::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Tradisi Sedekah di Jawa


Rasulan di Masjid Al Islam Dukuh Wiro, Wiro, Bayat, Klaten
Oleh: Minardi
Ada suatu kosakata menarik “terima kasih”, setelah “menerima” lalu "mengasih”.

Masyarakat NUsatara telah lama mengenal konsep sedekah (dengan harta dan benda) yang tidak bisa lepas dari kehidupan mereka. Konsep sedekah itupun dibalut dalam tradisi kearifan-kearifan lokal yang menarik, unik dan masih terjaga sampai saat ini. Sedekah bagi masyarakat Jawa berkaitan dengan konsep selamatan dan syukuran. Masyarakat selalu mengedepankan sedekah dalam setiap acara, mulai calon manusia itu masih di dalam kandungan sampai manusia itu meninggal dunia. Semisal pada masyarakat Jawa mengenal prosesi ngebor-ebori dan mitoni, ngebor-ebori merupakan acara selamatan ketika bayi di dalam kandungan berusia tiga bulan, sedangkan mitoni atau tingkeban dilaksanakan ketika bayi dalam kandungan berusia tujuh bulan. Acara-acara tersebut menunjukkan peran sedekah di sini sebagai sarana untuk memohon kepada Allah SWT atas kebaikan bayi dan ibunya. Karena selama prosesi selalu mengadakan acara kondangan atau bancakan dengan membagikan makanan kepada saudara dan tetangganya.

Setelah lahir ada prosesi sepasaran yaitu membagikan makanan kepada saudara dan tetangga di hari kelima setelah bayi lahir. Lalu aqiqahan terkadang juga selapanan yaitu membagikan makanan di hari ke-35 setelah bayi lahir. Biasanya di sini merupakan acara besar dengan mengundang Ulama untuk ceramah dan memohonkan doa. Setelah itu terturut-turut acara setahunan, sunatan, nikahan, syukuran pekerjaan, syukuran mendirikan rumah sampai acara setelah manusia itu meninggal dunia. Acara setelah meinggal dunia seperti peringatan 3, 7, 40, 100, setahun, dua tahuan dan 1000 hari terkadang juga ada haul. Kesemuanya berkaitan erat dengan sedekah sebagai sarana untuk memohon keselamatan dan bersyukur kepada Allah. 

Dalam dunia pewayangan Jawa, ada sebuah lakon yang cukup menarik yaitu “Sesaji Raja Suya”. Lakon tersebut menceritakan tentang Raja Puntadewa atau Yudhistira dari Amarta harus menghadirkan 100 raja untuk mengadakan sesaji karena baru saja menjadi raja. Sesaji di sini lebih dimaknai sebagai tasyakuran kepada Allah atas nikmat yang diterimanya. Mengingat jatuh bangun , susah payah para Pandawa dalam Babat Alas Wanamarta sampai bisa berdiri sebuah kerajaan yang besar. Pandawa melakukan tasyakuran dengan cara yang baik, dengan harta yang halal, dibelanjakan dengan cara yang baik, tidak menyakiti orang lain dan untuk kemaslahatan seluruh makhluk. Hal ini berbeda dengan “Sesaji Kala Rudra” yang dilakukan oleh Raja Jarasanda dari Kerajaan Giribraja. Raja Jarasanda ingin menangkap 100 raja (saat itu sudah mendapatkan 97 raja) untuk disembelih sebagai tumbal/sesaji kepada Kala Rudra (Dewa Kejahatan), agar mendapatkan keabadian, kekuatan, kekuasaan dan kesaktian. Raja Jarasanda ini berhasil dikalahkan Pandawa sehingga ke-97 raja ini berhasil dibebaskan dan menyatakan menghadiri acara Sesaji Raja Suya. Dari 97 raja ditambah Kresna, Baladewa dan Puntadewa maka genap 100 raja.

Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa sedekah lebih berkaitan hubungan kita kepada Allah. Kita bersedekah sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan dari Allah. Bersedekah sebagai tanda syukur kepada Allah yang telah memberikan kenikmatan. Di masyarakat sering mengadakan wiwitan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, sedekah bumi, sedekah laut sampai syukuran atas jabatan yang diperoleh, dan lain-lain. Sehingga menjadi berbeda makna jika seseorang bersedekah agar mendapat sesuatu materi yang lebih lagi. Semisal si fulan sedekah Rp.1000 agar mendapat uang Rp.10.000. Iya, memang di dalam Islam telah menjanjikan jika seseorang bersedekah sekian maka Allah akan melipat gandakan menjadi sekian sekian. Namun akan menjadi berbeda jika yang mendengar itu orang yang masih lemah imannya. Karena kita tahu setiap orang maqom kedudukannya di Hadapan Allah itu berbeda-beda. Bagi yang telah kuat imannya maka pasti yakin dengan hal itu, bahkan tidak mengharan imbalan dari Allah. Bagi yang masih lemah imannya dia akan menyalahkan Islam karena dia telah lama bersedekah namun belum juga ada sekian rupiah seperti yang telah diperhitungkan. Padahal cara penyampaian yang kurang tepat saja yang menjadi faktor dari “matematika sedekah” tadi.

Selama ini kita tahu, tradisi kearifan lokal NUsantara memberikan keteladanan atas sedekah. Seperti yang sudah penulis singgung tadi, tradisi kita melakukan sedekah setidaknya karena beberapa faktor: 1) Faktor iman dan taqwa mereka kepada Allah. Di mana memberi/berbagi sebagai bentuk simpel dari zakat menjadi salah satu rukun Islam yang harus selalu diamalkan; 2) Seseorang melaksanakan sedekah karena faktor ingin memohon pertolongan dan keselamatan dari Allah; 3) Bersedekah karena merupakan tanda syukur kepada Allah atas segala nikmat ataupun nadzar yang telah tertunaikan. Namun penulis belum menemukan keterangan yang menyebutkan kearifan lokal bersedekah lebih ingin mendapatkan materi yang melimpah atau surga. Takutnya jika bersedekah sekian lalu mendapatkan sekian dianggapnya sedekah itu seperti dagangan atau arena bisnis bahkan jika mendapat hasil berkali-kali lipat maka tidak ada bedanya dengan “perjudian” dengan dalil agama sebagai senjata untuk menodong.

Sedekah sebagai tanda syukur kepada Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim: 7). Setidaknya ada tiga tahapan dalam bersyukur yaitu lewat hati dengan mantap dan yakin bahwa semua atas pertolongan dan pemberian dari Allah, kemudian lewat lisan dengan banyak-banyak membaca lafadz Hamdallah dan menjaga lisannya dari hal yang buruk, lalu yang terakhir bersyukur dengan perbuatan yaitu dengan berbuat baik dan berbagi kepada sesamanya. 

Kita bersedekah ya bersedekah saja, jangan sampai mengharapkan imbalan. Toh dibalas oleh Allah atau tidak itu hak prerogratif dari Allah. Kita mulai menata niat, melihat sekeliling masih banyak orang yang membutuhkan. Bersedekah dengan ikhlas sampai-sampai tangan kiri pun tidak mengetahuai itu juga merupakan bagian dari sarana dakwah yang efektif. Masyarakat pinggiran yang mulai goyah imannya seakan ‘di-chas’ imannya kembali dengan adanya kepedulian dari sesama Muslim. Bukankah kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran dan kekufuran itu mendekatkan kepada kekafiran?

Penulis adalah Ketua LTN PCNU Klaten, Manager Media PC NU Care – LazisNU Klaten dan Mahasiswa Pasca Sarjana Ketahanan Nasional UGM

0 Komentar untuk "Tradisi Sedekah di Jawa"

Back To Top