::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Fatwa dan Resolusi Jihad, Bagai Sangkakala Bagi Barisan Santri Untuk Mempertahankan Negeri



"Barang siapa yang cinta pada Ulama, duduk bersama mereka, belajar dengan mereka, membantu mereka. Jika mereka bukan menjadi Ulama, maka Allah akan jadikan keturunannya ada yang menjadi Ulama." 
(Al Habib Zein Bin Smith) 

oleh: Minardi*
NU Klaten - Penulis ingin mengatakan bahwa faktor kesejarahan itu membekas dan tetap tertali kepada anak keturunannya. Demikian pula dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegara. Penulis yakin, ini tidak terbatas kepada pasukan Pangeran Diponegara, tetapi jauh sebelum Perang Diponegara. Mengingat sebelum Perang Jawa, sudah terjadi beberapa perang besar yang melibatkan Ummat Islam, diantaranya: ketika Pati Unus menyerbu Malaka; ketika Pasukan Demak-Banten-Cirebon, yang dipimpin Fatahilah merebut Sunda Kelapa; lalu ketika Sultan Agung dua kali menyerbu Batavia; lalu Perang Trunojoyo; lalu Geger Pecinan; lalu Perang Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa melawan Belanda, dan beberapa perang kecil yang tidak tercatat dalam sejarah.


Pertalian ikatan emosional ini terus terjaga dan tetap membara oleh anak keturunannya. Anak keturunan Pasukan Diponegara sebagian besar mendirikan pesantren. Jika penulis boleh katakan, karena memang tradisi pesantren ini selain mengajarkan ilmu Keislaman juga mengajarkan tentang Cinta Tanah Air. Walaupun ada benturan dengan displin ilmu yang didirikan Belanda melalui model sekolahan, tetapi pesantren tetap eksis dengan model pendidikannya sendiri. Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias van Deventer yang meliputi: edukasi (pendidikan); irigasi (pengairan) dan migrasi, baik transmigrasi maupun perpindahan ke Suriname dan luar negeri lainnya.

"Yang patah tumbuh, yang hilang berganti" itulah kata peribahasa. Walaupun Pangeran Diponegara telah ditangkap dan wafat, tetapi api semangat perjuangan masih menggelora dalam dada pasukannya. Api semangat perjuangan ini diwariskan turun-menurun sampai saat yang pas. Perang dengan "hard power" telah bergeser menjadi perang "soft power", yaitu perang pemikiran dan penyiapan generasi.

Laksana "sangkakala" yang dibunyikan, Fatwa dan Resolusi Jihad Hadlatussyaikh KH. Hasyim Asy'ari menandai berkumpulnya kembali keturunan-keturunan Pasukan Diponegara dan Laskar-laskar Ummat Islam. Gelora 10 November sebagai puncak peperangan hebat setelah Pangeran Diponegara wafat. Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II kocar-kacir menghadapi Bangsa Indonesia, negara yang baru saja merdeka.

*Minardi: Ketua LTN NU Klaten, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM
Tag : Opini
0 Komentar untuk "Fatwa dan Resolusi Jihad, Bagai Sangkakala Bagi Barisan Santri Untuk Mempertahankan Negeri"

Back To Top