::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Oase: Hikmah Mendasar Dalam Berpuasa




Oleh: KH. Drs. Muchlis Hudaf, Rois Syuriah PCNU Klaten

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan yang istimewa dan bulan yang penuh berkah (kebaikan). Sebab  bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, dan Al-Qur’an adalah Kitabullah yang menjadi petunjuk hidup dan kehidupan bagi seluruh manusia (yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat).  

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى أنْزِلَ فِيْهِ القرْأنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الهُدَى وَالفرْقان ( البقرة: 185 )  

Dan bulan Ramadhan adalah bulan di mana di dalamnya ada malam kemuliaan, malam diturunkannya permulaan Al-Qur’an yang nilai amal shalih pada malam tersebut lebih baik dari pada 1000 bulan (kurang lebih 82 tahun).

اِنَّا أنزَلْناهُ فى لَيْلَةِ القدْرِ ليلةُ القدْرِ خَيْرٌمِنْ اَلْفِ شَهْرٍ ( القدر : 1-2 ) 

Dan yang lebih istimewa lagi pada bulan Ramadhan diwajibkan berpuasa 1 bulan penuh dan disunnahkan (muakkad) shalat malam (tarweh), yang mana pahalanya bagi yang melakukannya semata-mata karena dorongan iman dan mengharap Ridha Allah SWT. Adalah diampuninya dosa-dosa, sehingga bersih bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.

شَهْرُ رَمَضانَ شَهْرٌ كَتَبَ اللهُ عَليْكُمْ صِيَامَهُ وسننت لَكُمْ قِيامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقامَهُ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أمُّهُ ( رواه ابن ماجه والبيهقى عن عبد الرحمن ابن عوف رضى الله عنه ) 

Keistimewaan berpuasa adalah karena puasa bisa menghantarkan seseorang bisa menjadi taqwa dan taqwa sebagai parameter atau talak ukur orang yang mulia di sisi Allah SWT.

-     يَاأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الِّذِيْنَ مِنْ قبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ( البقرة: 183 )
-     اِنَّ أكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أتْقاكُمْ ( الحجرات : 13 ) 

Apa hubungan puasa dengan taqwa? Pertanyaan ini akan terjawab apabila kita perhatikan points-points di bawah ini:
1). Puasa wajib seperti puasa Ramadhan ini harus berniat di malam hari. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW 

مَنْ لَمْ يُجْمِع الصِّيَامَ قبْلَ اْلفَجْرِ فلا صِيَامَ لَهُ ( رواه الخمسة )

“Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malamnya (sebelum fajar terbit), maka tiada sah puasanya”. (HR. 5 orang ahli Hadits)

Ini artinya puasa akan berhasil pabila dengan niat yang sungguh-sungguh (serius). Sebab segala sesuatu berhasil / tidaknya bergantung pada niat (kesungguhan dalam melakukan) nya.

اِنَّمَا اْلأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى

Allah swt. Menilai amal seseorang di samping dari wujud amal itu sendiri (sesuai dengan aturan yang Allah dan Rasul-Nya tentukan), juga dari sisi niatnya.

وَمَاأمِرُوْا اِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ( البينة : 5 )

2). Puasa (tidak makan dan tidak minum sejak pagi hari sampai sore hari) mengingatkan kita terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang selalu berlapar-lapar dan berhaus-dahaga sehari-hari, akan tetapi penderitaan itu bukan disebabkan mereka berpuasa, melainkan dikarenakan tidak ada yang dimakan dan menurut data pemerintah terakhir, orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan kurang lebih sekitar 40 juta.

Hal ini pulalah yang menjadi motivasi Nabi Sulaiman bin Daud As. Berpuasa Daud yakni (sehari puasa sehari tidak). Sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya, “kenapa Tuan berpuasa Daud, bukankah di tangan Tuan kunci dunia/kekayaan.
Aku berpuasa di samping tentu mengharap ridha Allah swt. adalah “supaya tidak lupa/selalu teringat akan penderitaan rakyatku yang fakir dan yang miskin”.

Maka menjadi kurang berarti, kurang berguna bagi orang yang suka berpuasa, akan tetapi tidak tersentuh hatinya dengan puasanya untuk menjadikan dirinya muncul rasa peduli kepada sesama terlebih kepada kaum dhuafa’. Dan Allah swt sangat benci kepada orang yang tidak peduli kepada kaum fakir dan miskin dan Allah menganggap sebagai orang yang mendustakan agama. Yakni tidak meyakini adanya hari kiamat/hari pembalasan.

