::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Pesan Kemanusiaan dari Arafah


NU Klaten - Hari ini, Ummat Islam seluruh dunia sedang menunaikan Puasa Arofah. Bertepatan dengan Wukuf yang ditunaikan oleh jama'ah haji di Arofah. Besok, satu hari setelahnya adalah Hari Raya Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban.

Pada kesempatan ini KH Zakky Mubarak, Rais Syuriah PBNU
menyampaikan sebuah artikel. Pada tanggal sembilan Dzulhijjah, umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang melakukan ibadah haji berkumpul di Arafah. Di padang Arafah semua jamaah haji dari berbagai bangsa dan suku, dengan berbagai macam status sosial, para pemimpin dan rakyat jelata, semua menyatu dengan alam dalam naungan keagungan Ilahi. Dengan berpakaian sangat sederhana, tidak lagi terdapat perbedaan, semua sama, semua melepaskan atributnya masing-masing. Mereka menyatu sebagai hamba-hamba Allah yang asli alami, tidak berhias, tidak bermake-up, tidak membanggakan diri, mereka larut dalam alam yang amat bersahaja, larut dalam keagungan Maha Pencipta untuk memenuhi panggilan-Nya dengan ikhlas dan pasrah. Bagi umat Islam yang tidak melakukan ibadah haji, menyambut hari itu dengan puasa Arafah, puasa sunnah dalam rangka beribadah dan ikut prihatin terhadap saudara-saudaranya yang sedang melakukan wukuf di sana.

Lebih empat belas abad yang lalu, di padang Arafah yang tandus itu, yang kini ditumbuhi pohon-pohon menghijau, Rasul Muhammad s.a.w. menyampaikan pesan kemanusiaan dan perdamaian. Dalam pidato perpisahannya di sana, juga dalam rangka ibadah haji, yang disebut sebagai haji wada’ atau haji perpisahan sebagai ibadah haji terakhir sebelum beliau wafat. Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta itu menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang amat mengharukan, berkesan mendalam sampai ke lubuk hati:

“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu, kamu semua berasal dari Adam. sedangkan Adam berasal dari tanah. (HR. Ahmad, 23536). 

Dalam hadis yang lain, persamaan kemanusiaan dan haknya diperinci lebih lengkap:

“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya”. (HR. Ahmad, 22978).

Pidato perpisahan yang amat singkat ini membuat para sahabat Nabi terharu, sehingga pakaian ihram mereka yang putih bersih itu bersimbah air mata. Hal itu menandakan bahwa pesan ini sangat berkesan dan sangat berpengaruh pada perilaku mereka. Misi perdamaian dan persamaan hak inilah yang kemudian dikembangkan dan diperjuangkan para sahabat Nabi. Dalam waktu yang singkat, kemudian mereka menjadi umat yang besar dan berwibawa yang senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan.

Konsepsi kemanusiaan dalam Islam begitu luhur, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kita semua adalah bersaudara, tidak ada perbedaaan antara satu dengan lainnya, kecuali dengan iman dan amal perbuatannya atau dengan takwanya.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang pria dan wanita, dan menjadikanmu berbagai bangsa dan suku agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Tahu lagi waspada” (QS. al-Hujarat,49: 13).

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu" (QS. al-Hujarat,49: 10).

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kelompok mencela kelompok yang lain, karena boleh jadi mereka yang dicela lebih baik dari mereka yang mencela....” (QS. al-Hujarat,49: 11).

Beberapa ayat tersebut jelas sekali mengarahkan umat manusia agar senantiasa menjalin persaudaraan terhadap sesamanya, saling berbuat baik, saling berpesan mengenai kebenaran, ketabahan dan kesabaran. Dalam beberapa wasiat Nabi s.a.w. banyak sekali dipesankan, agar umat manusia senantiasa menjalin ukhuwah atau persaudaraan dan senantiasa menjalin hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesamanya dan hubungan dengan alam sekitarnya. Nabi bersabda:

“Engkau dapati orang-orang yang beriman, dalam hal saling mengasihi, saling mencintai, dan beriba hati antara mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka dirasakan sakit pula oleh seluruh tubuhnya sehingga sulit tidur dan demam”. (HR. Bukhari, 6011, Muslim, 2586).

“Barangsiapa yang tidak bersikap kasih terhadap sesamanya maka Allah tidak mengasihinya”. (HR. Bukhari, 6013, Muslim, 2319).

Pesan Arafah yang mulia itu akan tetap abadi, yang dapat kita petik dari pesan itu kali ini, bagaimana kita dapat membangkitkan kembali semangat persaudaraan dan ukhuwah di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, pesan itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Peranan para dai dan tokoh masyarakat sangat penting dalam memasyarakatkan pesan kemanusiaan ini. Kita semua senantiasa berpegang kepada wasiat Nabi yang disampaikan kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari, ketika keduanya dilantik sebagai gubernur di Yaman bagian Barat dan Timur:

“Permudahlah, jangan kamu persulit, gembirakanlah, jangan kamu takut-takuti, saling mentaatilah kamu berdua dan jangan bersilang sengketa”. (HR Muslim, 1732). 

Selamat melaksanakan wukuf di Arafah, semoga menjadi haji yang mabrur.

Tag : PBNU
0 Komentar untuk "Pesan Kemanusiaan dari Arafah"

Back To Top