::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (3)


Peta Kabupaten Klaten sekarang

oleh: Minardi*
Jejak-jejak pasukan Pangeran Diponegara juga tersebar sampai di Klaten. Mengingat Klaten sendiri letaknya sangat strategis. Terletak diantara Surakarta atau Solo dengan: Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Pura Mangkunegaran; lalu Yogyakarta atau Jogja atau Ngayogyakarta dengan: Kraton Kasultanan Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman. Empat pusat pemerintahan utama di Jawa, sekaligus pecahan dari Kraton Mataram Islam.

Selama Perang Jawa berlangsung, Klaten menjadi saksi bisu beberapa peristiwa penting. Banyak tutur dari lisan ke lisan yang turun temurun, bahwa beberapa kali Klaten menjadi saksi sejarah. Saksi sejarah di sini mulai dari lokasi pertempuran, tokoh, sampai markas. Namun, memang perlu ditelusur lebih lanjut tentang cerita lisan ini. 

Pada 28 Agustus 1827, digelar perundingan di Cirian, Klaten. Belanda mengutus Stavers, sementara Pangeran Diponegoro mengutus Kiai Modjo dan Ngabehi Abdul Rahman. Tapi, perundingan itu gagal total. Menurut pihak Belanda, Kiai Modjo mengajukan syarat yang berat dipenuhi. Sebaliknya, meski Belanda menawarkan kekuasaan luas, Kiai Modjo menolaknya. Akibatnya, peperangan kembali meletus sebulan kemudian [1]. 10 Oktober 1827, kedua pihak sepakat gencatan senjata dan berunding lagi, tapi perundingan kembali gagal. 

Peperangan pun meletus lagi di sejumlah daerah di Jawa. Terjadi pertempuran hebat di Delanggu pada tanggal 28 Agustus 1826 [2]. Pada bulan agustus 1826 Belanda mengirim pasukan dari Solok untuk merebut Delanggu. Delanggu merupakan gudang beras yang sangat besar sehingga harus direbut. Tanpa disadari pasukan Belanda ini sudah dikuntit oleh pasukan Pinilih pimpinan Sentot sudah sejak dari daerah Srowot. Sementara itu pasukan Barjumat di bawah pimpinan Diponegoro sendiri sudah menunggu di Delanggu. Akhirnya pada 28 Agustus 1826 terjadi pertempuran besar di Delanggu di mana pasukan Belanda berhasil dihancurkan. Setelah berhasil mengamankan Delanggu pasukan Diponegoro-Sentot bergerak ke arah Kartosuro sehingga mengancam Surakarta. Sementara itu Kyai Kasan Basri memimpin pasukan untuk mengamankan Gawok.

Penulis mencoba mencari-cari informasi dari berbagai literatur tentang pertempuran-pertempuran Pangeran Diponegara dan Laskar di Klaten, namun selain pertempuran di Delanggu itu, tidak ada lagi pertempuran lagi. Adanya hanya beberapa pertempuran di sekitar Klaten, khususnya arah timur laut. Penulis menduga, bahwa pertempuran demi pertempuran lebih banyak terjadi di wilayah Kraton Kasultanan Yogyakarta, sedangkan Klaten saat itu adalah wilayah Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Walaupun atas anjuran Kyai Mojo (penasehat Pangeran Diponegoro), Pangeran Diponegoro mengadakan penyerangan besar terhadap daerah Surakarta. Pada bulan Oktober 1826 pasukan Pangeran Diponegoro menyerang Belanda di Gawok sebelah barat daya Surakarta dan mendapat kemenangan yang gemilang [3].

Pangeran Diponegara juga berhasil menduduki Markas Belanda di Prambanan [4] oleh Tumenngung Suronegoro. Sementara itu pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Singosari yang berkedudukan di Gunung Kidul diserang oleh Belanda. Pangeran Singosari mundur sampai Imogiri, kemudian menggabungkan diri dengan prajurit Bulkiya pimpinan Haji Usman Ali Basyah. Akhirnya pasukan gabungan ini menyerang Gunung Kidul dan merebutnya dari tangan Belanda.

