::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Hukum Mengingkari Janji Bagi Pemerintahan

NU Klaten~ Hukum tentang mengingkari janji bagi pemerintahan sudah dibahas dalam Bahtsul Masail ke – 41 PCNU Klaten di Masjid al-Aqso Klaten pada 22 Nopember 2015. Berikut selengkapnya:
Deskripsi:

Pesta demokrasi pilkada serempak 2015 segera tiba, oleh karena itu untuk tujuan mendulang suara rakyat, dalam masa kampanye para calon pemimpin pemerintahan seringkali mengumbar beragam janji yang menggiurkan. Setelah jabatan itu tercapai, karena berbagai sebab, belum tentu pemimpin pemerintahan itu mampu untuk menepati janji-janjinya. 

Sementara itu tidak ada mekanisme formal dari suatu institusi resmi yang mampu menagih janji-janji tersebut. Karena itu, acapkali rakyat pemilih merasa kecewa sehingga enggan menaatinya, padahal Islam mengajarkan agar pemimpin wajib ditaati.
Pertanyaan:
a)    Bagaimana status janji yang disampaikan oleh pemimpin pemerintahan/pejabat publik, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, pada saat pencalonan untuk menjadi pejabat publik ?
b)    Bagaimana hukum mengingkari janji-janji tersebut?
c)    Bagaimana hukum tidak menaati pemimpin yang tidak menepati janji?

Jawaban :
a.    Status janji yang disampaikan oleh calon pemimpin pemerintahan/pejabat publik, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, dalam istilah Fiqh, ada yang masuk dalam kategori al-wa’du (memberikan harapan baik) dan ada yang masuk dalam kategori al-‘ahdu (memberi komitmen). Adapun hukumnya diperinci sebagai berikut:
    Apabila janji itu berkaitan dengan tugas jabatannya sebagai pemimpin rakyat, baik yang berkaitan dengan program maupun pengalokasian dana pemerintah, sedang ia menduga kuat bakal mampu merealisasikannya maka hukumnya mubah (boleh).
    Sebaliknya, jika ia menduga kuat tidak akan mampu untuk merealisasikannya maka hukumnya haram (tidak boleh).
b.    Apabila janji-janjinya tersebut sesuai dengan tugasnya dan tidak menyalahi prosedur maka wajib ditepati. Sedangkan mengingkarinya merupakan perbuatan tercela (dosa), hukumnya haram. Dan wajib mengingkari janjinya apabila janjinya itu berupa fasilitas sebagai imbalan untuk memilih atau fasilitas negara yang dijanjikan kepada orang yang tidak berhak.

c.    Pemimpin yang tidak menepati jaji harus diingatkan, dan Menaati pemimpin adalah wajib, selama perintah dan larangannya bukan hal yang bertentangan dengan syariat meskipun ia tidak memenuhi janjinya. Apabila tindakannya tersebut demi kemaslahatan rakyat banyak (mashlahah ‘ammah) maka rakyat wajib taat lahir batin. Sebaliknya, apabila tindakannya tersebut tidak rangka mewujudkan kemaslahatan rakyat banyak (mashlahah ‘ammah) maka rakyat wajib taat secara lahiriyah saja.
Refrensi :
تفسير الطبري - (ج 17 / ص 282)
وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (91) وَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ أَنْ يُّقَالَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ عِبَادَهُ بِالْوَفَاءِ بِعُهُودِهِ الَّتِي يَجْعَلُوْنَهَا عَلَى أَنْفُسِهِمْ، وَنَهَاهُمْ عَنْ نَقْضِ الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِآخَرِيْنَ بِعُقُوْدٍ تَكُوْنُ بَيْنَهُمْ بِحَقِّّ مِمَّا لَا يَكْرِهَهُ اللهُ.
Artinya : Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. An-Nahl 91
Pendapat yang benar dalam hal ini adalah : sesungguhnya Alloh SWT, memerintahkan kepada hambanya lewat ayat ini untuk memenuhi janji yang telah mereka tetapkan atas diri mereka, dan melarang untuk merusak janji yang tidak dilarang oleh Alloh, yang telah mereka kukuhkan atas diri mereka terhadap sesamanya

