::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

RESENSI NOVEL: CINTA SUCI ZAHRANA


Oleh: Puji Nur Wiwik


Judul Novel : Cinta Suci Zahrana
Nama Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Warna Buku : Coklat
Penerbit         : Ihwah Publishing House
Tebal Buku : v + 284halaman
ISBN : 978-602-98221-6-8
Cetakan         : 2011 (cetakan I)

Habiburrahman El-Shirazy adalah novelis nomor satu Indonesia (dinobatkan oleh Insani Universitas Diponegoro Semarang, tahun 2008). Sastrawan terkemuka ini juga ditahbiskan oleh Harian Republika sebagai tokoh Perubahan Indonesia tahun 2007. Ia dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976.

Sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini, selain dikenal sebagai novelis, juga dikenal sebagai sutradara, da'i, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, dan Australia. Banyak kalangan yang menilai, karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca.

Sastrawan yang akrab disapa dengan panggilan “Kang Abik” ini mempunyai beberapa karya yang popular yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika-Basmala, 2004, telah difilmkan), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih (Republika-Basmala, 2007, telah difilmkan), dan Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007), Bumi Cinta (Author Publising, 2010), The Romance (Ihwah, 2010), dan Cinta Suci Zahrana, Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dri Ketika Cinta Bertasbih), dan Ayat-Ayat Cinta 2.
Dengan karya-karyanya yang fenomenal itu, Kang Abik yang oleh banyak kalangan dijuluki “penulis bertangan emas” telah diganjar banyak penghargaan bergengsi tingkat nasional maupun Asia Tenggara.

“Seni dan budaya memiliki peran yang begitu besar bagi peradaban umat Islam. Kedatangan surat Nabi Sulaiman yang mensyiarkan ajaran tauhid kepada Ratu Balqis adalah salah satu contoh kecil di antara berbagai macam peran seni dan budaya. Sastra adalah media dakwah yang efektif. Dan keindahan-keindahan sastra pun berpuncak pada setiap huruf dalam Al-Qur’an. Selain itu, sejarah pun mencatat bahwa para ulama-ulama besar yang sejatinya mereka adalah pakar-pakar sastra, penyair-penyair besar dan pakar komunikasi yang hebat di zamannya. Tak hanya itu, sastra pun berperan penting dalam kemanusiaan, Bila perang berkecamuk, maka puisi yang akan mendamaikan.” papar Kang Abik pada suatu kesempatan di PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Di dalam novel ini mengisahkan seorang wanita yang mengutamakan kariernya. Zahrana adalah anak tunggal Pak Munajat dan Ibu Nuriyah. Dewi Zahrana adalah sosok seorang gadis yang sukses dengan pendidikanya. Banyak prestasi yang telah diraihnya. Ia lulus sarjana Arsitektur di Universitas Gajah Mada (UGM) dengan predikat mahasiswa terbaik. Dua bulan setelah wisuda ia ditawari untuk mengajar sebagai asisten dosen di UGM dan akan diproyeksikan untuk kuliah S2 di Belanda. Namun tawaran itu harus ia tolak karena mempertimbangkan kondisi orang tuanya yang sudah tua dan renta yang tak bisa ia tinggalkan jauh darinya. Karena prestasi yang banyak diraihnya, akhirnya ia diterima sebagai dosen di fakultas teknik Universitas Mangunkarsa. Ia menulis banyak artikel tentang arsitektur. Artikel yang ia tulis di jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh RMIT Mellbourne, Australia mendapat apresiasi luar biasa dari para Arsitektur dunia. Dan puncaknya  ia  diundang ke Beijing untuk diberi penghargaan level internasional oleh school of architecture, Tsinghua University. Di Asia tenggara katanya ialah yang pertama kali meraihnya. Ia tak hanya mengangkat martabat keluarganya tetapi juga bangsa dan negara. Akan tetapi orang tua Zahrana tidak bangga dengan prestasi yang diraih oleh Zahrana, karena yang diinginkan orang tua Zahrana adalah Zahrana segera menikah dan memberikanya seorang cucu. 

Zahrana sadar yang usianya sudah 34 tahun belum juga menikah. Zahrana mendapat lamaran dari Pak Sukarman dekan Fakultas Teknik dan Arsitektur Universitas Mangunkarsa Semarang. Akan tetapi Zahrana menolak lamaran itu, karena Zahrana sudah mengetahui siapa Pak Sukarman sebenarnya.
Kemudian Zahrana dijodohkan dengan seorang tukang kerupuk yang bernama Rahmad. Akan tetapi pada saat menjelang pernikahan Rahmad mengalami kecelakaan, ia tertabrak kereta api sampai meninggal duia. Zahrana mendapatkan kabar itu sampai tak sadarkan diri, karena mendengar calon suaminya telah tewas tertabrak kereta api.

