::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Oase: Islam Agama Cinta Damai



Oleh: KH. Drs. Muchlis Hudaf, Rois Syuriah PCNU Klaten

Kekerasan menjadi santapan sehari-hari di bumi pertiwi ini. Tidak enak memang mengaitkan agama khususnya Islam, dengan tindak atau perilaku kekerasan yang dilakukan oleh sebagian pemeluknya. Tidak ada agama di dunia ini yang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan (violence). Akan tetapi realitas menunjukkan berbagai kekerasan muncul dengan "membawa" teks-teks keagamaan sebagai klaim terhadap tindakan tersebut. 

Berbagai Apologize bermunculan, tetapi sulit untuk menampik bahwa agama memiliki peran diberbagai kekerasan tersebut, setidaknya pelaku (umat beragama), atau organisasi yang membawa label agama, sering tertuduh terlibat dalam kekerasan atas nama agama. pertanyaan yang kemudian mengemuka apakah agama merukapan faktor munculnya kekerasan? Ataukah sebenarnya agama hanya dijadikan kambing hitam dalam berbagai tragedi kekerasan? Untuk melihat problem yang begitu komplek perlu kiranya diawali dengan melihat sumber pokok agama, yang sering dijadikan landasan atau tameng tindakan kekerasan tersebut. 

***
Untuk mengatasi kekerasan yang berkecamuk di negeri ini, diperlukan adanya sebuah pemahaman yang dapat mengakomodir semua pihak. golongan atau kelompok seharusnya lebih bijak dalam memutuskan persoalan-persoalan di negeri hitrogen seperti ini. Dengan berupaya membaca ulang ayat-ayat al-Qur'an dan teks-teks as-Sunnah, dan lebih dari itu setidaknya ada 5 persyaratan sebagai katub pengaman supaya tidak dengan mudah melakukan tindak sewenang-wenang dalam bertindak atas nama agama, yaitu kemampuan dan keharusan seseorang, kelompok, organisasi atau lembaga untuk mengontrol mengendalikan diri (restrain), sungguh-sungguh (diligence), mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait  (comprehensives), mendahulukan tindakan yang masuk akal (reasonable) dan kejujuran (honesty). Kelima-limanya dijadikan sebagai acuan parameter sahih untuk meneliti berbagai kemungkinan pemaknaan teks sebelum pada akhirnya harus memutuskan dan merasa yakin bahwa dirinya memang sedang dalam posisi mengemban amanat perintah Tuhan SWT.

Perlunya selalu diadakan dialog antara teks dan konteks, sehingga penafsiran terhadap teks selalu berubah sesuai dengan semangat zamannya. Pergulatan teks dan konteks yang lebih dinamis akan melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif. Interaksi antara teks dengan konteks akan membebaskan penafsir dari fanatisme terhadap teks dan fanatisme terhadap konteks. Pergulatan teks dengan konteks akan melahirkan pemikiran alternative, khususnya dalam rangka menjadikan teks senantiasa relevan dengan konteks. 

Dalam masyarakat yang hitrogen, fenomena yang muncul adalah beragamnya penafsiran terhadap teks, sehingga muncul beragam kelompok atau indifidu dengan tafsirannya masing-masing.
Realitas yang saat ini muncul, pihak mayoritas seakan-akan merasa benar sendiri dalam menafsirkan teks, sehingga dengan mudah memberi label pada kelompok yang berbeda dengan "sesat, murtad, dan kafir" tidak berhenti dengan hanya memberi label saja, tetapi juga menyerang dan melakukan kekerasan atas nama Tuhan, atas nama membela agama Tuhan. Apakah seperti itu wajah Islam? Lalu mana bukti dari rahmatal lil'alamin yang selama ini diagung-agungkan? apakah hanya sebuah slogan semata? atau memang kekerasan itulah bentuk dari rahmatal lil'alamin?

Melihat semakin akutnya persoalan tersebut, perlu dikembangkan faham ke-Islaman yang mendorong pada kesadaran kewarganegaraan dan multi kulturalisme. Fakatanya, di sejumlah Negara-negara yang mayoritas penduduknya plural seperti di Tanah Air ini, problem perlindungan terhadap kalangan minoritas masih menjadi persoalan. Pemikiran ke-Islaman komperhensive seharusnya mampu memecahkan problem raibnya hak-hak kalangan minoritas dan mendorong terciptannya kewarganegaraan yang sah, legal dan nyaman serta berkah.