إحياء علوم الدين - (ج 2 / ص 329)
 وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " لَيْسَ الْخُلْفُ أَنْ يَّعِدَ الرَّجُلُ الرَّجُلَ وَفِي نِيَّتِهِ أَنْ يُفِيَ وَفِي لَفْظٍ آخَرَ " إِذَا وَعَدَ الرَّجُلُ أَخَاهُ وَفِي نِيَّتِهِ أَنْ يُّفِيَ فَلَمْ يَجِدْ، فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ "
Artinya :Sungguh Nabi Muhammad SAW.Bersabda : Tidak dianggap tak menepati janji jika seseorang berjanji dan dalam niatanya ingin memenuhinya.dalam redaksi lain : ketika seorang berjanji pada saudaranya dan dalam niatnya ingin memenuhi janji itu akan tetapi tidak bisa memenuhinya, oleh karenanya tidak ada dosa baginya.
الأحكام السلطانية  - (ج 1 / ص 27)
 وَإِذَا قَامَ الْإِمَامُ بِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ حُقُوقِ الْأُمَّةِ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى فِيمَا لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ ، وَوَجَبَ لَهُ عَلَيْهِمْ حَقَّانِ الطَّاعَةُ وَالنُّصْرَةُ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ حَالُهُ .
Artinya : ketika seorang imam memenuhi hak haknya umat, maka ia telah melaksanakan hak hak Alloh, yakni dalam memenuhi hak dan kewajiban umat.Oleh karenanya umat/rakyat harus melaksanakan 2 perkara  yakni taat dan ikut menolongnya.
الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 15 / ص 307)
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ أَوْ كَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُّؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ"(1).
وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبٍ أَخْطَاءَ غَيْرَ أَسَاسِيَةٍ لَا تُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ، أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ، حُفَّاظًا عَلَى وَحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَتِهَا،
Artinya : Mendengarkan dan mentaati atas perkara yang disukai atau tidak, kecuali jika perintah terhadap kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan tidak wajib taat.Dan tidak boleh keluar / tidak mentaati pemimpin karena kesalahan yang bukan merupakan undang undang, yang tidak bertentangan dengan nash.