اَرَأيْتَ الَّذِى يُكَذِّبُ بِالدِّيْنَ فَذلِكَ الَّذِى يَدُعُّ اليَتِيْمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ اْلمِسْكِيْنَ ( الماعون : 1-3 )

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?, adalah orang yang menghardik anak yatim dan tak menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Al-Ma’un: 1-3)

Nabi Muhammad saw. Menganggap bohong dan dusta bagi orang yang mengaku mencintai Nabi, akan  tetapi tidak mencintai (peduli dengan kebutuhan) orang fakir dan miskin.

مَنْ ادَّعَى عَلَى مَحَبَّتِىْ وَلَمْ يُحِبَّ اْلفُقَرَاَء فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ ( الحديث )

Bahkan bagi orang bakhil (tidak peduli dengan orang fakir dan miskin) haram untuk masuk Surga. 
لَايَدْخُلُ اْلجَنَّةَ بَخِيْلٌ وَلَا شَحِيْحٌ ( الحديث )

Dan kita oleh Nabi dianjurkan untuk selalu menghindari atau menyelamatkan diri dari neraka dengan cara bersedekah walaupun kemampuannya hanya bisa bersedekah dengan sebutir kurma:

اِتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ 

“Selamatkan dirimu (dengan bersedekah) walaupun bisanya hanya dengan 1 biji kurma” (Al-Hadits)

(3). Merasa diawasi oleh Allah swt.المُرَاقبَة 
Setiap orang yang berpuasa pasti berusaha untuk succes puasanya dengan tak melanggar segala larangannya, yakni makan-minum dan apa saja yang bisa membatalkan puasa. Termasuk bersenang-senang antara suami istri di siang hari, apa lagi bersetubuh. 

Hal itu betul-betul dijaganya sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenam matahari. Meskipun berat dan tidak ada yang melihatnya. Padahal makanan dan minuman dan istri adalah milik sendiri (artinya walaupun yang dilarang itu halal di luar puasa). Kemampuan mengendalikan diri tersebut sanggup dilakukannya dalam waktu satu bulan. Tentu hal ini luar biasa, apa yang menjadikan seorang mampu mengatasi tuntutan tersebut? Tiada lain kecuali sikap disiplin dan commeted dengan aturan Allah dan Rasul-Nya serta kesadaran المُرَاقبَة merasa diawasi oleh Allah SWT. ethica otonom/sikap transendental dan kesadaran spiritual itu merupakan parameter iman yang sempurna bagi seorang Muslim.

 أفْضَلُ اْلاِيْمَانِ أنْ تَعْلَمَ اَنَّ اللهَ يَرَاكَ حَيْثمَا كُنْتَ ( الحديث )   

4). Berstatus sejajar dengan Malaikat
Kita semua tahu bahwa binatang kerjaannya hanya makan-mimun, mengadakan kontak kelamin dan tidur. Dan ini memang Allah kehendaki, karena memang mereka bernafsu, tidak berakal dan tidak bernurani. Berbeda dengan Malaikat, mereka tak bernafsu tapi berakal, berhati bernurani. Sedangkan manusia berakal, bernafsu, sehingga suatu saat berbuat baik, taat dan beribadah, akan tetapi di saat yang lain berma’siat, melanggar dan menentang aturan Tuhan.

Maka ketika manusia berpuasa (tak makan, tak minum dan tidak pula berkontak sexual) adalah statusnya sama dengan malaikat. Dan puasa ini sengaja Allah swt kehendaki untuk menghantarkan manusia menjadi mulia, yakni walaupun ada dorongan untuk makan, minum dan lain-lain. Akan tetapi karena mengedepankan akal yang sehat menjadi mampu mengendalikan diri dan orang yang mampu mengendalikan diri (urusan dunia) akan tetapi urusan akhirat senantiasa diutamakan, maka dia termasuk orang yang cerdas, demikian menurut penilaian Rasulullah SAW:

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ هَوَاهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ اْلمَوْةِ ( الحديث )

Orang bijak mengatakan, “ Di alam semesta ada tiga makhluk ciptaan Tuhan:
(1). Malaikat berakal tetapi tidak bernafsu
(2). Binatang yang bernafsu tapi tidak berakal
(3). Antara dua sifat itulah Allah menciptakan manusia (manusia berakal tapi sekaligus bernafsu), maka pabila akal mengalahkan nafsu, manusia menjadi lebih mulia dari pada Malaikat dan pabila nafsu mendominasi akal, manusia bisa menjadi lebih hina dari pada binatang. 

Semoga puasa kita menjadikan kita bertakwa dengan sebenar-benar bertakwa, Aamiin                      

  

Tag : Syuriah, Tausyiah
0 Komentar untuk "Oase: Hikmah Mendasar Dalam Berpuasa"

Back To Top