::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Kenangan Bersama Gus Kelik

Gus Kelik dibawa ke Masjid Al Munawwir Krapyak
NU Klaten~ Kabar duka menyelimuti Ponpes Krapyak, DI. Yogyakarta. Lantaran Kyai yang dikenal dengan sapaan “Gus Kelik” (KH. Muhammad Rifqi Ali ibn KH. Ali Maksum ibn KH. Ma’shum) dikabarkan malam tadi sekitar pukul 22.00 WIB telah dipanggil ke pangkuan Rahmatullah Ta’ala. Dimakamkan tadi siang pukul 14.00 WIB di Kompleks Makam Keluarga Munawwir di Dongkelan. Banyak kenangan yang tiada pernah bisa terlupakan bagi setiap orang yang pernah bertemu dan berkenalan dengan beliau. Bagi santri, bagi alumni, bagi jama'ah dan bagi segenap warga masyarakat.

Kisah pertama datang dari Habib Muhsin Basheban dalam https://www.facebook.com/muhsinbach/posts/562573513950687

Almameterku pun berduka.
Kiranya sekitar 3 tahunan saya pernah berkhidmat di Ponpes Ali Maksum. Ada beberapa hal yang masih terngiang dengan sosok Almarhum Gus Kelik di ingatan saya. 
Pertama, sewaktu saya menjadi pembimbing atau pembina santri. Waktu itu selepas liburan panjang pondok (Hari Raya Ied Fitri), banyak santri yang masih pulang, dan suasana pondok pun masih terlihat sangat sepi. Kebetulan saat itu, saya baru tiba dipondok pada watku malam. Setahu saya tak ada satu pun santri atau pembimbing yang tau kalau saya sudah tiba di pondok. Namun, pada waktu paginya tiba-tiba ada suara klakson motor yang berbunyi begitu kencang. Kalau para santri atau pembimbing itu sudah mafhum siapa yang membunyikan klakson motor seperti itu. Tidak lain yang membunyikan adalah Gus Kelik. 
Maka serentak ada satu pembimbing yang menghampiri Gus Kelik. 
Beliau menanyakan, “Panggilkan Muhsin?" Kata teman saya yang pembimbing itu, “Muhsin masih dirumah Gus?” “Panggilin saja di atas sana?” Kira-kira seperti itu percakapannya.
Maka tak dinyana, teman saya itu ke kamar saya. Agak kaget ketika melihat saya sedang duduk rebahan di kamar pembimbing lantai 2. “Lho sudah datang to Sin?" "Iya baru saja tadi malam" "Itu dipanggil Gus Kelik.” Saya pun segera ke bawah menemui Gus Kelik. Bersalaman meminta maaf, lalu Gus Kelik berkata kepada saya, “Lebaran hari apa?” dan menayakan kabar. Saat itu memang di Negara kita lebarannya kurang akur, jadi kadang menjadi bahan pembicaraan atau guyonan. Masya Allah, yang ada dibenak saya ketika itu kok bisa-bisanya ya Gus Kelik tau kalau saya sudah datang?

Kenangan kedua, masih terjadi di suasana pondok. Ketika itu saya memiliki sebuah tabungan kecil dari botol bekas Aqua yang saya isi uang recehan. Tabungan itu saya simpan di dalam lemari. Nah, ketika Ustadz Nadzir (Santri senior yang sekamar dengan saya) melihat saya menyimpan uang receh, maka ia mengatakan, “Wah, yik nanti diambil Gus Kelik lho?” Dan saat itu saya menanggapi perkataan Ustadz Nadzir dengan hal yang remeh, “Ya gak mungkin lah pak?” Batin saya ketika itu, “Kamar saya kan di lantai 2, mana mungkin Gus Kelik mau ke lantai 2, apalagi merogok-rogok.” Tak dinyana, saat percakapan saya dengan Ustadz Nadir yang terjadi di waktu malam, namun pada pagi harinya saya tersontak terkejut Gus Kelik membuka pintu dan masuk ke kamar saya yang lantai 2 itu.
Kemudian, Gus Kelik menghampiri Ustadz Nadzir yang sedang rebahan. “Kene Dzir? Nopo Gus? Aku jalok plastic? Buat nopo? Wes pokoe plastic?” Ya kiranya begitulah percakapan Gus Kelik dan Ustadz Nadzir. Saya yang hanya menyaksikan sudah ngebatin, “Waduh, uangku iki?” Ditambah Ustadz Nadzir pun seakan memberikan isyarat kepada saya, “Tenan to!” Maka ketika itu lemari Ustadz Nadzir diperiksan, aman. Nah, ketika tiba dilemari saya dibukanya lalu Gus Kelik duduk di depan pas lemari saya. Sambil tersenyum terkekeh, Gus Kelik mengatakan, “Dir iki buat aku yo?” Kata Ustadz Nadzir, “Tanya yang punya itu Gus?” Ketika Gus Kelik menatap saya, dan saya hanya bisa berkata, “Monggo Gus?” Ya Allah, begitulah keadaannya.