Pertanyaan tambahan : MWC Ceper
Masa masa kampanye banyak sekali team sukses atau bahkan calon pemimpin itu sendiri datang pada tokoh tokoh masyarakat dengan membawa berbagai macam hadiah,,, bagaimana hukum menerima hadiah tersebut ?
Jawaban :
tidak boleh, Karna jarang sekali dari calon pemimpin, atau legislatif dsb, yang di masa masa kampanye mendatangi para tokoh masyarakat atau pimpinan ormas dengan tanpa tujuan ( meminta dukungan suara ), sehingga hal itu cenderung masuk dalam kategori riswah atau suap.
فتح الباري لابن حجر - (ج 8 / ص 82)
 وَقَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : الرِّشْوَة كُلّ مَال دُفِعَ لِيَبْتَاعَ بِهِ مِنْ ذِي جَاهُ عَوْنًا عَلَى مَا لَا يَحِلُّ ، وَالْمُرْتَشِي قَابِضه ، وَالرَّاشِي مُعْطِيه ،….. ثُمَّ قَالَ : الَّذِي يُهْدِي لَا يَخْلُو أَنْ يَقْصِدَ وُدَّ الْمُهْدَى إِلَيْهِ أَوْ عَوْنه أَوْ مَاله ، فَأَفْضَلُهَا الْأَوَّل ، وَالثَّالِث جَائِز لِأَنَّهُ يَتَوَقَّع بِذَلِكَ الزِّيَادَة عَلَى وَجْه جَمِيل ، وَقَدْ تُسْتَحَبُّ إِنْ كَانَ مُحْتَاجًا وَالْمُهْدِي لَا يَتَكَلَّف وَإِلَّا فَيُكْرَهُ ، وَقَدْ تَكُونُ سَبَبًا لِلْمَوَدَّةِ وَعَكْسهَا . وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنْ كَانَ لِمَعْصِيَةٍ فَلَا يَحِلُّ وَهُوَ الرِّشْوَة ، وَإِنْ كَانَ لِطَاعَةٍ فَيُسْتَحَبُّ ، وَإِنْ كَانَ لِجَائِزٍ فَجَائِز ، لَكِنْ إِنْ لَمْ يَكُنْ الْمُهْدَى لَهُ حَاكِمًا وَالْإِعَانَة لِدَفْعِ مَظْلِمَة أَوْ إِيصَال حَقّ فَهُوَ جَائِزٌ ، وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ لَهُ تَرْك الْأَخْذ ، وَإِنْ كَانَ حَاكِمًا فَهُوَ حَرَام ا ه مُلَخَّصًا . وَفِي مَعْنَى مَا ذَكَرَهُ عُمَر حَدِيث مَرْفُوع أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَالطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيث أَبِي حُمَيْدٍ مَرْفُوعًا " هَدَايَا الْعُمَّال غُلُول "
Pertanyaan tambahan : MWC jatinom
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan suap itu ?
Jawaban : Suap adalah segala sesuatu yang diberikan pada seseorang untuk memberikan keputusan sesuai dengan yang dinginkan pemberi, yang tidak benar.
سلم التوفيق ص : 74
وَاَخْذُ الرِّشْوَةِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ اَوْ غَيْرِهِ اَوْ يُحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُهُ كَذَا فيِ الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَي لِاِبْطَالِ حَقٍّ اَوْ لِاِحْقَاقِ بَاطِلٍ .
حاشية الباجوري ج : 2 ص 3
وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ قَبُوْل الرِّشْوَةِ وَهِيَ مَا يُبْذَلُ لِلْقَاضِي لِيَحْكُمَ بِغَيْرِالْحَقِّ اَوْلِيَمْتَنِعَ مِنَ الْحُكْمِ بِالْحَقِّ لِخَبَرٍ "لَعَنَ اللهُ لِلرَّاشِي وَالْمُرْتَشِى فِي الْحُكْمِ" وَاَمَّا لَوْ دَفَعَ لَهُ شَيْئًا لِيَحْكُمَهُ بِالْحَقِّ فَلَيْسَ مِنَ الرِّشْوَةِ الْمُحَرَّمَةِ لَكِنِ الِجوَارُ مِنْ جِهَّةِ الدَّافِعِ لَامِنْ جِهَّةِ الْأَخْذِ لِأَنَّهُ لَايَجُوْزُ اَخْذُ شَيْئٍ
Artinya : haram menerima suap, yaitu sesuatu yang diberikan pada qodli ( hakim ) dengan tujuan agar memutuskan hukum tidak sebagaimana mestinya.


Pertanyaan Tambahan MWC Karanganom
Bagaimana penjelasan tentang Hadist
  خَيْرُ الْأُمَرَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْعُلَمَاءَ وَشَرُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْأُمَرَاءَ
Jawaban
Maksud hadist tersebut adalah jika seorang ulama terlalu dekat dengan para pemimpin maka mereka akan cenderung cinta dunia, sehingga mereka jauh dari kebenaran dan sulit untuk bisa menegakkan perkara haq, sebaliknya jika para pemimpin dekat dan mendatangi para ulama maka mereka akan bijak dalam memutuskan hukum dan selalu meminta pertimbangan para ulama  sehingga lebih mendekatkan mereka pada cinta pada Alloh.

