::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (1)


Lukisan Pangeran Diponegara

oleh: Minardi*
Ke manakah keluarga dan pasukan Pangeran Diponegara, setelah Pangeran Diponegara ditipu lalu ditangkap oleh Londo atau Walondo atau Belanda?

Sang Pangeran Ditipu
Dengan dalih diajak berunding, ternyata oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Pangeran Diponegoro ditangkap pada 28 Maret 1830 di Magelang. Lalu dipindah beberapa kali, terakhir di Makasar sampai akhir hayatnya. Diponegoro dibuang ke Sulawesi pada 1830. Berdasar catatan Letnan Knoerle yang mengawal Diponegoro, yang menjadi referensi Peter Carey dalam menulis Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 (2015), perjalanan laut yang dialaminya begitu berat. 

Setelah Pangeran Diponegara ditipu lalu ditangkap oleh Belanda, tidak serta-merta membuat arus perlawanan kepada penjajahan dan penindasan yang dilakukan Belanda berhenti. Api jihad perjuangan terus digelorakan, hanya menggunakan format-format yang berbeda dari para pendahulunya. 

Penulis yakin, bukan hanya penulis saja yang penasaran sekaligus tidak ngeh berpikir sampai situ. Penulis penasaran terhadap pertanyaan itu bermula ketika penulis membaca sebuah tulisan menarik dari website resminya KMNU (Keluarga Mahasiswa NU) di https://kmnu.or.id/10-november-ledakan-api-dalam-sekam/ yang didalam tulisan itu disampaikan bahwa:

Pada masa Kiai Diponegoro akhirnya ditangkap, seakan kekuatan Laskar Ulama-Santri sekilas mengalah tetapi sebenarnya mereka membangun kekuatan yang lebih besar untuk digunakan di masa mendatang. Jiwa membara telah ditanamkan ke berbagai murid-murid beliau, mereka terus menerus mereproduksi kekuatan dari gurunya hingga kemudian api dalam sekam tersebut meledak hebat dalam perang 10 November. 

Pangeran Diponegara dalam versi wayang kulit

Dalam buku Resolusi Jihad karangan Zaenul Milal Bizawie ternyata jejaring perlawanan Laskar Ulama-Santri dibentuk oleh Kiai (Pangeran) Diponegoro. Tahun 1830 kita mafhum Kiai Diponegoro ditangkap pada momen “maaf-maafan” Idul Fitri. Namun, ternyata perlawanan Laskarnya tidak padam, malah bak “api dalam sekam” sehingga terus dijaga baranya hingga suatu saat baranya akan menyala dengan hebat. Kemudian, bara itu muncul lewat Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Abbas (Ketiga Kiai ini adalah Komandan perang 10 November), KH. Masykur, KH. Subchi Parakan, KH. Nahrowi Dalhar, dan banyak lainnya yang merupakan “anak cucu biologis” maupun “anak cucu ideologis” dari laskarnya Pangeran Diponegara.

Bersambung...!

Sumber:
Bizawie, Zainul Milal. 2014. Laskar Ulama - Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949. Tangerang: Pustaka Compass

Carey, Peter. 2015. Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855. Jakarta: Kompas


*Minardi: Ketua LTN NU Klaten, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Jejak Keluarga dan Pasukan, Setelah Sang Pangeran Ditipu dan Ditangkap (1)"

Back To Top