::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Bijaksana Dalam Saat Mendengar Kata "Bid'ah"


Oleh: Nanang Khoirudin, S.Pd.I 
(Staf pengajar di Ponpes Mamba’ul Hikam Kurung Baru Ceper Klaten, Alumni Ngaji Sosmed dan Pelatihan Jurnalistik)

Ramadhan hampir berakhir, tidak terasa kita sudah masuk pada detik-detik terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Semoga kita masih tetap diberi ke-istiqamah-an dalam mengisi bulan Ramadhan ini. 

Salah satunya adalah menjalankan Qiyaamu Ramadhan atau biasa disebut dengan shalat Tarawih. 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat memperhatikan shalat malam bulan Ramadhan dengan perintah yang tidak mewajibkan. Beliau bersabda:

مَنْ قامَ رَمَضانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتقدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه الجماعة)
“Barang siapa yang mengerjakan shalat malam bulan Ramadhan (tarawih) dengan penuh  keimanan dan pengharapan (akan ridha Allah), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”.  (HR. Jama’ah) 
Sungguh besar keutamaan Qiyaamu Ramadhan yang bisa menyebabkan terampuninya dosa yang telah lalu, selama dilaksanakan dengan penuh keimanan serta mengharap hanya  ridha Allah swt. semata. 

Sedangkan untuk jumlah raka’at lebih bijaknya untuk tidak saling berselisih, buat yang melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at dipersilahkan dan juga buat yang melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at dipersilahkan. 

Yang terpenting adalah apakah shalat tarawih tersebut sudah kita laksanakan dengan penuh keimanan dan keihlasan atau belum. 

Shalat tarawih disunnahkan dikerjakan secara berjama’ah dan boleh pula dikerjakan sendiri. Dari ‘Aisyah ra.,dia berkata: 
“(Suatu ketika) Rasulullah saw. shalat di masjid, kemudian orang banyak juga ikut melaksanakan shalat bersama beliau, lalu shalat pula para kabilah yang membuat jumlah orang yang shalat menjadi banyak. Kemudian pada hari ketiga mereka berkumpul dan beliau tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda: “Sungguh aku telah menyaksikan apa yang kalian lakukan dan tidak ada yang mencegahku untuk keluar (shalat) bersama kalian selain aku khawatir kalau (shalat tarawih) difardhukan kepada kalian. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan”. (HR. Perawi yang enam selain Tirmidzi) 

Tidak keluarnya Rasulullah saw. untuk melaksanakan shalat bersama para Sahabat pada waktu itu karena beliau khawatir dengan terus menerusnya beliau mengerjakan shalat bersama mereka, menyebabkan shalat tersebut dianggap menjadi wajib. 

Dari sini sangatlah jelas bahwa nabi adalah figur pemimpin yang sangat bijaksana dan sangat mengerti akan kondisi umatnya. Figur pemimpin yang tidak ingin memberatkan umatnya. 

Sepeninggal Rasulullah saw. Sahabat Umar ra. Kemudian memiliki ide untuk mengumpulkan shalat para Sahabat di bawah satu orang Imam. Abdurrahman bin Abdul Qari berkata: 
“ Suatu ketika aku keluar menuju masjid bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan. Tiba-tiba kami menemukan orang terpencar-pencar, ada yang shalat sendiri, ada pula yang shalat kemudian diikuti oleh orang lain. Kemudian Umar berkata: “ Menurutku jika aku mengumpulkan mereka di atas satu pembaca (imam) niscaya akan lebih ideal”. Kemudian dia bermaksud mengumpulkan mereka dengan imam Ubay bin Ka’b. Pada hari yang lain, aku keluar lagi bersamanya dan melihat orang-orang shalat dibawah bacaan seorang dari (imam) mereka. Kemudian Umar berkata: “Alangkah indahnya bid’ah ini ... ”. (HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan lainnya)        

Dari sini sangatlah jelas, bahwa shalat tarawih yang dilaksanakan dengan terus menerus secara berjama’ah di masjid adalah hal yang baru (bid’ah), tapi termasuk ke dalam kategori bid’ah yang baik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sahabat Umar sendiri bahwa inilah bid’ah yang indah (sebaik-baik bid’ah).  

Dari sini semakin jelas, bahwa tidak semua bid’ah adalah sesat, bahkan bid’ah yang dipromotori oleh Sahabat Umar tersebut pada akhirnya menjadi sunnah. 
Rasulullah saw. bersabda:  
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاُء الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِى عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (رواه أبو داود) 
“Peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyiin dengan pegangan yang erat”. (HR. Abu Dawud) 

Demikian sekilas tentang Qiyaamu Ramadhan khususnya shalat tarawih, semoga menjadikan kita bertambah keimanan dan menjadi lebih bijak. Aamiin.. 
Semoga bermanfaat.
salam.

Referensi: Abdul Qadir Ar-Rahbawi; Fiqih Shalat Empat Madzhab (Mengurai perbedaan-perbedaan dalam shalat); Hikam Pustaka Jogjakarta.

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Bijaksana Dalam Saat Mendengar Kata "Bid'ah""

Back To Top