إحياء علوم الدين - (ج 1 / ص 490)
وفي الخبر: " خَيْرُ الْأُمَرَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْعُلَمَاءَ وَشَرُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْأُمَرَاءَ
" وَفِي الْخَبَرِ: " الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللهِ مَا لَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ فَإِذَا فَعَلُوا لَكَ فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوهُمْ وَاعْتَزِلُوهُمْ " رَوَاهُ أنس رضي الله عنه.
Artinya : Sebaik baik pemimpin adalah mereka yang medatangi ulama’, dan seburuk buruk ulama’ adalah mereka yang mendatangi pemimpin. Dan di jelaskan dalam hadist, ulama’ adalah tangan kanan ( kepercayaan) rosul untuk semua hamba Alloh, selama mereka tidak becampur dengan para pemimpin pemerintahan, jika mereka melakukan hal yang demikian, maka sungguh mereka telah berkhianat, maka jauhilah mereka.
الآداب الشرعية - (ج 4 / ص 181)
وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ : فِي كِتَابِ بَهْجَةِ الْمَجَالِسِ يُقَالُ : شَرُّ الْأُمَرَاءِ أَبْعَدُهُمْ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَشَرُّ الْعُلَمَاءِ أَقْرَبُهُمْ مِنْ الْأُمَرَاءِ .
وَقَالَ ابْنُ الْجَوْزِيِّ فِي كِتَابِ السِّرِّ الْمَصُونِ : أَمَّا السَّلَاطِينُ فَإِيَّاكَ إيَّاكَ وَمُعَاشَرَتَهُمْ فَإِنَّهَا تُفْسِدُك أَوْ تُفْسِدُهُمْ وَتُفْسِدُ مَنْ يَقْتَدِي بِك ، وَسَلَامَتُك مِنْ مُخَالَطَتِهِمْ أَبْعَدُ مِنْ الْعَيُّوقِ ، وَأَقَلُّ الْأَحْوَالِ فِي ذَلِكَ أَنْ تَمِيلَ نَفْسُك إلَى حُبِّ الدُّنْيَا قَالَ الْمَأْمُونُ : لَوْ كُنْت عَامِّيًّا مَا خَالَطْت السَّلَاطِينَ ، وَمَتَى اُضْطُرِرْت إلَى مُخَالَطَتِهِمْ فَبِالْأَدَبِ وَالصَّمْتِ وَكَتْمِ الْأَسْرَارِ وَحِفْظِ الْهَيْبَةِ ، وَلَا يُسْأَلُونَ عَنْ شَيْءٍ مَهْمَا أَمْكَنَ .
بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية - (ج 6 / ص 37)
وَعَنْ سُفْيَانَ فِي جَهَنَّمَ وَادٍ لَا يَسْكُنُهُ إلَّا الْقُرَّاءُ الزَّائِرُونَ الْمُلُوكَ قِيلَ مَنْ دَعَا لِظَالِمٍ بِالْبَقَاءِ فَقَدْ أَحَبَّ أَنْ يُعْصَى اللَّهُ تَعَالَى فِي أَرْضِهِ كَمَا فِي تَبْيِينِ الْمَحَارِمِ عَنْ عُيُونِ التَّفَاسِيرِ وَفِيهِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { أَبْغَضُ الْقُرَّاءِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى الَّذِينَ يَزُورُونَ الْأُمَرَاءَ } ، وَفِي خَبَرٍ آخَرَ { خَيْرُ الْأُمَرَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْعُلَمَاءَ وَشَرُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ الْأُمَرَاءَ } .
{ الْعُلَمَاءُ أَمُنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوهُمْ وَاعْتَزِلُوهُمْ } رَوَاهُ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ وَقَالَ حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إيَّاكُمْ وَمُوَافَقَةَ الْفِتَنِ قِيلَ وَمَا هِيَ قَالَ أَبْوَابُ الْأُمَرَاءِ يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ عَلَى الْأَمِيرِ فَيُصَدِّقُهُ بِالْكَذِبِ وَيَقُولُ مَا لَيْسَ فِيهِ وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ مَا مِنْ شَيْءٍ أَبْغَضُ إلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَالِمٍ يَزُورُ عَامِلًا وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ
Pertanyaan tambahan MWC karangdowo
Bagaimana hukumnya tasyakuran yang dilakukan oleh pemimpin terpilih, dengan membagi-bagikan uang ?
Jawaban : Jika uang yang diberikan adalah merupakan janji yang dikatakan di masa kampanye, maka hukumnya haram, karna hal itu termasuk bentuk riswah atau suap yang mempengaruhi seseorang, namun jika yang diberikan bukan merupakan janji dimasa kampanye maka hukumnya boleh, bahkan bisa menjadi sodaqoh sunnah.
Referensi :
Idem dengan jawaban riswah

1.    Dan apakah politik itu menurut kacamata fiqih ?
Jawaban : Politik adalah sesuatu yang dianggap baik oleh seseorang untuk bisa menunjukkan pada suatu kebenaran yang bisa menyelamatkan di dunia dan akherat

