::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

Kesinambungan antara Islam dengan Budaya




Islam dan Budaya bukanlah sesuatu yang bertentangan namun menjadi sarana syiar yang efektif. Budaya lebih dahulu ada sebelum suatu agama itu masuk. Kemudian oleh Para Walisongo, budaya-budaya tersebut menjadi sarana dakwah dan tarbiyah yang efektif di masyarakat. Masyarakat tidak merasa 'dipaksa' untuk mengenal (bahkan masuk) Islam, kerana Para Ulama menyampaikannya dengan santun dan manusiawi. Namun saat ini, terkesan antara Islam dengan Budaya terasa jauh bahkan bertolak belakang. Sampai saat ini, beberapa tempat masih mengumandangkan gamelan di Masjid saat acara-acara tertentu. Inilah Islam NUsantara, dakwah yang mengajak bukan menyuruh apalagi melarang/memaksa.

Ide brilian seorang ‘santri’ bernama Raden Said telah menjadikan wayang sebagai wahana kreatif dan efektif dalam penyampaian pesan-pesan moral ajaran Islam di tengah hegemoni ajaran Hindu dan Budha pada masyarakat jawa. Berbagai bentuk akulturasi ajaran Islam dan budaya jawa yang bisa kita saksikan sekarang di antaranya merupakan imbas dari penyampaian ajaran Islam lewat jagat pakeliran yang telah mengakar dalam  masyarakat jawa.

Jika dikaji secara mendalam, pementasan wayang tidak hanya sebuah tontonan yang bersifat menghibur belaka. Di balik gonjang-ganjing gerak wayang dengan iringan seperangkat gamelan, ternyata mengandung beberapa misi tersendiri yang ingin disampaikan oleh sang dalang. Pesan moral, kritik sosial, dan pendidikan merupakan misi yang diemban sang dalang untuk disampaikan pada masyarakat luas.

Pesantren sebagai sebuah subkultur dengan berbagai ciri khasnya ternyata mempunyai berbagai kesesuaian karakteristik dengan jagat pakeliran. Santri sebagai masyarakat subkultur dijadikan oleh sang kyai sebagai estafet penyampaian ajaran moral Islam pada masyarakat luas. Wayang dan santri adalah contoh dari sekian berbagai kesesuaian jagat pakeliran dengan  pesantren.

Dalam menyampaikan visi dan misinya, masyarakat santri dan wayang sama-sam telah mengalami pergulatan paradigma. Di satu sisi ia harus menjaga pakem (kultur) dan di sisi lain rotasi peradaban masyarakat kian berubah sehingga menuntut masyarakat santri dan wayang lebih menyesuaikan diri. Di sinilah peran kyai dan dalang dituntut kreatifitasnya dalam pembentukan kepribadian tanpa harus keluar dari pakem (kultur). Taruhlah Ki Enthus Susmono, dalang asal Tegal, yang mewakili kaum pembaharu jagat wayang, maka dalam masyarakat santri ada Gus Dur yang mencoba menampilkan corak Islam yang luwes tanpa keluar dari inti ajaran Islam.

Kisah Ramayana dan Mahabaratha yang merupakan maha karya dari India ternyata mendapat tempat tersendiri di hati para santri. Hal ini bisa dimaklumi mengingat adanya kemiripan cara pandang maupun esensi dari cerita tersebut. Bagi masyarakat jawa karakteristik penokohan lakon-lakon wayang telah mengendap begitu dalam di kehidupan mereka. Masyarakat santri yang berbasis real masyarakat tradisional secara tidak sadar dalam menjalani kontak sosial terpengaruh juga oleh masyarakat jawa. Di kebanyakan pesantren, sistem feodalistik kekuasaan yang diterapkan oleh kyai sebagai figur sentral mengingatkan kita akan sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan jawa.

Pergulatan antara kebajikan dan kebatilan, ketamakan dan kesederhanaan merupakan konflik yang sering terjadi dalam setiap kali gunungan wayang ditancapkan. Hal ini bisa dijadikan  proyeksi kondisi sosiopsikologis pada pesantren yang merupakan kawah candradimukanya masyarakat santri. Setelah melewati ujian terberat, maka santri diharapkan menjadi seorang parikesit yang mampu menjadi zam-zamnya moral masyarakat.

Realitas perpolitikan yang sedang berkembang kadangkala ditampilkan secara metaforis dalam penokohan wayang. Di sinilah mau tidak mau kita harus mengakui peran ganda media wayang dalam dunia politik. Pertama, wayang dijadikan media untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat dan kedua, wayang memposisikan diri di pihak korektor akan jalannya suatu pemerintahan. Oleh karena itu tidak heran mana kala kita lihat seorang Presiden minta dipentaskan wayang semalam suntuk di Istana Merdeka. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan jika jagat wayang telah melegitimasi kekuasaannya, maka akan meningkatkan kredibilitasnya di mata masyarakat jawa.

Dengan terbukanya mata santri akan jagat wayang diharapkan akan menambah pemahaman filosofi akan kehidupan wayang. Tidak salah bukan jika seorang santri mencoba belajar memahami arti kehidupan lewat karakteristik wayang yang dipentaskan karena wayang sungguh masih eksis dan punya pengaruh di masyarakat jawa?.

Oleh: Supriyanto AB, Santri Pesantren Al-Munawwir komplek Nurussalam Putra
Sumber: www.almunawwir.com
0 Komentar untuk "Kesinambungan antara Islam dengan Budaya"

Back To Top