::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Menang Tanpo Ngasorake



Kearifan Lokal Jawa Untuk Memaafkan Sesama
Lebaran atau Idul Fitri merupakan akhir dari Ramadhan yang ditandai dengan Takbiran dan Sholat Hari Raya Berjama’ah. Di pergantian menuju 1 Syawal ini biasanya ditandai dengan adanya budaya mudik dari kota ke desa. Mudik ini semata-mata bukan hanya pulang kampung, namun untuk melaksanakan tradisi saling bermaafan yang di setiap daerah berbeda-beda istilah. Kalau di Jawa ada istilah badhan dan ujung namun secara nasional disebut halal bi halal. Di samping, pulang kampung untuk bertemu dengan orang tua, sanak saudara dan tetangga serta teman-teman. Maka tidak heran jika selama lebaran ini, sering diisi dengan acara reuni, halal bi halal keluarga besar, dan pertunjukan seni. Kadang diadakan pertandingan olahraga antara perantauan dengan yang masih di desa.

Budaya halal bi halal ini diantaranya dengan keliling ke rumah-rumah untuk meminta maaf. Biasa kepada yang lebih tua secara nasab maupun kepada orang yang dihormati. Atau jika sepantara dalam umur, maka sedikit ada kebebasan untuk silaturahim. Nah, sayangnya kadang yang dikunjungi adalah dia yang akrab dan yang memiliki hubungan baik saja. Bagi yang sebelumnya terjadi “perang dingin” maupun konflik tidak dikunjungi. Begitu pula dengan pihak lain tadi, juga enggan untuk mengunjungi meminta maaf. 

Indonesia sangat melimpah atas keragaman kearifan lokal. Setiap masyarakat memliki masyarakat dan masyarakat pula mempunyai resolusi konflik sendiri dalam mengatasi masalanya. Di tengah kemajuan zaman seperti ini tentu tidak boleh melupakan akar budaya yang telah ada. Karena budaya-budaya itu mengandung nilai-nilai yang sangat luhur yang perlu tetap dilestarikan. Itulah kearifan lokal yang perlu terus digali di samping tetap menikmati kebudayaan yang modern. Melupakan kearifan lokal yang ada berarti mengingkari eksistensi warisan budaya nenek moyang yang sangat bernilai tinggi.

Memang sebenarnya di dalam masyarakat Indonesia terjadi kerapuhan sosial. Masyarakat yang jika dipermukaan terlihat damai dan rukun itu sebenarnya menyimpan kerentanan. Terkadang hanya disebabkan permasalahan sepele, bahkan sesama saudara bisa tidak bertegur sapa dalam waktu yang lama. Kematian pun kadang bukan menjadi penghalang dari pertengkaran ini, mereka masih terus “perang dingin” sampai dibawa oleh anak keturunannya. Dengan mudah memutus silaturahim, padahal itu dilarang di dalam Islam. “Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi”. (Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5984) & Muslim (no. 2556), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.)

Bagi masyarakat Jawa, ada falsafah kehidupan yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam hal maaf-bermaafan ini. Memang Nusantara ini kaya akan kearifan-kearifan lokal yang menjadi khazanah peradaban bangsa. Menang Tanpo Ngasorake atau Menang Tanpa Mengalahkan salah satu bentuk khazanah bangsa dalam bidang saling memaafkan. Memang berat jika mencerna kalimat ini secara mentah. Mana mungkin orang bisa dikatakan menang tanpa mengalahkan. Yang dipahami masyarakat saat ini, orang bisa dikatakan menang kalau bisa mengalahkan orang lain. Dunia dibagi menjadi dua dilihat secara hitam-putih saja, menang dan kalah. Tidak ada alternatif lain agar semua tidak merasa dikalahkan dan ini sesuatu yang sulit. Orang lain tidak merasa dipermalukan, namun kita pun menjadi plong hatinya. Mungkin ini lebih ke win-win solution.  Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah  SAW bersabda: “Barangsiapa yang didatangi  saudaranya yang hendak meminta maaf ,hendaklah memaafkannya,apakah ia berada dipihak  yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal  tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat)". (HR Al-Hakim). Menurunkan ego nya agar bisa lebih mendapatkan kebaikan dan kemaslahatan bersama. Memberi maaf itu mulia, namun meminta maaf terlebih dahulu itu baru luar biasa.