مجموعة سبعة كتب مفيدة ص : 70-71 (مكتبة ومطبعة " الهداية " سورابيا)
البحث الثانى: فى السياسة, وهى مصدر ساس الوالى الرعية أمرهم ونهاهم كما فى القاموس وغيره فالسياسة استصلاح الخلق بإرشادهم إلى الطريق المنجى فى الدنيا والآخرة فهى من الأنبياء على الخاصة والعامة فى ظاهرهم وباطنهم وفى السلاطين والملوك على كل منهم فى ظاهرهم لا غير ومن العلماء ورثة الأنبياء على الخاصة فى باطنهم لا غير كما فى المفردات كذا فى الفتح ومثله…….ولذا قال فى البحر وظاهر كلامهم أن السياسة هى فعل شىء من الحاكم لمصلحة يراها وإن لم بذلك الفعل دليل جزئى اهـ. وفى حاشية منلامسكين عن الحموى السياسة شرع مغلظ وهى نوعان: سياسة ظالمة فالشريعة تحرمها, وسياسة عادلة تخرج الحق من الظالم وتدفع كثيرا من المظالم وترد ع أهل الفساد وتوصل إلى المقاصد الشرعية فالشريعة توجب المصير إليها والاعتماد فى ظاهر الحق عليها اهـ

Pertanyaan tambahan : mwc klaten
1.    Seringkali kita mendengar istilah Negara kafir, sebenarnya Negara kita yang berdasar pancasila ini merupakan Negara islam atau kafir ?

Jawaban :Negara kafir adalah setiap Negara setiap Negara yang sebagian besar hukum  yang diterapkan di dalamnya adalah hukum  hukum orang kafir, sedangkan negar islam adalah setiap Negara yang sebagian besar hukum pemerintahannya adalah hukum hukum islam
الآداب الشرعية ج : 1 ص : 190
فصل ( في تحقيق دار الإسلام ودار الحرب ) . فكل دار غلب عليها أحكام المسلمين فدار الإسلام وإن غلب عليها أحكام الكفار فدار الكفر ولا دار لغيرهما وقال الشيخ تقي الدين , وسئل عن ماردين هل هي دار حرب أو دار إسلام ؟ قال : هي مركبة فيها المعنيان ليست بمنزلة دار الإسلام التي يجري عليها أحكام الإسلام لكون جندها مسلمين , ولا بمنزلة دار الحرب التي أهلها كفار , بل هي قسم ثالث يعامل المسلم فيها بما يستحقه ويعامل الخارج عن شريعة الإسلام بما يستحقه . والأول هو الذي ذكره القاضي والأصحاب والله أعلم .
حاشية الجمل على شرح المنهاج ج : 5 ص : 208
(تنبيه) يؤجذ من قوله لان محله دار إسلام ان كل محل قدر اهله فيه على الإمتناع من الحربيين صار دار اسلام……….ثم رأيت الرافعى وغيره ذكروا نقلا عن الأصحاب ان دار الإسلام ثلاثة أقسام قسم يسكنه المسلمون وقسم فتحوه وأقروا اهله عليه بجزية ملكوه او لا وقسم كانوا يسكنونه ثم غلب عليه الكفار وقال الرافعى وعدهم القسم الثانى يبين انه يكفى فى كونها دار إسلام كونها تحت استيلاء الإمام وان لم يكن فيها مسلم قال وأما عدهم الثالث فقد يوجد فى كلامهم ما يشعر بان الاستيلاء القديم يكفى لاستمرار الحكم انتهت وقوله ان لم يمكنه ذلك اى اظهار دينه اي والمقسم انه لم يرج ظهور اسلام بمقامه وحينئذ تصدق العبارة بصور ثمانية لانه والحالةرهذه إما ان يقدر على الإعتزال او لا وعلى كل إما ان يخاف فتنة فى دينه او لا وعلى كل إما ان يرجو نصرة المسلمين او لا وقول الشارح او خاف فتنة فى دينه اى او امكنه ذلك اي اظهار دينه اي والمقسم انه لم يرج ظهور اسلام بمقامه فحينئذ تصدق هذه العبارة بصور اربعة لأنه اما ان يقدر على الإمتناع والإعتزال او لا على كل اما ان يرجو نصرة المسلمين او لا فتخلص ان صور الوجوب اثنا عشر وقوله اما اذا رجا ما ذكر اي ظهور الاسلام بمقامه فالأفضل ان يقيم اي فتكون الهجرة خلاف الاولى وتصدق هذه العبارة بستة عشر صورة لانه اما ان يمكنه إظهار دينه او لا وعلي كل اما ان يخاف فتنة او لا وعلي كل اما ان يقدر علي إلاعتزال او لا وعلي كل اما ان يرجو نصرة المسلمين اولا


