::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (2)


Ilustrasi Perang Jawa

oleh: Minardi*
Ditipu dan ditangkapnya Pangeran Diponegara, menandai berakhirnya Perang Jawa. Tercatat ratusan ribu orang meninggal dunia dalam peperangan ini, termasuk rusaknya lahan pertanian dan terkurasnya kas keuangan Negeri Belanda. Tercatat ada 200.000 orang sisa-sisa pengikut Diponegara meninggalkan Mataram mencari hunian baru dan terus melakukan perlawanan kepada Belanda. (Sunyoto, 2017: 23-24)

Banyak orang yang terlibat dalam Perang Jawa ini, bukan hanya orang Jawa tentunya. Banyak orang Bugis, Bali, Sunda, peranakan Tionghoa, India, juga dari kalangan Arab dan keterlibatan Turki Ustmani. Jika Pura Mangkunegaran di Surakarta meniru gaya militer ala Napoleon Perancis yang bernama Legiun Mangkunegaran, lalu Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta lebih mengadopsi militer ala Belanda, Pura Pakualaman dengan gaya militer Inggris-Perancis-Belanda, yang dulu ada yang namanya Legiun Pakualaman. Maka Pangeran Diponegara lebih meniru militer ala Turki Utsmani. Dari berbagai referensi, Pasukan Pangeran Diponegara sendiri mendapat berbagai bantuan dari Turki Utsmani. (National Geographic Indonesia Vol. 10 No. 08 Agustus 2014, halaman 40)

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegara karya Raden Saleh
Sebelum Sang Pangeran ditangkap oleh Belanda, memang beberapa pengikut Pangeran Diponegara telah ada yang menyerah, atau ada pula yang tertangkap. Namun, momen kemunduran pasukan terjadi setelah Pangeran ditipu dan ditangkap. Dengan menganut prinsip ‘kalah bertempur bukan berarti kalah perang dan menyerah kepada musuh’ banyak pasukan-pasukan termasuk juga keluarga Pangeran Diponegara meninggalkan Mataram menuju berbagai arah di Pulau Jawa. (Sagimun, 1965).

Banyaknya tempat bersejarah, cerita lisan, pesantren, makam, masjid, tokoh, nama desa dan berbagai situs di berbagai wilayah di Pulau Jawa yang dihubungkan dengan perlawanan Pangeran Diponegara lebih menunjukkan satu identitas kebanggan dengan menyebut diri sebagai: “Laskar Pangeran Diponegara” sekaligus tertanam sentimensi kepada segala bentuk penjajahan, khususnya kepada Belanda. Jiwa dan semangat seperti ini tertanam dan diwariskan kepada anak-keturuannya.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegara karya  Nicolaas Pieneman
Agus Sunyoto, dalam bukunya: “Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 Nopember 1945” yang terbit pada tanggal 2017 dari Pustaka Pesantren Nusantara dan Lesbumi NU menyebutkan banyak data tentang jejak-jejak pasukan Pangeran Diponegara ini. Dalam tulisan ini, penulis hendak mencoba mengutipnya:

