::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Kisah Laron di Makam Mbah Nur Muhammad Ngadiwongso



Ta'zimnya Kawanan Laron

Laron, termasuk salah satu jenis serangga yang keluar pada awal musim hujan. Nama lain dari hewan ini adalah anai-anai atau rayap. Ciri fisik rayap menyerupai semut, dengan tubuh yang lebih lunak dan pinggang lebih besar. Biasanya serangga ini akan bermunculan pada senja dan malam hari. Kebiasaannya adalah mengerubuti lampu di dalam rumah dan tempat-tempat yang terang. Hal ini dilakukan untuk mencari kehangatan.
.
Malam itu saya berada di makam Kyai Nur Muhammad Salaman Magelang dan melihat banyak Laron disekitar teras makam beliau “wajarlah banyak laron kan lagi musim hujan”. Saat berada di ruangan dalam dekat makam Kyai Nur Muhammad, saya terdiam “betapa takdzimnya para laron terhadap Kyai Nur Muhammad, padahal lampu di ruang dalam lebih banyak dan lebih terang akan tetapi tak ada satupun dari kawanan Laron yang masuk di ruang dalam dekat makam, mereka hanya memilih lampu-lampu di teras makam”.


Kisah Mbah Dalhar Watucongol dengan Mbah Nur Muhammad Ngadiwongso

Berbicara tentang Kyai Nur Muhammad saya jadi teringat tentang kisah Kiai Ahmad Dalhar, Watucongol, Muntilan, Magelang suatu saat melakukan rangkaian ibadah haji. Ia bertemu dengan Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso Salaman Magelang. Waktu bergulir hingga cukup lama, Mbah Dalhar tidak segera berkunjung. Begitu pula sebaliknya, Kiai Nur Muhammad juga belum pernah mendatangi rumah Mbah Dalhar sejak kali pertama bertemu saat musim haji kala itu.

Suatu saat, Mbah Dalhar mendapat undangan sebuah acara pada satu tempat, pada era di mana belum banyak masyarakat yang mempunyai kendaraan mewah seperti sekarang ini. Waktu itu Mbah Dalhar diantar oleh H Bukhari, hartawan asal Desa Tirto, Grabag, Magelang. 

Bersama H Bukhari, Mbah Dalhar menuju dan kemudian sampai di rumah tujuan, kediaman Kiai Nur Muhammad. Rumahnya persis di samping rumpun bambu nan asri. Dan di sana, layaknya tamu terhormat, keduanya dijamu istimewa. Saking istimewanya, jamuan makanan dan minuman yang disajikan oleh Kiai Nur Muhammad ini membuat H Bukhari tidak akan pernah lupa semasa hidupnya di dunia. 

Bagaimana tidak? Setelah menyantap menu sajian Kiai Nur Muhammad, H Bukhari mengaku tak pernah merasa lapar dan dahaga sama sekali. Selain itu, ia menjadi tak punya ketertarikan dengan ragam makanan apapun setelah menikmati hidangan Kiai Nur. Baginya, selama hidup, kelezatan makanan apapun tidak ada yang sebanding dengan milik Kiai Nur Muhammad. 

Sekitar sepuluh hari berselang, H Bukhari yang disebut masyarakat sekitar sebagai hartawan kaya raya mendapat undangan pada sebuah acara keluarganya di suatu daerah. Sampai saat itu pula, ia masih merasakan kenyang atas makanan sepuluh hari silam. Ia juga masih tak punya selera makan. Namun, ia kalah ketika tuan rumah sedikit menegurnya karena kurang melegakan hati penyedia makanan. 

"Iya ya, kalau anda itu memang orang kaya, pasti tidak berkenan makanan orang miskin seperti kami ini," kata tuan rumah, memelas. 

Merasa tidak enak hati, sekaligus iba, H Bukhari memaksa diri untuk menyantap sajian. Nahas, kenikmatan kenyang yang tidak kunjung hilang sejak sepuluh hari lalu itu lenyap, menghilang seketika. Ia kembali merasa lapar dan merasakan sebagaimana sebelum memakan pemberian Kiai Nur Muhammad. 

H Bukhari pun kaget dan bertanya-tanya, "ada apa ini sebenarnya?". Setelah ia telisik mendalam, ia kemudian mendapati jawabnya. Ternyata Kiai Nur Muhammad sudah wafat beberapa waktu lalu. Sedangkan jenazahnya dimakamkan di pemakaman yang di sampingnya ada rumpun bambu persis dengan ciri-ciri sekitar perumahan di mana ia mendapat jamuan makan bersama Kiai Dalhar. 

Ia menarik kesimpulan, bahwa ia sedang menerima jamuan dari orang yang sudah meninggal. Dan kisah ini menunjukkan tentang kebenaran sebuah ayat yang menyatakan, orang yang meninggal di jalan Allah itu tidaklah mati. Mereka hanya pernah merasakan mati sekali saja. Setelah itu mereka hidup kembali dan diberi rezeki oleh Allah Ta'ala.

ﻭﻻ ﺗﺤﺴﺒﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﻮﺍﺗﺎ ﺑﻞ ﺃﺣﻴﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻬﻢ ﻳﺮﺯﻗﻮﻥ (ال عمران 169

Jangan engkau menyangka orang yang meninggal di jalan Allah itu mati, melainkan mereka hidup dihadapan Allah dan diberi rizqi. (Q.S: Ali Imron: 169) 

Kisah ini disarikan dari mauidzah hasanah KH Thoifur Mawardi pada acara Haul Masyayikh dan Khotmil Qur’an Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah. (Bud/Min)
Tag : Kisah
0 Komentar untuk "Kisah Laron di Makam Mbah Nur Muhammad Ngadiwongso"

Back To Top