Menang Tanpa Ngasorake ini lebih kepada kearifan lokal dalam ranah budaya lisan. Budaya Jawa dari zaman dahulu terkenal sebagai budaya adiluhung yang menyimpan banyak nilai yang sangat luhur mulai dari etika dan sopan santun di dalam rumah sampai sopan santun di ranah publik. Bagaimana mengeluarkan pendapat, berbicara kepada orang tua, berpakaian, makan, memperlakukan orang lain dan sebagainya semuanya telah ada dalam budaya Jawa. Bahasa dijadikan sebagai alat untuk memahami budaya, baik yang sekarang ada maupun yang telah diawetkan dan yang akan datang (dengan cara mewariskannya). Tanpa bahasa tidak akan ada budaya. Setiap masyarakat budaya mempertahankan konsepnya melalui nilai budaya dan sistem budaya dengan mempertahankan fungsi, satuan, batas, bentuk, lingkungan, hubungan, proses, masukan, keluaran, dan pertukaran (Soeleman 1988).

Kita coba menarik kepada sebuah kasus agar mudah dipahami. Ada dua orang bertentangga dekat, yaitu Mbah Wiryo dan Mbah Pawiro. Awalnya hanya karena masalah rebutan air untuk pertanian, Mbah Wiryo dan Mbah Pawiro terlibat konflik fisik sampai menjadi perang dingin. Perseteruan ini berjalan dalam waktu yang lama, sampai anak dan cucunya juga ikut konflik. Mbah Wiryo enggan bertegur sapa dengan Mbah Pawiro, begitu pula dengan Mbah Pawiro. Mereka gethingan, jotakan, padu dan neng-nengan atau perang dingin. Sampai di Jawa dinamakan dadhi banyu ora nyawuk, dadhi lemah ora liwat lan dadhio godhong ora bakal nyuwek atau jadi air tidak adakan mengambil, jadi tanah tidak akan lewat dan jadi daun tidak akan menyobeknya. Sampai suatu waktu, dengan mendengar dan melihat keadaan, lalu Mbah Pawiro menyadari dan ikhlas bahwa bagaimana pun dia harus lebih dahulu meminta maaf kepada Mbah Wiryo. Entah siapa yang terlebih dahulu salah, entah siapa yang terlebih dahulu membuat masalah, entah siapa yang lebih tua secara umur maupun nasab namun yang diperhatikan Mbah Pawiro pokoknya dia harus yang terlebih dahulu meminta maaf. Nah, saat berjabat tangan dengan Mbah Wiryo, Mbah Pawiro telah menang dari Mbah Wiryo tanpa Mbah Wiryo merasa dikalahkan. 

Memang mengalah itu bukan berarti kalah, mengalah untuk kemaslahatan umum. Ajatha satru atau merangkul musuh, itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada yang melawannya. Namun dengan akhlak yang baik, maka para penentangnya dengan ikhlas memeluk agama Islam. Ada pula kata: Wong Jowo kuwi nek dipangku mati, koyo Aksoro Jowo bahwa orang Jawa itu, seperti seluruh manusia kalau ditunjukin akhlak yang baik maka akan luluh kerasnya hati, sebagaimana yang tergambar di Aksara Jawa. Model-model seperti inilah yang dipakai oleh Para Walisongo untuk mensyiarkan Islam dengan cara damai. 

Di suasana lebaran seperti ini, sebaiknya kita yang terlebih dahulu meminta maaf kepada siapa saja. Tidak memperhatikan siapa yang lebih tua, siapa yang mendahului salah, atau permasalahan keegoan lainnya. Jika kita telah berhasil mengalahkan diri kita sendiri dulu, maka kita telah bisa menang tanpo ngasorake.

Refensi:
Soelaeman. 1988. Suatu Telaah Tentang Manusia-Religi-Pendidikan. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti

oleh: Minardi, Penggiat Literasi
  
  



0 Komentar untuk "Menang Tanpo Ngasorake"

Back To Top