2.    Kapan Negara bias berubah memiliki status Negara kafir  ?
الموسوعة الفقهية ج : 20 ص : 203
 اختلف الفقهاء في تحول دار الإسلام إلى دار للكفر فقال الشافعية : لا تصير دار الإسلام دار كفر بحال من الأحوال وإن استولى عليها الكفار وأجلوا المسلمين عنها وأظهروا فيها أحكامهم لخبر: (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه) وقال المالكية والحنابلة وصاحبا أبي حنيفة (أبو يوسف ومحمد): تصير دار الإسلام دار كفر بظهور أحكام الكفر فيها وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا تصير دار كفر إلا بثلاث شرائط: 1- ظهور أحكام الكفر فيها 2- أن تكون متاخمة لدار الكفر 3- أن لا يبقى فيها مسلم ولا ذمي آمنا بالأمان الأول وهو أمان المسلمين ووجه قول الصاحبين ومن معهما أن دار الإسلام ودار الكفر: أضيفتا إلى الإسلام وإلى الكفر لظهور الإسلام أو الكفر فيهما كما تسمى الجنة دار السلام والنار دار البوار لوجود السلامة في الجنة والبوار في النار وظهور الإسلام والكفر إنما هو بظهور أحكامهما فإذا ظهرت أحكام الكفر في دار فقد صارت دار كفر فصحت الإضافة ولهذا صارت الدار دار إسلام بظهور أحكام الإسلام فيها من غير شريطة أخرى فكذا تصير دار كفر بظهور أحكام الكفر فيها ووجه قول أبي حنيفة: أن المقصود من إضافة الدار إلى الإسلام والكفر ليس هو عين الإسلام والكفر وإنما المقصود هو: الأمن والخوف ومعناه: أن الأمن إن كان للمسلمين في الدار على الإطلاق والخوف لغيرهم على الإطلاق فهي دار إسلام وإن كان الأمن فيها لغير المسلمين على الإطلاق والخوف للمسلمين على الإطلاق فهي دار كفر فالأحكام عنده مبنية على الأمان والخوف لا على الإسلام والكفر فكان اعتبار الأمن والخوف أولى وينظر التفصيل في (دار الحرب)

3.    Sebatas manakah kita harus mentaati ulil amri ?
Jawaban : selama tidak memerintahkan pada kemaksiatan, dan sebatas kemampuan kita.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Ibn umar r.a berkata : bersabda nabi saw : seorang muslim wajib mendengar dan  ta’at pada pemerintahannya, dalam apa yang disetujui atau tidak disetujui, kecuali jika diperintah ma’siyat. Maka apabila disuruh ma’siyat, maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib ta’at
4.    Alasan apa yang bisa dijadikan seorang pemimpin untuk bisa mengundurkan diri ?
Jawaban :
seorang pemimpin boleh mengundurkan diri dari jabatannya apabila dia merasa tidak mampu melaksanakan kewajiban - kewajibannya sebagai seorang pemimpin.
Referensi
الإمامة العظمى ص 487
وقد اتفق العلماء على أن الإمام اذا أحس من نفسه عدم القدرة على القيام بأعباء الامامة فإن له عزل نفسه قال القرطبي يجب عليه أن يخلع نفسه اذا وجد في نفسه نقصا يؤثر في الإمامةوكذلك اذا كان في عزله إخماد لفتنة قد تزداد وتستمر اذا اصر على منصبه بل هو محمود في مثل هذه الحالة اذا عزل نفسه . إهـ
Tag : LBMNU
0 Komentar untuk "Hukum Mengingkari Janji Bagi Pemerintahan"

Back To Top