::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Hati-hati Jika Ada yang Bilang: "rasah NU-NU'an"



oleh Minardi

NU Klaten - Apa sich makna dari kata "Nahdlatul Ulama" ? Mengapa bukan dinamakan Ikatan Ulama atau Persatuan Ulama? Mungkin diantara kita banyak yang tidak paham dengan makna dan sejarah penamaan Nahdlatul Ulama. 

Sang pemberi nama, yaitu KH Mas Alwi bin Abdul Aziz menjelaskan bahwa mengapa beliau mengusulkan nama "Nahdlatul Ulama" karena kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya saja, kata Kiai Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisasi secara rapi.

Tentang nama “Nahdlatul Ulama”, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga punya pendapat. Dalam sejumlah kesempatan ia mengatakan bahwa nama ini diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab al-Hikam yang populer di kalangan pesantren itu.

Akar kata “Nahdlatul Ulama” termuat dalam salah satu aforismenya yang berbunyi: Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah). Menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering mengutip ungkapan itu. Kata 'yunhidlu', artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah jalan Allah. 

Maka inilah alasan pentingnya ber-NU agar Ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah masih terjaga di Bumi Pertiwi ini. Jadi jika ada yang bilang "ra sah NU-NU'an, sing penting yasinan, sing penting tahlilan, sing penting sholawatan" maka hendaknya perlu lebih hati-hati untuk diucapkan maupun diikuti.

Karena kondisi saat itu, terjadi belum terkoordinasikannya Ahlussunnah wal Jama'ah dengan baik. Jika era Kesultanan Demak dahulu, paham Ahlussunnah wal Jama'ah diwadahi dengan Majelis Walisongo dan dilindungi secara politik dan ekonomi oleh Kesultanan Demak. Dan koordinasi terakhir tercatat pada saat Perang Diponegara melawan Belanda. 

Suasana saat itu, KH Mas Alwi bin Abdul Aziz mengungkapkan "Tidak semua Kyai mempunyai jiwa Nahdloh (Bangkit). Ada Kyai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak peduli kepada Jam'iyyah." Al Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan sering menyampaikan bahwa NU ada untuk Mewadahi paham Ahlussunnah wal Jama'ah. Mencuplik saja, Syarif Husein di Jazirah Arab bisa kalah melawan arus Wahabi karena Ahlussunnah wal Jama'ah saat itu belum sempat dibuatkan wadah.



Tag : Opini
0 Komentar untuk "Hati-hati Jika Ada yang Bilang: "rasah NU-NU'an""

Back To Top