Penderitaan Zahrana tak sampai di situ saja. Setelah kematian Rahmad atau calon suaminya itu kemudian Pak Munanjat meninggal dunia karena serangan jantung. Apalagi ia harus menerima teror dari pak Sukarman, rekan kerjanya sesama dosen yang lamarannya ditolak mentah-mentah oleh Zahrana. Semakin lengkaplah penderitaan yang dialami Zahrana. Hari-hari yang dilalui Zahrana penuh dengan kedukaan.

Setelah kejadian itu Zahrana mendapat lamaran dari Hasan. Hasan adalah mahasiswa bimbingannya sendiri. Zahranapun menerima lamaran dari Hasan. Kini hidup Zahrana menjadi bahagia.
Di dalam novel ini juga terdapat unsur-unsur intrinsik, novel ini mempunyai tema yaitu menceritakan tentang kisah percintaan, bagaimana kehidupan seorang gadis dalam menemukan jodohnya.  Pada bagian awal novel ini berlatar di Bandara karena Zahrana akan berangkat ke China, selanjutnya berlatar di China yang menceritakan betapa megahnya gaya arsitektur Tsinghua University dan beberapa bangunan tua di China seperti masjid Niujie. Pada pertengahan cerita novel ini berlatar di daerah Solo tepatnya di daerah Mangunkarsa. Namun di Akhir novel ini kembali berlatar di China karena Zahrana menerima beasiswa yang ditawarkan Universitas Fudan. Hasan pun memilih melepaskan beasiswa di Malaysia dan lebih memilih kuliah di China mengikuti isterinya untuk sekalian berbulan madu. Tembok besar China menjadi saksi atas sucinya cinta mereka. Alur penulisan novel ini adalah maju mundur. Pada bagian awal novel ini menceritakan tentang penghargaan yang diraih Zahrana, selanjutnya pembaca di ajak untuk kembali ke masa lalu Zahrana tentang sekolah-sekolahnya dan penghargaan-penghargaan yang telah diraih Zahrana. Cerita selanjutnya berkisah tentang jalan cerita Zahrana dalam menemukan jodohnya. Tokoh dalam cerita ini adalah Zahrana, Bu Nuriyah, Lina, Pak Munajat,  Hasan, Bu Merlin, Pak Sukarman, Hasan, Santi, dan Feby. Novel ini dibuat berdasarkan sudut pandang orang ketiga. Terlihat dari penggunaan kata dia sebagai kata pengganti orang ketiga. Amanat yang ingin disampaikan penulis pada pembaca lewat novel ini adalah agar pembaca tidak sekedar mementingkan kehidupan dunianya, hanya mengejar gelar, popularitas, dan harta. Namun lewat novel ini penulis ingin mengajak pembaca untuk jangan menunda-nunda pernikahan sebagai salah satu bentuk ibadah dan penyempurnanya agama, sebagai bekal untuk kehidupanya setelah mati.

Kelebihan dalam cerita ini memiliki banyak keunggulan antara lain, gaya bahasa yang dibuat pengarang sangat mudah dipahami, ringan namun sangat berbobot. Amanat yang disampaikan pun mudah terserap, karena kecerdasan pengarang yang menuangkan karya dengan membangun jiwa para pembaca. Cerita yang disampaikan dalam novel ini dekat dengan kehidupan sehari-hari dan banyak dialami orang disekitar kita. 
Kekurangan dalam novel ini adalah banyak tedapat kesalahan penulisan kata-kata dan bahasa yang digunakan tidak baku.

Kesimpulannya yang dapat kita ambil setelah membaca novel ini adalah jangan terlalu memikirkan kuliah dan mengesampingkan ibadah. Sebenarnya bisa saja kuliah sambil menikah, toh banyak juga pasangan yang sukses dengan kuliahnya walaupun sudah menikah.
Lebih memperhatikan keinginan orang tua. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka karena kita tak mengetahui apa yang sebenarnya di inginkan orang tua kita, dan jangan pula seperti Zahrana yang terlambat untuk mewujudkan keinginan orang tuanya yang ingin melihatnya menikah karena sang ayah meninggal sebelum sempat menyaksikan anaknya menikah. 

Puji Nur Wiwik adalah Divisi Riset, Terjemah dan Pengembangan SDM LTN PCNU Klaten dan Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univ. Widya Dharma Klaten.


Tag : Buku, Novel, Resensi
0 Komentar untuk "RESENSI NOVEL: CINTA SUCI ZAHRANA"

Back To Top