::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Sadranan: Merawat Silaturahim, Menjaga Tradisi

Ilustrasi: Pelaksaan Sadranan di Dukuh Pepe, Pepe, Ngawen, Klaten
Dokumentasi: GP Ansor NU Ranting Pepe


Bagi Masyarakat Nusantara atau Indonesia, tidak asing lagi mendengar kata Sadranan atau Ruwahan. Ssecara simpel, sadranan merupakan sebuah kenduri di makam bersama-sama yang diperingati pada bulan Ruwah pada penanggalan Jawa. Sebelumnya dilaksanakan bersih-bersih makam, ziarah kubur kemudian malamnya dilaksanakan doa bersama lalu siangnya kenduri bersama, terkadang malam setelah kenduri juga dilaksanakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Sadranan sebagai Tradisi Masyarakat Mengingat Mati  
Menurut Karkono Kamajaya Partokusumo, nyadran dalam masyarakat Jawa berarti melaksanakan tradisi sadran. Istilah sadran sendiri berasal dari bahasa Sanskrit, yaitu sradda, yang mengalami proses metatetis, yaitu pergantian tempat bunyi (huruf) sebuah kata. Pada kasus kata sradda, terjadi pergantian tempat bunyi (huruf) “r” pada suku kata pertama (srad) ke suku kata kedua (da) sehingga menjadi sad-dra. Untuk memudahkan pengucapan bunyi huruf “d” kemudian dilebur sehingga menjadi sadra. Berdasarkan proses perubahan ini, arti kata nyadran yang tepat barangkali adalah melaksanakan tradisi sadra, bukan sadran. Pergantian huruf “s” pada awal kata menjadi “ny” dan tambahan akhiran huruf “n” di akhir kata dalam bahasa Jawa sering dilakukan untuk memberikan makna perbuatan yang dilakukann secara rutin. Seperti kata seba menjadi nyeban yang berarti melaksanakan kegiatan seba (menghadap raja) secara rutin.

Tradisi memperingati roh leluhur yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sesungguhnya tidak hanya dalam bentuk nyadran. Sejak awal pasca kematian, masyarakat Jawa telah melaksanakan berbagai tradisi dalam bentuk selamatan (Jawa: slametan), yaitu mulai hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000. Sadranan merupakan bentuk lain dari adanya ziarah kubur dan mendoakan sanak-saudara dengan tetap melestarikan kearifan lokal. Barangkali terkait dengan upaya modifikasi, atau lebih tepatnya Islamisasi budaya lokal, di atas sehingga tradisi nyadran saat ini dilaksanakan pada bulan Ruwah (Kalender Jawa) atau Sya’ban (Kalender Islam) hingga menjelang dilaksanakannya ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Sehingga esensi dari pelaksanaan sadranan tidak lain dan tidak bukan sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur yang baik untuk mengingat mati. Sekaligus untuk mendoakan sanak-keluarganya yang telah meninggal dunia. 

Berbagi dalam Rasa Kekeluargaan
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa prosesi sadranan memiliki serangkaian acara. Sebelumnya dilaksanakan bersih-bersih makam, ziarah kubur kemudian malamnya dilaksanakan doa bersama lalu siangnya kenduri bersama, terkadang malam setelah kenduri juga dilaksanakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Tahap demi tahapan pelaksanaan prosesi sadranan ini melibatkan banyak orang, terjadi interaksi dan saling komunikasi sehingga memunculkan rasa kekeluargaan. Mulai dari bersih-bersih makam, sesama anak keturunan akan mencari makam leluhurnya untuk dibersihkan. Dari situ mereka akan saling mengenal dan mencoba mengurutkan silsilah, dengan demikian silaturahim yang mulai terputus (karena belum tahu nasab) menjadi sambung kembali. Terkadang saat ziarah kubur, kerabat jauh akan mengunjungi saudaranya yang rumahnya di sekitar situ.

Pada saat kenduri, warga satu desa akan berkumpul bersama di bangsa makam. Mereka membawa berbagai macam makanan yang dianggap layak untuk diikutkan kenduri. Setelah didoakan oleh pemuka agama, makanan itu bisa diambil bebas oleh yang hadir tanpa harus sungkan-sungkan. Dengan demikian, terlihat masyarakat mencoba menjadi terbuka untuk memberikan sekaligus menerima dari orang lain.

Sadranan, walaupun di berbagai daerah di Nusantara praktek prosesi sadranan (mungkin juga beda istilah) berbeda. Tetapi sadranan ini menjaga ajang untuk Merawat Silaturahim dan Menjaga Tradisi.

Oleh: Minardi, S.IP, Ketua LTN PCNU Klaten, Koordinator Divisi Scouting AIS Nusantara dan Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM

0 Komentar untuk "Sadranan: Merawat Silaturahim, Menjaga Tradisi"

Back To Top