Setelah kejadian itu saya bisa mengeleng-geleng. Namun, ajibnya uang-uang itu sejatinya hanya dikoleksi. Nanti saat Ramadhan tiba, biasanya diadakan buka bersama dikediaman Gus Kelik dan santunan kepada para pegawai di Ali Maksum. Nah, informasi yang saya dapat uang-uang itulah (yang dimintai Gus Kelik kepada pembimbing atau yang lain) yang dijadikan sebagai santunan dan buka bersama saat Ramadhan. Masya Allah. Satu lagi informasi yang saya dapat, Gus Kelik sejatinya termasuk Wali Allah yang majdub. Maka tak heran, kalau para santri dan pembimbing dan juga warga sekitar Krapyak memaklumi apa tingkah yang dilakukan Gus Kelik. Semoga Almarhum Gus Kelik diampuni segala khilaf dan dosanya, diangkat pula derjatnya ila Firdausil-A’la dan bersanding dengan Junjungan Nabi Kita Bil Musthafa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahul-Faatihah …
Krapyak, 3 Agustus 2016
Muhsin Basyaiban
dari Kanan: Mbah Ali Maksum Krapyak,
Gus Hilmy Muhammad, lalu Gus Kelik


Kenangan kedua datang dari Ifdlolul Maghfur dalam http://www.halaqoh.net/ dan www.santrionline.net/

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.
Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada  KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.
Semenjak itulah KH. Ali  Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada.  Dan hampir setiap santri di Krapyak  pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering.  Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.
Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.
“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.
Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa.

Catatan dari Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.


Kenangan ketiga datang dari Minardi
Diceritakan oleh Minardi bahwa awalnya dia tahu Gus Kelik dari rutinan sholawatan muda-mudi setiap hari Ahad yaitu Jama'ah An Najaah Krapyak yang secara tidak langsung dibawah bimbingan Gus Kelik. Lama-kelamaan, entah kenapa memiliki keinginan untuk ikut juga rutinan setiap malam Kamis di PP Ali Maksum Krapyak. Awalnya sich canggung, tapi karena di sana banyak kawan An Najaah yang hadir maka lambat-laun dia malah terlarut dalam 'kenikmatan'.

Dia nyaris tidak pernah absen untuk mengikuti Majelis Diba'iyyah bil Musthofa di sana. Bahkan dahulu saat heboh kabar adanya genk motor dan pembacokan pun tidak pernah membuatnya gentar. 

Banyak sebenarnya yang dia rasakan, Minardi merasa ada yang berbeda dari Kyai Putra Mbah Ali Maksum yang satu ini. Namun tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. 

Pernah suatu waktu, pas Diba-an, seorang Kyai yang mengisi mauidhoh hasanah menceritakan kisah beliau dengan beliau (Gus Kelik). Kyai tersebut menceritakan tentang lebih utama mana Sholat Jum'at dengan menolong orang kecelakaan?
Dikisahkan, dahulu zaman Kyai itu masih nyantri di Krapyak, saat itu hari Jum'at dan mendekati tiba waktu sholat Jum'at. Kyai itu diajak Gus Kelik ke Plengkung Gading (Krapyak ke Utara, dekat Alun-alun Kidul). Kyai tersebut was-was dan ngendika kalau ini sudah mendekati sholat Jum'at. Namun Gus Kelik ngendika untuk menunggu sebentar. Setiap kali Kyai tadi ngendika kayak tadi, maka Gus Kelik ngendika untuk menunggu. Tiba-tiba tanpa aba-aba di depan beliau berdua ada kecelakan dan keadaan jalan lengang karena sedang Sholat Jum'at. Beliau berdua pun lalu menolong yang kecelakaan tadi. Kyai itu pun pada akhirnya paham yang dimaksud Gus Kelik. 

Aneh dan amazing keadaan menjelang dimakamkannya Gus Kelik. Beberapa hari Minardi merasa tidak nyaman dan kangen Krapyak. Sampai pada akhirnya paginya mendapat kabar kalau beliau telah meninggal dunia.
Tadi saat sebelum dimakamkan, Minardi datang ke Krapyak. Di sana bertemu dengan Kakek-kakek yang masih tegap walau sudah dimakan umur. Kata beliau, beliau berasal dari Borobudur, datang dengan anaknya, katanya Gus Kelik sering maen ke sana. Kakek tadi mempersilahkan Minardi untuk mensholatkan, berkali-kali beliau ngendika begitu. Namun setelah sholat dan membaca Yasin, Kakek tadi sudah tidak ditempat lagi. Kakek itu berkata bahwa Gus Kelik dudhu uwong sewajare.
Saat sebelum dimakamkan, langit Jogja yang awalnya cerah namun menjelang dhuhur Langit Krapyak dan sekitarnya menjadi mendung. Kemudian gerimis rintik-rintik lalu hujan pelan-pelan terus selesai menjelang jenazah dibawa ke Masjid Al Munawwir dan dibawa ke Makam Dongkelan (belakang Masjid Pathok Nagara Dongkelan Jogja) untuk dimakamkan.
Selain itu, pelayat yang pada waktu itu dilihat dari lantai 2 Masjid Al Munawwir hanya biasa saja, tidak begitu padat mendadak pada waktu jenazah dibawa ke Makam Dongkelan menjadi sangat padat dan membanjiri. Dia pun merasa seperti berada di lautan, terkena arus air, tidak bisa berjalan hanya mengikuti arah pergerakan manusia yang sangat banyak itu.

Minardi adalah Jama'ah Diba'iyyah bil Musthofa PP Ali Maksum Krapyak, Ketua PC LTN-NU Kabupaten Klaten yang sedang menempuh Pasca Sarjana di UGM.

Engkau selalu ada di hati kami, Gus Kelik (LTN NU Klaten)
Gus Kelik sedang Mahalul Qiyam

0 Komentar untuk "Kenangan Bersama Gus Kelik"

Back To Top