Kyai Imam Rozi Singomanjat Tempursari
Jejak Ulama yang ikut Perang Jawa membantu Pangeran Diponegara adalah Kyai Imam Rozi Singomanjat, yang dimakamkan di Tempursari, Ngawen, Klaten. Saat itu pasukan kolonial penjajah Belanda menangkap Pangeran Diponegoro di Karesidenan Magelang, Sang Pangeran dan pasukannya kemudian dibawa dan ditahan di Benteng De Oentmoeting di Ungaran, Semarang namun ada yang menyebutkan ditahan di Karesidenan Semarang (namun ada kemungkinan Kantor Karesidenan ini letaknya di dalam benteng itu). 

Makam Kyai Imam Rozi Singomanjat

Pada saat di Semarang inilah, Sang Pangeran memerintahkan Kyai Imam Rozi untuk melarikan diri dan menyerahkan sebuah surat ke Sinuwun Pakubuwana VI dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Belakangan diketahui isi surat itu adalah memohon kepada Sinuwun di Surakarta agar “Sinuwun Paku Buwono VI menugasi Kyai Imam Rozi berdakwah di Surakarta bagian Barat, lalu mencarikan jodoh untuk mendampingi perjuangannya dan disediakan tanah perdikan.” [5]

Tahun 1833 ia telah melaksanakan tugas tersebut dan memilih Desa Tempursari sebagai tempat tinggal setelah mendapatkan bimbingan dan petunjuk ruhaniah dari Nabi Khidir. Maka pada saat itu berdirilah Masjid Tempursari, yang kemudian berkembang pesat. Barulah pada tahun 1837 Paku Buwono VI menjadikan tanah Tempursari sebagai tanah perdikan.

Jejak-jejak Kyai Mojo di Klaten
Kyai Mojo lahir pada tahun 1792 (ada pula yang menyebut 1782) di Desa Mojo, Pajang, dekat Delanggu, Surakarta, dengan nama Bagus Khalifah. Ayahnya, Iman Abdul Ngarif, adalah seorang ulama terkenal yang dianugerahi tanah perdikan di Desa Baderan dan Mojo, Pajang. Ibunya, Raden Ayu Mursilah, adalah adik perempuan Sultan Hamengku Buwono III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Ada yang menyebutkan bahwa Kyai Mojo memiliki nasab sampai kepada Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten. Kyai Mojo juga sempat berguru kepada seorang “Ahli Keramat” yaitu Kyai/Syekh Syarifudin di Gading Santren, yang makamnya di belakang RS Islam Klaten.

Kyai Mojo merupakan pejuang-ulama ini merupakan penasihat spiritual sekaligus panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang melelahkan itu. Kyai Mojo bergabung sejak hari pertama pasukan Diponegoro tiba di Goa Selarong (terletak di Pajangan, Bantul, Yogyakarta) untuk menjalankan siasat perang gerilya melawan Belanda [6].

Kyai Mojo juga menjadi wakil Diponegoro dalam perundingan penting dengan Belanda pada 29 Agustus 1827 di Klaten. Dalam upaya diplomasinya, Kyai Mojo dengan tegas mengajukan sejumlah tuntutan. Namun, tuntutan itu dinilai terlalu berat sehingga tidak ditemukan kesepakatan dalam perundingan tersebut (Abdul Qadir Djaelani, Perang Sabil versus Perang Salib, 1999: 34).

Tanggal 12 November 1828, Kyai Mojo dan para pengikutnya disergap di daerah Mlangi, Sleman, dekat Sungai Bedog, kemudian dibawa ke Salatiga (Saleh Asʾad Djamhari, Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng, 1827-1830, 2004: 192). Namun ada versi lain bahwa pada tahun 12 November 1828 Kyai Mojo ditangkap di Desa Kembang Arum, utara Yogyakarta [7].  Ada versi lagi, bahwa Kyai Mojo ditangkap di Desa Jungkare, Karanganom, Klaten. Ada versi lagi, bahwa Kyai Mojo ditangkap di Kleco, saat itu Kyai Mojo berangkat ke Kleco mengambil jalan dari Jungkare, lalu Jebugan, lalu Karanganom, lalu Jurangjero menuju Janti, untuk ziarah orang tuanya.

