::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Membuat Pendidikan Pancasila Yang Asyik di Era Digital

Juara I Lomba Aku, Kau dan Indonesia
dalam Rangka Hari Kemerdekaan RI oleh AIS Jawa Tengah

Suasana Hari Kesaktian Pancasila masih terasa sampai hari ini. Di berbagai media banyak pembahasan tentang tema sejarah pemberontakan G30S/PKI dan bahaya PKI, yangmana PKI dianggap yang paling bertanggungjawab oleh pemerintah saat itu atas pemberontakan itu. Sebagai dampaknya, ratusan bahkan ribuan kader dan simpatisan PKI baik di kota maupun pelosok desa dikejar, ditangkap, dipenjara dan tidak jarang dibunuh. Disusul adanya Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Diseluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme. Setelah itu, kata “PKI” seakan menjadi hantu yang menakutkan dan momok bagi masyarakat Indonesia. 

Indonesia telah memiliki sejarah kelam berdarah dari waktu ke waktu. Bukan hanya peristiwa G30S/PKI saja yang berdarah, PRRI/Permesta dan DI/TII termasuk beberapa konflik vertikal yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Belum termasuk Aceh, Papua dan Ambon yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Konflik sesama anak bangsa atau konflik-konflik horizontal yang memakan korban tidak sedikit, seperti di Sampit, Poso dan Ambon. Pengalaman-pengalaman pahit itu seharusnya tidak perlu diteruskan. Beberapa hari yang lalu penulis bersama teman-teman Prodi berkunjung ke Vietnam dan Kamboja. Di sana, terpampang kenangan atas bekas-bekas pertempuran dan konflik yang sangat mengerikan. Walaupun dekat secara wilayah, Indonesia janganlah seperti mereka. Ketua PB NU KH. Hasyim Muzadi pada seminar di Pondok Pesantren Al-Hikam yang membahas tentang kehidupan multi kultural, mengatakan: ”Saat ini ada upaya dari kelompok tertentu untuk mengganti Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia .… termasuk di kalangan legeslatif”. Padahal, keberadaan Pancasila sangat dibutuhkan untuk mempersatukan kurang lebih 500 (lima ratus) suku bangsa dan 6 (enam) agama yang ada di bumi pertiwi. Lebih lanjut dikatakan bahwa ”Upaya mengganti ideologi itu terlihat nyata, misalnya: banyak (munculnya) kelompok ekstrem, baik ekstrem kiri maupun ekstrem kanan” (Jawa Pos, Minggu 25 Juni 2006, hal : 2).

Indonesia ini beragam, maka tidak heran kalau memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi satu jua. Hanya untuk menggambarkan seberapa kompleks Indonesia ini, namun bersyukur walaupun beragam tetapi masih bersatu. Karakter masyarakat Nusantara yang santun sebenarnya tidak mengganggu maupun diganggu. Bangsa dan Negara ini memiliki Pancasila yang mampu menyatukan berbagai perbedaan di Indonesia ini.  Pancasila bukan hal baru maupun bukan berasal dari asing, melainkan asli milik Indonesia. Para founding father menggali nilai-nilai Pancasila untuk dijadikan Dasar Negara. Pancasila yang dipelajari secara ilmiah adalah satu objek pembahasan di mana secara umum Pancasila merupakan hasil budaya bangsa Indonesia (Kaelan, 1993: 13). 

Pancasila masih tetap sakti untuk menjadi pemersatu, pandangan hidup, ideologi dan jati diri bangsa Indonesia. Walaupun setelah reformasi ada kecenderungan nilai-nilai Pancasila memudar dan masyarakat kehilangan kesadaran tentang budaya Pancasila. yaitu kebudayaan yang menggunakan asas kekeluargaan, gotongroyong dan saling membantu, bersatu, guyup-rukun, saling menghargai seperti tercermin dalam ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila, suatu pandangan hidup yang dicari, digali, dan ditemukan dari bumi sendiri, bumi Pertiwi (Suprijadi, 2004: iii-iv). Karena perubahan arsitektur dan isu internasional membuat tantangan dan masalah yang dihadapi oleh negara-negara juga berubah. Peristiwa 11 September 2001 membuat pertentangan ideologi antara liberalisme dan komunisme bukan lagi satu-satunya menjadi topik utama. Karena terorisme, radikalisme dan separatisme juga menjadi tantangan yang banyak dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia.