  1. Pesantren Takeran di Magetan yang didirikan oleh Kyai Kasan Ngulama, seorang guru Tarekat Syattariyyah. Beliau adalah seorang pengikut Pangeran Diponegara yang sekaligus menjadikan pesantren itu sebagai cikal-bakal Pesantren Sabilil Muttaqiin.  
  2. Pesantren Tambakberas di Jombang yang didirikan oleh Kyai Abdus Salam alias Kyai Shoichan, seorang perwira Pasukan Diponegara. Dari beliau lahir Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Sjansuri.
  3. Pesantren Tegalsari di Ponorogo yang melahirkan R.M.A Tjokronegoro, putera Kyai Bagus Kasan Besari, yang menjadi Bupati Ponorogo yang tersingkir akibat terlibat perlawanan Pangeran Diponegara. Mempunyai keturunan yang bersama Wedono Kleco di Madiun bersama Tjokroamisena yang kelak menurunkan HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam.
  4. Pesantren Kapu di Pagu, Kediri yang didirikan oleh Raden Mas Ronowidjojo, seorang perwira dari Sentot Prawirodirdjo, sekaligus Keluarga Besar Prawirodirdjan. Oleh masyarakat, Raden Mas Ronowidjojo sering disebut sebagai Kyai Kasan Muhyi. Dari Pesantren Kapu inilah cikal-bakal berdirinya pesantren-pesantren di Nganjuk dan Kediri.
  5. Pesantren Kabeneran di desa Bumiaji di Batu, Malang. Didirikan oleh Pangeran Wirajaya yang dikenal sebagai Abu Ghonaim. Pesantren ini merupakan cikal-bakal berdirinya pesantren-pesantren di Batu dan Malang. Termasuk menurunkan Brigjend Abdul Manan Wijaya dan Kolonel Iskandar Sulaiman, tokoh yang membidani lahirnya TNI.
  6. Pesantren Tremas di Pacitan yang didirikan oleh Raden Bagus Darso yang lebih dikenal sebagai Kyai Abdul Manan, yang juga diambil menantu oleh seorang pengikut Pangeran Diponegara yang bernama R. Ng. Honggo Widjojo. Pesantren Tremas sendiri merupakan cikal-bakal berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk melahirkan seorang Ulama Besar yang bernama Syekh Mahfudz Termasi.
  7. Pesantren Jarak di Kediri yang didirikan oleh Kyai Ahmad Sangi, yang menjadi cikal-bakal berbagai pesantren di Kediri, Blitar, Malang dan Pasuruan.
  8. Pesantren Blokagung di Jajag, Banyuwangi yang didirikan oleh Kyai Muhtar Syafa’at Abdul Ghofur yang tidak lain adalah cucu dari Kyai Sabar Iman bin Sultan Diponegara III (Raden Alip alias Raden Mas Sodewo).
  9. Pesantren Gunungpring di Muntilan, Magelang yang didirikan oleh Kyai Abdurrouf bin Kyai Hasan Tuqo, dimana cucu Kyai Abdurrouf yang bernama Kyai Nahrawi Dalhar (dikenal sebagai Mbah Dalhar Watucongol) mendirikan Pesantren Watucongol.
  10. Kyai Abdul Rahman, seorang pengikut Pangeran Diponegara yang menyingkir ke Nganjuk menurunkan tokoh pergerakan nasional, Dr. Soetomo
  11. R.M.T Tirtonoto, seorang Bupati Bojonegoro yang dipecat Belanda karena terlibat Perang Diponegara kelak akan menurunkan R.M. Tirto Adi Soerjo, seorang tokoh pergerakan nasional.
  12. Kyai Umar, seorang perwira Pangeran Diponegara menyingkir ke Semarang. Mendirikan pesantren bersama putranya, yaitu Kyai Sholeh Darat, yang kelak menjadi guru dari R.A. Kartini, Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).
  13. Pesantren Bogangin di Sumpyuh, Banyumas

Dan masih banyak lagi, keluarga dan pengikut Pangeran Diponegara yang tetap setia meneruskan perjuangan. Sebagian besar diantara mereka hanya memberikan ciri pohon sawo saja. Karena nama-nama asli mereka disembunyikan dari umum. Terkadang satu orang memiliki lebih dari dua nama, dan di tiap daerah nama itu berganti-ganti. Hal ini lebih dikarenakan untuk mengelabuhi diri dari pengejaran Belanda ataupun pengkhianat Bangsa.

Mengapa pohon sawo? Pohon sawo merupakan simboli dari kata “shof” (barisan). Maknanya diambil dari sawwu shufuufakum fa inna taswiyyatasshufuufi min tamaamil harokah (rapatkan barisan karena merapatkan barisan merupakan syarat bagi suksesnya gerakan/perjuangan).

Bersambung...!

Sumber:  
Sagimun, Mulus; Dumadi. 1965. Pahlawan Dipanegara Berdjuang (Bara Api Kemerdekaan nan Tak Kundjung Padam). Djakarta: Gunung Agung

Sunyoto, Agus. 2017. Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 Nopember 1945. Jakarta: Pustaka Pesantren Nusantara – Lesbumi NU

National Geographic Indonesia Vol. 10 No. 08 Agustus 2014, halaman 40


*Minardi: Ketua LTN NU Klaten, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM
Tag : Opini
0 Komentar untuk "Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (2)"

Back To Top