Tetapi dari berbagai literatur yang penulis baca, menunjukkan bahwa Pangeran Diponegara mengalami kemunduran dalam pertempuran demi pertempuran semenjak pecah kongsi dengan Kyai Mojo dan tertangkapnya Kyai Mojo yang sebelumnya ditipu oleh Belanda.

Jejak-jejak perjuangan Kyai Mojo lainnya dalam melawan penjajah Belanda berada di beberapa daerah. Di Polanharjo, dipercaya ada sebuah petilasan, yang dipercaya merupakan petilasan dari Kyai Mojo. Di Karanganom, khususnya Desa Jungkare ada sebuah goa-goa buatan di sungai, yang dibuat oleh pasukan Kyai Mojo. Goa tersebut dinamakan Rong Pedhet yang dipakai oleh pasukan Kyai Mojo sebagai lubang persembunyian. 

Dari tutur lisan masyarakat, Desa Jungkare sendiri berkaitan erat dengan Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Gribig jengkar dari pedukuhan ini menuju ke arah barat sampai Jatinom. Jengkar dari dukuh ini ke Jatinom (Jengkar artinya: pergi atau berangkat, dalam bahasa Jawa Jengkare menjadi Jungkare). Menurut cerita para sesepuh Ki Ageng Gribig tiap bulan puasa mengimami shalat tarawih di Jungkare. Setelah selesai Tarawih di Jungkare kembali ke Jatinom mengimami shalat Tarawih di Jatinom.

Bayat dalam Pergolakan Nusantara
Kalau bercerita tentang peristiwa-peristiwa besar di Nusantara, pastinya ada membahas pula membahas peran sebuah daerah di Klaten, yaitu Bayat. Tercatat Bayat menjadi basis utama Perang Trunojoyo dengan tokoh pendukung utama sekaligus menantu dari Panembahan Rama Kajoran, seorang “Ulama Kharismatik” Trah Sunan Pandanaran di Bayat. Makam Panembahan Rama sekarang terletak di Kajoran, Klaten Selatan. Namun sayang, peperangan dapat dikalahkan oleh Mataram dengan bantuan Belanda, sehingga banyak ulama Bayat yang ditangkap.

Bayat pun juga ikut melibatkan diri dalam Perang Jawa dengan mendukung Pangeran Diponegara. Masjid Golo menjadi tempat latihan perang Laskar Putri, yang dipimpin Nyai Tunjung Sari atas restu Kyai Ghozali, selaku sesepuh Masjid [8].

Demikian Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap. Tulisan ini dihimpun oleh penulis dari berbagai literatur, baik buku, website, blogspot, wordpress, sampai kepada tutur lisan, dongeng masyarakat. Masih banyak kisah-kisah yang berkaitan dengan Pangeran Diponegara, yang tidak bisa dan belum bisa penulis sampaikan di sini. Penulis berharap, agar kita semua senantiasa turut serta meneruskan Dakwah dan Perjuangan Para Ulama.

Andai saja, Perang Jawa masih berlangsung sekitar 1-2 tahun lagi, maka penulis menduga kuat Belanda di Nusantara dan Negeri Belanda akan hancur. Hanya menghadapi Perang Jawa selama lima tahun saja, Belanda sudah kewalahan. Belum ditambah lagi gejolak internal di Negeri Belanda dan gejolak-gejolak di Negeri Jajahan Belanda.

Tamat

Sumber:
Djaelani, Abdul Qadir. 1999. Perang Sabil versus Perang Salib. Jakarta: Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah.

Djamhari, Saleh Asʾad. 2004. Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng, 1827-1830. Jakarta: Komunitas Bambu.

Catatan Kaki:

[2] Anshoriy,  Nasruddin. 2008. Bangsa Inlander; Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara. Yogyakarta: LKiS






[8] Tabloid Budaya “Jabalkat”. Edisi 1/Maret/2013. Halaman 6

*Minardi: Ketua LTN NU Klaten, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (3)"

Back To Top