::: Simak berbagai info menarik melalui twitter dan facebook Ltn Pcnu Klaten Info pemasangan iklan, hubungi email ltnklaten@gmail.com :::

Website Resmi PCNU Kab. Klaten

KH Muhammad Manshur, Teladan Umat dari Klaten

NU Klaten~ Salah satu kyai sepuh asal Klaten yang hingga saat ini namanya masih harum ialah KH Muhammad Manshur. Beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren Popongan di Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. 

Kiai Manshur merupakan putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak. Kepada ayahnya inilah Mbah Mansur belajar agama sejak usia beliau.Memasuki usia remaja, Mbah Mansur belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris. 

Berdasarkan penuturan para santri dan sesepuh Dusun Popongan, men kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda di ambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Saat itu Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Oleh karena Manshur merupakan alumni pondok pesantren, Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. 

Mbah Manshur mengajar, pada awalnya, hanya berupa majelis kecil. Majelis tersebut terus berkembang karena jumlah santrinya yang terus bertambah. Haji Fadlil kemudian berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.

Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat. Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Tarekat Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut. 

Salah satu murid Mbah Manshur yang yang cukup terkenal ialah Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid tarekat, Kiai Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika Kiai Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.

Mbah Manshur wafat tahun 1955. Setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Baqni Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang. Setelah Mbah Manshur wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan tarekat dipegang oleh cucunya, Kiai Salman, dan Gus Multazam bin Salman Dahlawi.

Dikutip dari tulisan Syamsul Bakri, NU Online
Tag : Tokoh
0 Komentar untuk "KH Muhammad Manshur, Teladan Umat dari Klaten"

Back To Top