Nabi Muhammad SAW. merupakan sosok yang sangat menghargai perbedaan dan pendapat pihak lain. Dua peristiwa yaitu pembangunan kembali Ka'bah pada tahun 605 M dan penaklukan kembali Makkah pada tahun 630 M. Pertama, dalam peristiwa pembangunan kembali Ka'bah, Nabi ditunjuk untuk menyelesaikan masalah antar dua kelompok yang sama-sama menginginkan memasang hajar aswad. Setelah mendengarkan kasusnya, Muhammad meminta mereka membawakan untuknya sepotong surban, yang kemudian, Ia bentangkan di atas tanah. Ia mengambil batu hitam (hajar aswad) dan meletakkannya di tengah-tengah kain itu. Lalu, Ia berkata: "Marilah setiap suku memegang pinggiran surban. Kemudian, kalian angkatlah bersama-sama". Ketika mereka mengangkatnya mencapai ketinggian yang tepat, Muhammad mengambil batu itu dan meletakkanya di sudut dan pembangunan kembali Ka'bah dilanjutkan hingga selesai.

Dari tindakan Nabi dalam kasus ini, nilai-nilai inti untuk penciptaan perdamaian dapat di identifikasi. Kesabaran tentunya merupakan nilai utama dalam upaya penciptaan perdamaian oleh Nabi, karena Ia mendengar terlebih dahulu. Tindakan mendengarkan menandakan kesabaranya dan kehendak untuk mempelajari seluruh infomasi yang Ia dapat. Dengan mengajak setiap suku atau kabilah memegang pinggiran surban Ia menegaskan signifikansi dan martabat masing-masing kelompok yang bertikai. Mereka seluruhnya setara. Nilai inti di sini adalah penghargaan dan penghormatan atas kemanusiaan seluruh kelompok. Ketika Ia mengajak mereka mengangkat surban bersama-sama, tindakan ini menyiratkan bahwa kehormatan tidak harus diperoleh dengan mengorbankan pihak lain atau dengan menggunakan kekerasan, tetapi justru kehormatan bisa dibagi  bersama, ya itulah wujud dari perilaku pemimpin yang sejati dan hakiki. Dalam kenyataanya, nilai berbagi bersama merupakan yang terpenting dalam kasus ini. Berbagi bersama menjadi mungkin dengan paertisipasi yang sama di kalangan kelompok-kelompok yang bertikai. Sebagai tambahan, nilai berfikir kreatif yang ditandai dengan pemanfaatan surban secara inovatif sebagai suatu wahana untuk menyelesaikan konflik tersebut, juga mesti ditekankan dan bahkan diutamakan. 

Peristiwa kedua adalah penaklukan kota Makkah, di mana dilakukan dengan damai, tanpa mengorbankan siapapun dan tanpa meneteskan darah setetespun. Terlihat jelas bahwa nilai tunggal terpenting yang dapat diidentifikasi dari tindakan Nabi pada waktu penaklukan kota Makkah adalah mema’afkan. Tindakan ini bukan semata-mata taktik politik. Sebab Ia mengikuti suatu pola perilaku yang mapan. Pola perilaku Nabi, yang dibentuk oleh nilai inti kepema’afan merupakan suatu manifestasi ajaran wahyu Tuhan. Ditetapkan dalam al-Qur'an bahwa mema’afkan merupakan kewajiban kaum muslimin, bahkan ketika mereka sedang marah (QS. asy-Syuura: 37&40).

Kelima nilai inti Islam, yaitu kesadaran, penghormatan dan penghargaan atas kemanusiaan pihak lain, berbagi bersama, kreatifitas dan tindakan mema’afkan yang diidentifikasi dari kedua kisah dalam kehidupan Nabi di atas adalah kondusif bagi upaya-upaya penciptaan perdamaian dan menghindari tindak kekerasan baik dilingkungan dalam (intern) umat beragama maupun lingkungan luar (ekstern) umat beragama. Niali-nilai itu – disamping nilai-nilai lain yang perlu terus menerus diidentifikasi lebih lanjut dan terus menerus -  adalah merupakan manifestasi tujuan Ilahi yang tertanam dalam misi kenabian Muhammad. Islam sebagai rahmatal lil'alamin hanya dapat dipahami lewat prespektif nilai-nilai fundamental yang ditawarkan, yakni nilai-nilai yang dapat berlaku untuk semua etnis, bangsa, ras, kulit dan agama, tanpa syarat apapun dan tanpa kepentingan terselubung apapun, kecuali terwujudnya rahmat / kasih sayang Allah SWT untuk alam semesta.

Tag : Syuriah, Tausyiah
0 Komentar untuk "Oase: Islam Agama Cinta Damai"

Back To Top