::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Pemuda Rentan Terpapar Paham Terorisme di Dunia Maya


Oleh: Minardi*

Dunia terorisme dan radikalisme sejak lama digerakkan secara langsung lewat bertatap muka. Kemudian setelah maraknya penggunaan media sosial maka terjadi perubahan dalam pola gerakannya. Mulai dari menyebarkan paham, mengajak bergabung, memberikan tutorial dalam beraksi, melakukan pembenaran sampai kepada mempublikasikan pasca aksi dan itu dilakukan secara masiv dan konsisten. Maka tidak mengherankan pernah ada anak yang tidak pernah bertemu dengan ISIS bisa termotivasi untuk meniru gaya ISIS. Karena dia mendapatkan pengetahuan tentang ISIS dari media sosial yang dibukanya di warung internet. ISIS sendiri organisasi teroris yang paling banyak dibicarakan di era kekinian. Mereka merupakan organisasi pertama yang secara aktif menggunakan dunia maya, khususnya media sosial untuk menawarkan gerakannya. Ketika mendeklarasikan diri dapat dikatakan unik karena tidak dengan iring-iringan alutsista militer, konferensi pers, atau pengumuman dengan melakukan penahanan warga sipil. Akan tetapi, kelompok radikal yang dikomandani oleh Abu Bakar Al-Baghdadi ini mengumumkan pendiriannya melalui media sosial. Pada 2013, ISIS pertama kali melakukan kicauan menggunakan akun @e3tasimo dengan nama akun I’tisamm24 untuk menunjukkan keberadannya. ISIS terus melakukan propaganda dan menebar ancaman ke sejumlah negara melalui video-video yang diunggah ke youtube. Pemanfaatan jaringan virtual, khususnya media sosial oleh ISIS merupakan fenomena global yang tentu saja berkait dengan maraknya aksi terorisme di Indonesia. 

Jaringan teroris di Tanah Air tidak dapat dilepaskan dengan pemanfaatan jejaring sosial untuk melancarkan strategi dan agenda mereka. Kondisi ini ditambah pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang pesat setiap tahunnya. Laporan penelitian yang dikeluarkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Pusat Kajian Komunikasi (Pusakom) Universitas Indonesia 2014 menjelaskan, pertumbuhan jumlah pengguna internet di dalam negeri terus meningkat sejak 2005. Pada tahun itu, jumlah pengguna dunia maya mencapai sebanyak 16 juta orang, namun meningkat drastis menjadi 88,1 juta netizen (34,9% dari jumlah penduduk Indonesia 252,4 juta jiwa) pada 2014. Mayoritas pengguna media sosial di Indonesia didominasi oleh kalangan pemuda. Dalam konteks ini, pemuda bisa menjadi subjek, bisa menjadi predikat dan bisa juga menjadi objek. Artinya pemuda termasuk aktor yang memproduksi informasi dan yang berkomunikasi, pemuda juga termasuk yang ikut share informasi di media sosial dan pemuda pula yang menerima segala macam bentuk informasi dan yang berkomunikasi di media sosial. Celah peluang ini yang dimanfaatkan kaum radikalis dan teroris untuk menyebarkan pengaruhnya.

Pola perubahan gerakan teroris ini terungkap dalam penelitiannya Fajar Purwawidada di Surakarta atau Solo. Dilihat dari karakteristik jaringan kelompok teroris Solo yang baru relatif sama dengan kelompok lama, yaitu memiliki tujuan yang bermotif politik, menunjukkan eksistensi, memperjuangkan ideologi agama Islam, serta perlawanan terhadap kekuasaan dan otoritas. Perekrutan anggota baru oleh kelompok jaringan teroris Solo banyak diarahkan pada anak-anak muda. Perekrutan dilakukan melalui pendidikan pondok pesantren, ceramah, kelompok pengajian, organisasi sekolah, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, hubungan pertemanan dan hubungan persaudaraan. Anggota kelompok jaringan teroris Solo ini banyak yang terdiri dari anak-anak muda. Untuk memperoleh sumber dana dalam melakukan aksinya, kelompok jaringan teroris Solo telah mengembangkan cara baru yaitu dengan melakukan Hacking Cybercrime (Purwawidada, 2014: 4). Dari hasil penelitian di atas, bisa dikatakan bahwa antara terorisme, politik, pemuda dan penggunaan media sosial, umumnya penggunaan internet sangat berkaitan erat. 

Dunia maya merupakan kekosongan baru yang tidak terbatas yang siapapun bisa dengan bebas mengaksesnya. Perebutan pengaruh untuk bisa dunia maya terjadi hampir di setiap detik. Maka inilah sebuah ancaman dan sekaligus tantangan bagi Bangsa dan Negara Indonesia. Sekaligus pemuda juga terkena imbasnya, karena generasi mudalah yang lebih mampu bisa memakai media sosial ini. Mengapa dikatakan ancaman, karena kemajuan dan perkembangan zaman yang akan membuat zaman berubah akan memberikan musibah bagi suatu bangsa jika salah dalam pemanfaatan media sosial. Tanpa mengesampingkan atas manfaatnya, media sosial telah menghadirkan ancaman tersendiri bagi pemuda. Namun jika dikelola dengan cerdas, ini adalah tantangan yang akan memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Internet, khususnya media sosial bisa diarahkan kepada kebaikan namun juga bisa diarahkan kepada keburukan. Ibarat pisau, maka bisa untuk memotong bawah merah namun juga bisa digunakan untuk melukai orang lain. 

Referensi:
Purwawidada, Fajar. 2014. Jaringan Baru Teroris Solo. Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)


Oleh: Minardi, Ketua LTN PCNU Klaten, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM, Koordinator Divisi Senyap AIS Nusantara

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Pemuda Rentan Terpapar Paham Terorisme di Dunia Maya"

Back To Top