Perkembangan zaman semakin lama semakin pesat yang memberikan dampak langsung terhadap Indonesia. Salah satunya adanya dunia digital yang memberikan kemudahan-kemudahan untuk kehidupan manusia. Harga alat (laptop dan handphone) yang murah dan mudah ditemukan, ditambah murah harga pulsa dan mudah mencari sinyal untuk menggunakannya. Data dari lembaga pengkajian komunikasi digital We are Social yang dirilis pada tahun 2016 menunjukkan dari total populasi 259,1 juta orang, pengguna internet aktif 88,1 juta orang. Sementara itu, pengguna aktif media sosial di Indonesia tercatat 79 juta orang. We are Social juga mencatat 326,3 juta warga Indonesia menggunakan pola komunikasi berbasis pergerakan aktif (mobile connections) dan 66 juta di antara menggunakan sistem itu untuk mengakses media sosial.

Kemajuan zaman memang bisa memberikan kemanfaatan namun juga bisa memberikan keburukan. Begitu banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial terlihat menjadi ancaman yang serius jika tidak ditangani. Namun ini merupakan tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia, bagaimana hal kondisi seperti itu bisa menjadi peluang dan keuntungan bagi Indonesia. Ancaman terorisme, separatisme, komunisme dan liberalisme hanya bisa ditandingi dengan Pancasila. Namun cara menandinginya bukan dengan cara kekerasan. Karena jika dilakukan dengan kekerasan, maka pasti akan menimbulkan masalah baru, pastinya akan menjadi dendam yang tak kunjung usai bagi generasi selanjutnya. Saatnya, potensi pengguna media sosial yang melimpah itu menjadi salah satu sarana untuk melakukan Pendidikan Pancasila. Pendidikan ini khususnya dilakukan kepada pemuda yang menjadi sasarannya. Alasannya, karena pemuda adalah generasi penerus estafet pembangunan bangsa. Selain itu, sekarang dengan adanya media sosial menjadi semakin mudah untuk menyampaikan pesan pendidikan itu karena pengguna media sosial mayoritas anak muda.

Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila merupakan ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembagan jaman tanpa pengubahan nilai dasarnya. Ini bukan berarti bahwa nilai dasar Pancasila dapat diubah dengan nilai dasar yang lain yang sama artinya dengan meniadakan Pancasila atau meniadakan identitas/jati diri bangsa Indonesia (Al Marsudi, 2000: 62). Jika Pancasila merupakan ideologi terbuka, maka bolehlah jika ditawarkan sebuah cara untuk menyampaikan Pendidikan Pancasila dengan tidak mendoktrin, mudah dipahami, dan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila akan tetap mampu mengatasi segala permasalahan bangsa ini, baik di bidang ekonomi, politik, budaya, sosial, perang ideologi dan HANKAM (berkaitan dengan Asta Gatra). Terlebih, Marawi di Filipina dan Rohingnya di Myanmar masih tetap 'dinyalakan' oleh para teroris untuk mengganggu Keamanan dan Ketahanan Nasional negara-negara di Asia Tenggara. Termasuk arah baru geopolitik dunia, yang menjadi Asia Tenggara menjadi 'arena' baru dalam 'Pagelaran Agung Dunia'.

Kembali ke pembahasan, budaya copas (copy-paste) dan ‘asal’ share yang memberikan keuntungan tersendiri untuk ini. Negara melalui institusi terkait memproduksi produk-produk online tentang Pancasila. Produk itu bisa berupa video pendek, ebook, meme dan konten-konten yang bisa dengan mudah disebarkan-ulang di media sosial. Materi yang disebarkan seharusnya bukan hanya secara tekstual tentang Pancasila, tetapi juga nilai-nilai yang terkadung di dalam Pancasila. Sehingga jika yang disebarkan adalah nilai-nilai luhur Pancasila maka secara tidak terasa, masyarakat akan tahu dan dengan sadar mengikutinya. Tidak lupa untuk menggandeng organisasi-organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama menjaga Pancasila. Konten-konten ini jika disebarkan secara masiv dan dikelola dengan baik akan menjadi arus baru, wacana baru dan diharapkan menjadi trend tersendiri bagi kalangan pemuda. Jika ini yang terjadi, pastinya paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila akan tersingkir dengan sendirinya. Walaupun secara konsep mudah untuk menggunakan jalur media sosial untuk Pendidikan Pancasila. Namun akan menjadi sulit jika belum ada yang mengawalinya dan hanya sekedar menunggu-nunggu. 

Oleh: Minardi, Ketua LTN PCNU Klaten, Divisi Scouting AIS Nusantara, Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM


Referensi:
Al Marsudi, Subandi. 2000. Pancasila dan UUD '45 dalam Paradigma Reformasi. Jakarta: Raja Grafindo
Kaelan, 1993, Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Liberty.
Suprijadi, Bambang. 2004. Pendidikan Pancasila Untuk Mahasiswa. Surabaya: LP3JATIM – Universitas Wijaya Kusuma.

Jawa Pos, Minggu 25 Juni 2006

Tag : Opini
0 Komentar untuk "Membuat Pendidikan Pancasila Yang Asyik di Era Digital"

Back To Top