::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Liputan Khusus: Ansor Bersholawat dan Halal bi Halal NU Klaten



oleh: Kusumasari Hima D
NU Klaten - Ahad kemarin (16 Juli 2017), di Pendopo Joglo Kembar Klaten, dilaksanakan Ansor Bersholawat dan Halal bi Halal NU Klaten. Acara itu dihadiri oleh ribuan jama'ah dari Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa dan lembaga dan badan otonom NU lainnya.
Selain Halal bi Halal, juga dilaksanakan Ijazah Kubro: Petikan Burdah amaliyah Mbah Wahab Hasbullah, Hizb Falah dari Mbah Hasyim Asy'ari dan Kanzul 'Arsy dari Mbah Abdul Hamid Kajoran. Lalu, ma'idatul hasanah oleh Mbah KH Amin Hamid Kajoran Magelang.

Dalam ma'idatul hasanah, Mbah KH Amin Hamid Kajoran menceritakan:
KH. Hasyim Asy’ari bersama 9 ulama’ menggagas terbentuknya Pancasila sebagai asas tunggal. Saat itu KH. Hasyim Asy’ari berada di Mekah. Suasana politik Mekkah sangat mencekam. Raja Su’ud menggantikan raja sebelumnya. Dia memanfaatkan kemurnian ajaran Islam sebagai kekuatan kekuasaannya, sehingga masyarakat yang tidak mengikuti ajaran pembaharuan Islam tersebut, maka mereka akan mendapatkan hukuman. Situasi pergulatan politik tersebut bersamaan dengan pemikiran KH. Hasyim dan 9 ulama’ untuk membangun perekoniomian bangsa. Pembanguna ekonomi bangsa terutama dalam hal pertanian dan perdagangan. Harapan KH. Hasyim dan beberapa ulama adalah dibangunnya pabrik tebu, dan dari sana memproduksi gula secara mandiri. 
Tidak hanya sektor perekonomian yang menjadi prioritas pemikiran, namun gagasan dicetuskannya Pancasila. Pancasila saat itu ditulis dengan aksara Arab Pegon, tanpa adanya harakat dan titik, dan ditulis dengan bahasa Arab. Tujuan dari penulisan naskah tersebut adalah agar tidak diketahui oleh Belanda. 


Semangat KH. Wahab Hasbullah dalam menginternalisasikan Pancasila dan nasionalisme mendorong beliau untuk meninggalkan zona nyaman. Beliau menempuh perjalanan Surabaya – Jakarta untuk merumuskan pancasila dan kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga, result dari semangat itu melahirkan frase Hubbul Wathan Minal Iman. Frasa tersebut bukanlah berasal dari Hadits, tetapi memang murni keluar dari semangat nasionalisme KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Kemudian, frasa tersebut dirangkai dalam sebuah syair dan lagu, dan dinyanyikan oleh santri Tebu Ireng dan Tambak Beras, Jombang. Tujuannya adalah untuk mendidika dan mempersipakan kader bangsa yang memiliki dedikasi mengabdi pada agama, nusa, dan bangsa.

Resolusi jihad itulah yang disebut dengan Religious-Nasionalisme atau Nasionalisme-Religious, adalah semangat nasionalisme yang berpondasi dari gelora Iman. Semangat tersebut secara kontinuitas terus digelorakan untuk mempersiapkan kader bangsa yang turut serta menjaga Indonesia menjadi negeri yang selamat dan menyelamatkan. 
Hukum resolusi jihad adalah fardlu ‘ain. Setiap warga Islam –dan agamawan selain Islam- harus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan yang diraih Indonesia bukanlah semata-mata lantaran usaha rakyat saja, tetapi kemerdekaan tercapai atas rahmat dan berkah Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan apabila Tuhan turut mengambil peran atas kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Untuk itu, pancasila sebagai dasar ideologi Indonesia memprioritaskan ‘ketuhanan’ sebagai motif utama bangsa negara dalam bernegara dan berfalsafah hidup. 

Sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebelumnya menjadi perdebatan rakyat Indonesia bagian Timur dengan kalimat ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Untuk menjaga keutuhan NKRI, frase ‘dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dihapus. Sehingga, sila pertama menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sila ‘Ketuhanan yang maha esa’ merupakan konsep tauhid dalam Islam. Rakyat Indonesia yang beragama Islam mempunyai ‘Ruang’ untuk tetap menjalankan syari’at Islam tanpa mendiskriminasi pemeluk Agama lain. Ketersediaan Negara dalam menyediakan ruang kebebasan untuk tetap menerapkan syari’at Islam bagi rakyat yang memeluk Agama Islam. Demikian, Pancasila adalah represantasi pragmatis syari’at Islam. 



Sering dikobarkan, ‘Pancasila… Jaya!!!’, mengapa bisa demikian? 
Letak jaya pada pancasila adalah pada kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil tertuang dalam hukum yang berlaku. Ibaratnya adanya hukuman pemotongan tangan demi menegakkan keadilan, maka relakan hukuman itu dilaksanakan. Sedangkan, adab harus diprioritaskan sebelum yang lain. Setiap aktivitas dan keadaan selalu ada adabnya, sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah. Rasulullah adalah manusia biasa seperti yang lainnya, tapi beliau laksana mutiara diantara bebatuan. Untuk itu, segala teladan yang sudah diteladankannya hendaknya terpatri dan melekat menjadi karakteristik Umat Islam. Nilai-nilai akhlak dalam Islam sudah seyogyanya ikut mewarnai karakteristik bangsa Indonesia. Nilai itu pun tersurat pula dalam Pancasila. 

Nilai dalam pancasila bersumber dari Al-Qur’an. Allah menganugerahi Indonesia berupa bumi Indonesia beserta isinya tidak lain adalah untuk menjamin kesejahterahan rakyat Indonesia. Kesejahterahan itulah yang menjadi titik humanisme/kemanusiaan sebagai rakyat Indonesia. Dari segi kemanusiaan, manusia memiliki 2 komponen, yakni ruh dan qalb. 

Ruh adalah hal yang substansial pada manusia, karena tanpa ruh manusia secara totalitas tidak bisa berfikir dan merasa. Ruh diimbangi oleh qalb, agar bisa berjalan harmoni. Hati yang keras menyebabkan timbulnya penyakit hati. Dzikrullah merupakan solusi penting untuk menanggulangi timbulnya penyakit hati. Manusia memiliki basyirah, mata hati. Mata hati yang berfungsi dengan baik tidak akan membiarkan hati dipenuhi keragu-raguan, karena keraguan dalam hati harus dihilangkan. Hati dibelaki oleh moral dan kejujuran. 

Moral dibagi menjadi 3 bagian, yakni; moral lingkungan, moral agama, dan moral religi. Apabila moral lingkungan terbentuk dan diaplikasikan di lingkungan dimana individu berada, maka moral religi berkutat seputar halal dan haram. Kejujuran bersumber dari fuad. Andaikan mulut bisa berbohong, tetapi tidak dengan fuad. 

Ketika hati nurani berfungsi secara maksimal, maka kemanusiaan akan teraktualisasi. Sisi kemanusian pada diri manusia apabila digali lebih dalam, maka mereka akan mengetahui dirinya, kemudian mereka akan mengenal Tuhannya, berdasarkan pada ‘Man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbahu’. Seringnya manusia tersibukkan oleh kepentingan private, sehingga melupakan dan menafikan kepentingan yang jauh lebih besar. 

Sisi kemanusiaan, adil, dan beradab merepresantasikan apabila pancasila bersendi dari Al-Qur’an. Pancasila mampu mempersatukan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia terbingkai dalam satu bingkai NKRI yang mempersatukan 333 suku bangsa, yang berada pada 17.000 pulau dan sekitar 2000 pulau yang belum bernama. Bangsa Indonesia dengan latar belakang yang multivarian tetap berada pada satu suara dan satu kata, yakni ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang bernegara kesatuan Republik Indonesia. 
Pancasila, Nahdlatul Ulama’, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada satu garis istimewa. Demikian, Nahdlatul Ulama’ sudah final bahwa NKRI harga mati. NKRI akan jaya manakala menerapkan ilmu Ulama’, namun realitanya kebanyakan berpaling dari Ulama’. Selain dengan ilmu para ulama’, juga pemimpin yang adil dan syafa’at dari aghniya. 
  
  

Tag : Ansor, Banom
0 Komentar untuk "Liputan Khusus: Ansor Bersholawat dan Halal bi Halal NU Klaten"

Back To Top