Beliau lahir pada pada 14 Maret tahun 1802 (bertepatan dengan tahun meninggalnya kakek buyutnya yaitu Yasadipura I) di Surakarta dan wafat pada tahun 1873 di desa Palar, Trucuk, Klaten. Beliau dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa. 

Raden Ngabehi Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham (tapi ada yang menulis Gus Burhan) adalah putra dari RM. Ng. Pajangsworo dan Nyai Ajeng Ronggowarsito. Ronggowarsito berasal dari keluarga bangsawan keraton Surakarta. Dari garis ayahnya, ia adalah keturunan ke -10 dari Sultan Hadiwijoyo, pendiri kerajaan Pajang. Sedangkan dari garis keturunan ibu adalah keturunan ke-13 dari Sultan Trenggono, raja Demak ketiga.



Beliau setelah berguru dari Ulama dan Sesepuh di Surakarta, beliau kemudian berguru ke Pesantren Gerbang Tinatar, yang ada di Tegalsari, Ponorogo. Pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Kasan Besari, seorang ulama yang dikenal keluasan ilmunya. Kasan Besari adalah menantu Paku Buwono IV, dan pernah menuntut ilmu dengan Satronagoro, kakek Bagus Burham. Karena proses yang panjang, kemudian beliau mampu menguasai banyak ilmu dan memiliki keluasan wawasan, kemudian ia diangkat sebagai badal, wakil Kiai Kasan Besari untuk berdakwah dan berceramah di luar pesantren.

Karya sastra tulisan Ranggawarsita antara lain: 
  1. Bambang Dwihastha: cariyos Ringgit Purwa; 
  2. Bausastra Kawi atau Kamus Kawi – Jawa, beserta C.F. Winter sr;
  3. Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata, beserta C.F. Winter sr;
  4. Sapta Dharma;
  5. Serat Aji Pamasa;
  6. Serat Candrarini;
  7. Serat Cemporet;
  8. Serat Jaka Lodang;
  9. Serat Jayengbaya;
  10. Serat Kalatidha;
  11. Serat Panitisastra;
  12. Serat Pandji Jayeng Tilam;
  13. Serat Paramasastra;
  14. Serat Paramayoga;
  15. Serat Pawarsakan;
  16. Serat Pustaka Raja;
  17. Suluk Saloka Jiwa;
  18. Serat Wedaraga;
  19. Serat Witaradya;
  20. Sri Kresna Barata;
  21. Wirid Hidayat Jati;
  22. Wirid Ma'lumat Jati;
  23. Serat Sabda Jati
  24. dan masih banyak lagi, tidak kurang ada 50 karya beliau


Istilah Zaman Edan konon pertama kali diperkenalkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu bait yang paling terkenal adalah:

amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.

yang terjemahannya sebagai berikut:
(menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.)



Di dalam serat yang sama, beliau juga memperingatkan kita akan bencana yang bisa ditimbulkan dari hoax, ujaran kebencian dan berita berisi fakta tapi kurang data.

Dasar karoban pawarta,
Bebaratun ujar lamis,
Pinudya dadya pangarsa,
Wekasan malah kawuri,
Yen pinikir sayekti,
Mundhak apa aneng ngayun,
Andhedher kaluputan,
Siniraman banyu lali,
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

yang terjemahannya sebagai berikut:
(Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.)
Tag : Opini
0 Komentar untuk "Teladan: Raden Ng. Ronggowarsito Mengingatkan Akan Zaman Edan dan Hoax"

Back To Top